MENU

Salurkan Mesin Jahit Dan Alat Usaha, Disperindagkop Aceh Singkil : Untuk Penguatan Ekonomi Masyakarat

3 menit membaca View : 1
Admin
Berita - 23 Sep 2025

A1news.co.id|Aceh Singkil – Di tengah upaya pemerintah daerah untuk mendorong pertumbuhan ekonomi dan memperkuat sektor ekonomi kerakyatan, Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi, dan Usaha Kecil Menengah (Disperindagkop) Kabupaten Aceh Singkil kembali mengambil langkah konkret.

 

Melalui program hibah alat usaha, Disperindagkop dan UKM menyalurkan bantuan berupa mesin jahit dan alat masak kepada para pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), yang dinilai menjadi tulang punggung perekonomian lokal.

 

Penyaluran bantuan ini dilakukan pada Selasa (23/9) di Kantor Disperindagkop Aceh Singkil, dan dipimpin langsung oleh Kepala Dinas, H. Malim Dewa, SE., M.Si.

 

Suasana penyerahan berlangsung hangat dan penuh harapan, dengan antusiasme dari para penerima manfaat yang datang dari berbagai kecamatan.

 

Salah satu penerima, Asmardin, warga Kecamatan Gunung Meriah, tak bisa menyembunyikan rasa syukurnya. Di tengah keterbatasan modal dan sarana produksi, bantuan ini menjadi angin segar bagi usahanya yang selama ini ditekuni dengan alat seadanya.

 

“Saya senang sekali menerima bantuan ini. Mesin jahit ini akan saya gunakan untuk mengembangkan usaha kecil saya. Selama ini kami mengandalkan alat lama yang sudah sering rusak. Semoga ini bisa meningkatkan produksi dan membantu mencukupi kebutuhan keluarga,” ujarnya.

 

Ia juga menyampaikan terima kasih kepada pemerintah daerah, khususnya kepada Disperindagkop, yang dianggap benar-benar memperhatikan pelaku usaha kecil.

 

“Semoga bantuan seperti ini bisa terus berlanjut. Tidak semua orang punya akses ke modal, dan bantuan seperti ini sangat kami harapkan,” tambahnya.

 

Kebijakan berbasis kebutuhan masyarakat

dalam keterangannya, Kepala Disperindagkop H. Malim Dewa menegaskan bahwa penyaluran bantuan ini bukan sekadar program rutin.

 

Tetapi hasil dari identifikasi langsung kebutuhan pelaku UMKM di lapangan. Menurutnya, bantuan disesuaikan dengan hasil verifikasi dan Surat Keputusan (SK) hibah yang telah selesai diproses.

 

“Untuk hari ini, kami fokus menyerahkan bantuan mesin jahit dan alat masak karena SK-nya sudah rampung. Tapi ke depan, kami juga akan menyalurkan bantuan lain seperti kompor gas, mesin cuci, blower keong untuk pengolahan kulit lokan, setrika, dan tong UMKM,” jelas Malim Dewa.

 

Bantuan tambahan tersebut, kata Malim, masih dalam tahap verifikasi di bagian hukum sebelum SK hibah dapat diterbitkan. Ia memastikan seluruh proses dilakukan secara transparan dan sesuai ketentuan perundang-undangan.

 

“Kami ingin memastikan bahwa bantuan ini benar-benar tepat sasaran dan memberi dampak nyata bagi peningkatan ekonomi masyarakat,” tegasnya.

 

UMKM di Aceh Singkil selama ini menghadapi berbagai tantangan, mulai dari keterbatasan modal, minimnya akses teknologi, hingga belum optimalnya pemasaran produk.

 

Dalam konteks inilah, bantuan alat produksi seperti mesin jahit memiliki arti yang besar.

Menurut pengamat ekonomi daerah, bantuan semacam ini dapat menjadi bentuk intervensi positif pemerintah, asalkan dibarengi dengan pelatihan, pendampingan, serta akses pasar.

 

Salah satu aktivis pemberdayaan ekonomi lokal, Rizal Fahmi, menyebut bahwa program seperti ini harus menjadi bagian dari strategi jangka panjang.

 

“Pemberian alat usaha itu penting, tapi yang lebih penting adalah membangun ekosistem yang mendukung.

 

UMKM butuh pelatihan manajemen, akses bahan baku murah, serta kemudahan pemasaran. Jangan sampai alatnya ada, tapi tidak dimanfaatkan maksimal karena tidak ada pendampingan,” kata Fahmi.

 

Program bantuan Disperindagkop ini memang belum bisa menjangkau semua pelaku UMKM, namun menjadi langkah awal yang konkret dan perlu diapresiasi.

 

Di tengah keterbatasan anggaran, pemerintah daerah mencoba untuk tetap hadir di tengah masyarakat.

 

Dengan menjahit harapan melalui mesin-mesin baru, dan menenun masa depan pelaku usaha kecil lewat perhatian nyata, Aceh Singkil terus menunjukkan bahwa pembangunan ekonomi tak harus selalu dimulai dari atas – tapi justru dari bawah, dari masyarakat kecil yang gigih bertahan dan berjuang. (EW)

Bagikan Disalin

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

CLOSE ADS