MENU

Tolak Tambang Tolak Kerusakan, Selamatkan Linge Dan Bintang

2 menit membaca View : 1
Admin
Berita - 01 Jul 2026

A1news.co.id|Takengon – Penolakan terhadap rencana aktivitas pertambangan oleh PT Linge Mineral Resource terus memanas.

 

Bagi Sahrial Rajab, mahasiswa asal Bintang sekaligus kader HIMA-ATE, ancaman tambang bukan hanya soal eksploitasi sumber daya alam, tetapi juga cerminan kegagalan pemerintah dalam menjaga ruang hidup rakyat.

 

Menurut Sahrial Rajab, pemerintah seharusnya berdiri di garis depan melindungi lingkungan dan kepentingan masyarakat, bukan justru membuka jalan bagi investasi yang berpotensi merusak tanah, hutan, dan sumber air yang menjadi penopang kehidupan warga Bintang dan Linge.

 

“Pemerintah jangan hanya datang membawa janji kesejahteraan, tetapi menutup mata terhadap ancaman kehancuran.

 

Apa arti pembangunan jika rakyat kehilangan tanah, air, dan masa depan? Negara seharusnya hadir untuk melindungi, bukan memberi ruang bagi kerusakan,” tegas Sahrial.

 

Ia mengkritik sikap pemerintah yang dinilai terlalu mudah memberikan ruang kepada perusahaan tambang tanpa memastikan keterbukaan informasi, kajian lingkungan yang ketat, serta persetujuan penuh dari masyarakat terdampak.

 

Menurutnya, pola seperti ini hanya memperlihatkan bahwa suara rakyat sering kali kalah oleh kepentingan modal.

 

Sahrial menegaskan bahwa jika pemerintah tetap memaksakan proyek tambang tanpa mendengar aspirasi masyarakat, maka pemerintah sedang mempertaruhkan keselamatan ekologis Aceh Tengah demi keuntungan jangka pendek.

 

“Jangan sampai pemerintah baru bergerak ketika hutan sudah gundul, sungai sudah tercemar, dan bencana datang silih berganti. Jika itu terjadi, maka pemerintah juga harus bertanggung jawab atas setiap kerusakan yang lahir dari kebijakan hari ini,” ujarnya.

 

Bagi Sahrial, kawasan Bintang dan Linge bukan ruang kosong untuk dieksploitasi. Wilayah itu adalah sumber kehidupan, identitas masyarakat, dan warisan bagi generasi mendatang.

 

Ia menilai bahwa membiarkan tambang masuk tanpa perlindungan ketat sama saja dengan menggadaikan masa depan rakyat.

 

Karena itu, Sahrial Rajab mendesak pemerintah daerah dan seluruh pemangku kebijakan di Aceh Tengah untuk menghentikan segala proses yang berkaitan dengan pertambangan, membuka ruang dialog secara transparan, dan menempatkan keselamatan lingkungan sebagai prioritas utama.

 

“Kalau pemerintah benar berpihak pada rakyat, dengarkan suara rakyat. Jangan jadikan Bintang dan Linge sebagai korban ambisi ekonomi. Kami menolak tambang, karena kami menolak kehancuran.”(*)

Bagikan Disalin

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

    CLOSE ADS