{"id":33297,"date":"2025-06-05T11:52:29","date_gmt":"2025-06-05T11:52:29","guid":{"rendered":"https:\/\/a1news.co.id\/?p=33297"},"modified":"2025-06-05T11:52:29","modified_gmt":"2025-06-05T11:52:29","slug":"sungguh-malang-nasib-seorang-warga-desa-tembong-kabupaten-pandeglang","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/a1news.co.id\/index.php\/2025\/06\/05\/sungguh-malang-nasib-seorang-warga-desa-tembong-kabupaten-pandeglang\/","title":{"rendered":"Sungguh Malang Nasib Seorang Warga Desa Tembong Kabupaten Pandeglang"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"color: #0000ff;\">A1news.co.id|<span style=\"color: #ff0000;\">Pandeglang<\/span><\/span> &#8211; Sungguh ironis, para Jurnalis menemukan hunian salah satu warga Pandeglang Provinsi Banten yang jauh dari kata layak huni.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Rombongan para wartawan terpana pada satu rumah milik warga yang sangat tidak layak huni, patut diduga tidak pernah tersentuh\/terdata oleh Pemerintah setempat untuk mendapatkan program nasional bedah rumah di propinsi Banten, 04\/06\/2025.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Terpantau Tim Jurnalis kondisi rumah yang ditempati ingiya yang beranak 4 (empat) bersama Burhan suaminya yang tercatat sebagai warga kampung Galaya RT-RW 03-05 Pandeglang Propinsi Banten sungguh memprihatikan kondisi rumah\/huniaan mereka saat ini.<\/p>\n<p><img fetchpriority=\"high\" decoding=\"async\" class=\"alignnone size-full wp-image-33300\" src=\"http:\/\/a1news.co.id\/wp-content\/uploads\/2025\/06\/IMG-20250605-WA0136.jpg\" alt=\"\" width=\"692\" height=\"392\" srcset=\"https:\/\/a1news.co.id\/wp-content\/uploads\/2025\/06\/IMG-20250605-WA0136.jpg 692w, https:\/\/a1news.co.id\/wp-content\/uploads\/2025\/06\/IMG-20250605-WA0136-300x170.jpg 300w\" sizes=\"(max-width: 692px) 100vw, 692px\" \/><\/p>\n<p>Gubuk reyot yang hampir roboh dan atap yang bocor ketika musim hujan tiba suatu pemandangan yang miris ditengah kayanya Nusantara.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Hal itu sepertinya tidak pernah tersentuh\/terdata sebagai penerima program Rutilahu\/bedah rumah yang telah berjalan dan dicanangkan oleh pemerintah Kabupaten Pandeglang.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Miris, Ingiya yang telah puluhan tahun tinggal di kampung tersebut,dan kegiatan sehari harinya menunggu adanya tetangga setempat yang membutuhkan jasa dirinya untuk mencuci pakaian.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Dan suaminya\/Burhan yang bekerja serabutan, dengan besaran upah kerja yang mereka terima sehari-harinya hanya dapat untuk membeli kebutuhan makan.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>&#8220;Jangankan untuk memperbaiki rumah, untuk makan sehari-hari saja keluarga saya sangat kesulitan.&#8221; Akunya Burhan yang didampingi Ingiya\/istri mengatakan kepada awak media.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Burhan dan istrinya sangat mengharapkan uluran tangan serta perhatian dari Pemerintah Kabupaten Pandeglang Provinsi Banten maupun pihak Swasta agar sudi kiranya membantu, untuk mendapatkan program Rutilahu\/bedah rumah.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Agar rumah yang ia tempati menjadi layak huni,&#8221; Ucapnya dengan tatapan mata yang berkaca-kaca<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Sementara ditempat terpisah Adang Kosasi SPD, selaku kepala Desa menuturkan kepada Jurnalis, Adang membenarkan bahwa keluarga ingiya\/Burhan adalah warganya sendiri, yang mana keadaan rumah\/ huniannya sangat Miris, Ujar sedih.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Dan Adang pun sangat berharap agar pihak terkait\/Pemerintah kabupaten Pandeglang dapat dengan secepatnya membantu perbaikan rumah warganya agar layak huni. Harapnya.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>&#8220;Baik itu dari program Pemerintah Kabupaten\/dari batnas serta program pemerintah lainnya. Harapannya segera terealisasi, karena kondisi huniaan mereka sangat memprihatinkan, pungkas Adang Prihatin terhadap warganya.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Pantauan dan temuan tim awak media (GWI) di lapangan,dan menurut pengakuan ingiya dan Burhan sendiri.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Keluarganya hanya mendapat bantuan pemerintah program PKH, yang berbentuk dana\/uang sebesar Rp, 350 ribu rupiah rupiah pertahunnya.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Dan dana tersebut ia pergunakan untuk pembiayaan anaknya bersekolah. Ucapnya sedih sambil mengusap butiran bening menetes melalui kelopak matanya.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Dirinya mengakui, adapun penghasilan sehari-harinya hanya mendapatkan uang 30 ribu rupiah dengan minimnya pendapatan keluarga mereka sehingga cuma dapat buat makan sehari-hari aja, Ujarnya.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Dan yang paling saya khawatirkan sekali kondisi rumah saya yang sudah reyot, apabila musim penghujan atapnya bocor.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Dan paling ditakutkan Ingiya beserta anak-anaknya, rumah saya ambruk, karena material nya sudah pada keropos, tiang serta dindingnya yang terbuat dari kayu dan papan bekas. Ungkapnya dengan raut wajah memelas.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>&#8220;Sebenarnya saya malu menceritakan kekurangan kami ini, tambah Ingiya dengan nada lirih.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Anwar masyarakat\/warga setempat, sangat kasihan melihat kondisi keluarga ingiya yang sudah sekian lamanya tinggal\/ puluhan tahun berdemosili disini, tetapi kondisi huniaannya sungguh miris, serta kehidupan Ingiya dan Burhan sekeluarga sangat serba kekurangan dalam hal apapun, Paparnya.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Sehingga&#8221;Masyarakat pun turut memohon kepada Dinas sosial (dinsos) Kabupaten\/ Pusat, semoga segera turun ke daerah,dan dapat melihat langsung kondisi huniaan ingiya sekeluarga, yang sangat membutuhkan bantuan dari pemerintah pusat maupun kabupaten Pandeglang, Tandasnya.&#8221; (Tim)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>A1news.co.id|Pandeglang &#8211; Sungguh ironis, para Jurnalis menemukan hunian salah satu warga Pandeglang Provinsi Banten yang jauh dari kata layak huni. &nbsp; Rombongan para wartawan terpana pada satu rumah milik warga yang sangat tidak layak huni, patut diduga tidak pernah tersentuh\/terdata oleh Pemerintah setempat untuk mendapatkan program nasional bedah rumah di propinsi Banten, 04\/06\/2025. &nbsp; Terpantau [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":33299,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[2],"tags":[],"class_list":["post-33297","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-berita"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/a1news.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/33297","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/a1news.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/a1news.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/a1news.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/a1news.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=33297"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/a1news.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/33297\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":33301,"href":"https:\/\/a1news.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/33297\/revisions\/33301"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/a1news.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/33299"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/a1news.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=33297"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/a1news.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=33297"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/a1news.co.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=33297"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}