A1news.co.id|Palembang – Langkah politik KSH dalam pencalonan Ketua Umum Pengurus Wilayah Pelajar Islam Indonesia (PW PII) Sumatera Selatan kian kontroversial.
Setelah gagal menjalankan tugas sebagai Ketua OC Advance, KSH kini diketahui bermanuver dengan berpindah posisi menjadi Steering Committee (SC).
Langkah ini dituding sebagai upaya strategis untuk mengamankan kepentingannya menuju kursi nomor satu di PW PII Sumsel.
Meninggalkan Kekacauan, Mengincar Aturan
Kepindahan KS ke jajaran SC menuai kritik pedas dari internal organisasi. Pasalnya, kepindahan ini dilakukan setelah dirinya dianggap gagal total sebagai Ketua OC Advance Training yang tidak terlaksana, serta mundurnya KSH sebagi Ketua OC Konferensi Wilayah (Konwil).
Bukannya menyelesaikan tanggung jawab teknis yang berantakan, KSH justru dinilai mencari “posisi aman” di SC. Posisi ini dianggap strategis bagi KSH untuk ikut menentukan aturan main, kriteria calon, dan jalannya Konwil agar menguntungkan ambisinya maju sebagai calon Ketua Umum.
Rekam Jejak Mundur dan “Gila Jabatan”
Tudingan bahwa KSH hanya mengejar kekuasaan semakin kuat mengingat riwayatnya yang pernah mengundurkan diri dari kepengurusan PW PII Sumsel periode 2021-2023. Para kader menilai ada pola yang konsisten: KSH akan pergi saat tugas terasa berat, namun akan muncul dan memanipulasi posisi saat ada peluang jabatan tinggi.
“Ini taktik yang sangat transparan. Dia meninggalkan tanggung jawab OC yang berantakan, lalu masuk ke SC untuk mengatur jalannya sidang demi ambisi pribadinya menjadi Ketua Umum. PW PII Sumsel tidak butuh pemimpin yang hanya pandai bersiasat tapi memiliki mentalitas pengundur diri,” ujar krisna ketum pd pii pali.
Krisis Kepercayaan Kader
Manuver KSH yang berpindah menjadi SC di tengah kegagalan agenda organisasi dianggap sebagai bentuk penghinaan terhadap komitmen berorganisasi. Mentalitas “gila kekuasaan” ini dikhawatirkan akan merusak tatanan demokrasi di tubuh PII Sumsel.
Krisna menyerukan pengawasan ketat terhadap kinerja SC agar tidak disalahgunakan sebagai alat politik praktis oleh KSH. “Kami butuh pemimpin yang berdarah-darah di lapangan, bukan yang hobi mengundurkan diri lalu muncul kembali sebagai pengatur skenario kekuasaan.(Haris’s Team)






















