A1news.co.id|Aceh – Dalam pandangan orang Gayo, alam bukan objek untuk dikuasai, melainkan mitra hidup. Karena itu, resam tidak sekadar kebiasaan, tetapi sistem etika ekologis yang lahir dari pengalaman lintas generasi dalam membaca alam, musim, dan batas kehidupan.
Di sinilah peran Keujurun, bukan orang paling kuat, melainkan orang yang paling mengerti batas.
Kelima falsafah ini sesungguhnya adalah peta keseimbangan ruang hidup urang gayo yang sudah tertanam sejak dahulu.
1. Wih Ken Aunen(Air ditempatkan pada tempatnya yang menjadi sumber kehidupan)
Hakikatnya: Air adalah urat nadi kehidupan, bukan komoditas.
Dalam resam Gayo: Sumber air/sungai tidak boleh disentuh sembarangan. Hulu dijaga, bukan dieksploitasi. Aktivitas manusia menyesuaikan air, bukan sebaliknya.
Makna terdalamnya: Air harus mengalir bebas agar kehidupan tidak tersendat.
Secara ekologis, ini adalah: Perlindungan daerah tangkapan air Kesadaran hidrologi alami Mitigasi bencana (banjir, longsor, kekeringan)
Seorang Keujurun akan tahu: Kapan mata air mulai “lelah” dan Kapan aktivitas harus dihentikan agar alam pulih
2. Uten Ken Penorepen (Hutan pada tempat berburu dan ekonomi alam)
Hakikatnya: Hutan adalah ruang ambil secukupnya, bukan ruang untuk di habiskan.
Dalam resam Gayo: Berburu memiliki waktu, lokasi, dan batas. Tidak semua hewan boleh diambil. Tidak setiap musim manusia boleh masuk hutan.
Makna terdalamnya: Rezeki hutan hanya lestari jika diberi waktu bernapas.
Ini merupakan bentuk: Konservasi berbasis kearifan lokal Pengelolaan sumber daya berkelanjutan Larangan eksploitasi berlebihan jauh sebelum istilah “ekologi” dikenal dan urang Gayo sudah memiliki integritas terhadap alam dan lingkungannya.
Peran Keujurun: Menentukan kapan rusa boleh diburu, membaca cuaca dan siklus reproduksi, menghentikan perburuan jika mulai merusak keseimbangan
3. Blang Ken Penjemuren (Sawah pada tempatnya)
Hakikatnya: Pangan tidak boleh mengganggu keseimbangan ruang hidup.
Resam ini menegaskan: Sawah tidak masuk kawasan air, dan Sawah tidak merusak hutan. Aktivitas produksi harus tunduk pada daya dukung alam.
Makna terdalamnya: Makan hari ini tidak boleh mengorbankan hidup esok hari.
Dalam konteks modern, ini mencerminkan: Zonasi lahan Pemisahan kawasan pangan dan industri dalam Perlindungan lahan produktif.
Keujurun berperan: Menentukan lahan yang aman untuk digarap, Menghindari wilayah rawan bencana, Mencegah konflik ruang sejak awal
4. Empus Ken Perutemen (Padang / kawasan pakan dan energi pada tempatnya)
Hakikatnya: Energi dan pakan harus diambil dari ruang yang memang disiapkan alam.
Empus adalah: Ruang cadangan, tempat pemulihan, dan lumbung energi alam—kayu, rumput, dan sumber daya lainnya.
Makna terdalamnya: Alam selalu menyediakan cadangan, asal manusia tidak rakus.
Ini mencerminkan: Manajemen energi tradisional urang Gayo, yaitu Prinsip regenerasi alam Ketahanan komunitas saat krisis.
Peran Keujurun: Menentukan kapan kayu boleh diambil, menentukan dimana bisa ditebang, Mengatur rotasi pemanfaatan serta
Mencegah krisis pakan dan energi.
5. Blang Ken Peruweren(Padang penggembalaan pada tempatnya)
Hakikatnya adalah Ternak harus hidup di ruang yang layak agar manusia hidup bermartabat.
Dalam resam Gayo: Urang Gayo menetapkan lahan khusus untuk penggembalaan ternak dalam jangka panjang. Kawasan ini dijaga dan ditetapkan sebagai cadangan hidup keluarga dan bekal ibadah.
Makna terdalamnya: Kesejahteraan tidak dibangun dari kehabisan, tetapi dari persediaan.
Secara sosial-ekologis, ini berarti: Ketahanan pangan keluarga Keseimbangan antara manusia, ternak, dan alam Jaminan keberlanjutan ekonomi rumah tangga
Peran Keujurun: Menentukan daya tampung penggembalaan, Menjaga agar padang tidak rusak, Menghindari konflik ruang antara ternak dan pertanian
Kesimpulan Hakiki Resam Gayo
Kelima falsafah ini bukan berdiri sendiri, melainkan satu sistem utuh:
Air dijaga → Hutan dilindungi → Pangan aman → Energi tersedia → Cadangan hidup terpelihara
Dan di atas semuanya berdiri satu sosok: Keujurun yaitu Orang yang: Mengerti waktu, Menghormati batas, Berani berkata: “cukup”
Jika resam ini dilanggar, orang Gayo percaya: bukan alam yang marah, tetapi manusia yang lupa diri.
Ferry Siswanto, Penulis adalah Inisiator Konsep Protokol Gayo Lues dan Pemrakarsa Pembangunan Kabupaten Rendah Emisi Wilayah Tengah Aceh.(*)






















