{"id":30387,"date":"2025-04-27T10:55:58","date_gmt":"2025-04-27T10:55:58","guid":{"rendered":"https:\/\/a1news.co.id\/?p=30387"},"modified":"2025-04-27T10:55:58","modified_gmt":"2025-04-27T10:55:58","slug":"dialog-publik-kammi-sumut-demokrasi-milik-para-elite","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/a1news.co.id\/index.php\/2025\/04\/27\/dialog-publik-kammi-sumut-demokrasi-milik-para-elite\/","title":{"rendered":"Dialog Publik KAMMI Sumut, Demokrasi Milik Para Elite"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"color: #0000ff;\">A<span>1news.co.id|<span style=\"color: #ff0000;\">Medan<\/span><\/span><\/span>\u00a0&#8211; Demokrasi di Indonesia saat ini demokrasinya para elite. Demokrasi di Indonesia tetap ada tapi setengah yang dimiliki para elite. Begitu juga politik kita milik para elite.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Demikian disampaikan Pengamat Politik UINSU, Dr Faisal Riza, MA pada paparannya dalam Dialog Publik Analisis Kritis Terhadap Kondisi 6 Bulan Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto yang diselenggarakan Pengurus Wilayah Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (PW-KAMMI) Sumatera Utara, Sabtu (26\/4) dia Rumoh Kupi Jalan Gajah Mada Medan.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>&#8220;Proses demokrasi di Indonesia itu ada yang bilang separoh otoriter. Tapi para akademisi belum ada yang benar-benar mengatakan demokrasi kita hancur.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Demokrasi kita ini sekarang demokrasinya para elite. Demokrasinya tetap ada tapi setengah yang dimiliki para elite. Begitu juga politik kita milik para elite,&#8221;jelasnya.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Hadir sebagai Narasumber dalam dialog publik tersebut diantaranya, Praktisi dan Pengamat Hukum, Irwansyah, SH, MH, Praktisi Pendidikan, Putra Rajanami, S.Pd dan Kabid Kebijakan Publik (KP) KAMMI Sumut, Irham S Rambe, SH.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Lebih jauh, atraksi-atraksi elite kita sekarang ini tidak diorkestrasi secara menarik. Jadi cenderung bising dan kacau. Saat ini kita hanya berharap pada perubahan strategi perombakan kabinet.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Orang-orang yang berpengalaman harus dimaksimalkan. &#8220;Peran kita sebagai mahasiswa dan masyarakat sipil tetap kita kerjakan dengan mengontrol akrobat politik yang dipertontonkan para elite,&#8221;jelasnya.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Pengamat Hukum, Irwansyah, SH, MH, dalam paparannya mengatakan, hukum tidak terbentuk begitu saja tapi ada proses politik. Yang harusnya tidak boleh menyampingkan hukum yang sudah ada.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Tapi dalam praktiknya sering sekali hukum dan etika diabaikan sehingga proses politik terjadi penyimpangan dalam tujuan hukum yang harusnya memiliki kepastian, keadilan dan kemanfaatan.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>&#8220;Pengalaman hukum kita masih berorientasi pada kekuasaan bukan pada apa yang menjadi tujuan hukum yakni, kepastian, keadilan dan kemanfaatan.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Keadilan hukum masih jauh dari harapan. Persoalan budaya hukum kita tidak menimbulkan dominasi keadilan publik. Budaya hukum kita masih rendah,&#8221;bebernya.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Sementara itu, Praktisi Pendidikan, Putra Rajanami, S.Pd dalam paparannya menyoroti masalah kualitas pendidikan di Indonesia.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Menurutnya, masih ada sekitar 26 persen fasilitas pendidikan yang harus diperbaiki. Begitu juga dengan kualitas tenaga pendidik kita juga harus mendapat perhatian.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>&#8220;Saat ini pemerintah sedang fokus pada program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menyedot anggaran besar.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Sementara itu, masih banyak sektor lain yang perlu mendapat perhatian seperti misalnya dalam pendidikan masih ada 26 persen fasilitas pendidikan yang harus diperhatikan,&#8221;ungkapnya.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>&#8220;Begitu juga dengan kualitas peserta didik juga harus diperbaiki. Sebab tidak ada jaminan para peserta didik yang tersentuh program MBG, kualitas pendidikannya juga baik,&#8221;katanya lagi.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Belum lagi persoalan kurikulum yang menurut Putra Rajanami, Kurikulum Merdeka ini belum ada dampaknya. Berubah kurikulum pendidikannya masih sama.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>&#8220;Harapannya kurikulum tidak usah berubah karena para peserta didik jadi korban kurikulum yang sering berubah. Inkonsistensi pemerintah dalam membuat kurikulum yang permanen menjadikan sistem pendidikan kita jalan di tempat,&#8221;sebutnya.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Kabid Kebijakan Publik (KP) KAMMI Sumut, Irham S Rambe, SH dalam pemaparannya menjelaskan, kita lihat hari ini komunikasi politik Presiden Prabowo dengan Kabinetnya belum maksimal.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Untuk itu tugas kita bersama untuk mengkritisi hal-hal yang belum berjalan maksimal demi terwujudnya pemerintahan yang berpihak pada rakyat.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Sebelumnya, Ketua PW KAMMI Sumut, Wira Putra, SS dalam sambutannya mengatakan, beberapa waktu lalu pada 100 hari kerja presiden Prabowo kita memberikan apresiasi pada pemerintahan Prabowo-Gibran.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Hari ini momentum 6 bulan pemerintahan Prabowo- Gibran kita ingin menganalisis evaluasi dan memberi masukan terhadap program yang telah berjalan seperti Makan Bergizi Gratis (MBG).<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Begitu juga dengan efisiensi anggaran yang masuk kedalam segala aspek termasuk aspek pendidikan. Mahasiswa harus turut mengawal bagaimana efisiensi bisa berjalan maksimal.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>&#8221; Disini kita coba menganalisa kembali untuk memberikan masukan. Karena kita melihat hari ini adanya kelemahan di sektor ekonomi. Begitu juga dgn aspek demokrasi yg mengalami penurunan,&#8221;tukasnya.(Tim)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>A1news.co.id|Medan\u00a0&#8211; Demokrasi di Indonesia saat ini demokrasinya para elite. Demokrasi di Indonesia tetap ada tapi setengah yang dimiliki para elite. Begitu juga politik kita milik para elite. &nbsp; Demikian disampaikan Pengamat Politik UINSU, Dr Faisal Riza, MA pada paparannya dalam Dialog Publik Analisis Kritis Terhadap Kondisi 6 Bulan Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto yang diselenggarakan Pengurus [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":30388,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[2],"tags":[],"class_list":["post-30387","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-berita"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/a1news.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/30387","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/a1news.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/a1news.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/a1news.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/a1news.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=30387"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/a1news.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/30387\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":30389,"href":"https:\/\/a1news.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/30387\/revisions\/30389"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/a1news.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/30388"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/a1news.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=30387"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/a1news.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=30387"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/a1news.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=30387"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}