A1news.co.id|Takengon– Adanya kisruh di UGP mengakibat kan terhambatnya Proses Akademik dan Non Akademik di Universitas Gajah Putih yang mana mahasiswa, dosen Staf engan masuk akibat permasalahan di Universitas Gajah Putih Takengon.
Dari permasalahan yang terjadi ada segelintir orang yang datang entah dari mana seperti ingin menjadi pahlawan dan menguasai Kampus kebanggaan orang gayo.
Hasil dari aspirasi masyarakat gayo yang di titipkan kepada para panitia pendiri UGP yang ingin menciptakan generasi gayo yang bermartabat.
Mustaqim Alumni Fisipol UGP mengatakan oknum oknum yang ingin menjadi pahlawan dan menguasai Universitas Gajah Putih ini nampaknya tidak tepat memanfaatkan situasi yang terjadi saat ini, Karena setiap pernyataannya di media.
Mengeluarkan referensi Tampa tau historis UGP dan masalah yang sedang terjadi dari tahun ketahun, kami merasa beliau hanya melihat dari luar dan mendengar dari orang saja.
Masuknya unsur Pemda di Pembina yayasan sudah tepat dan saya rasa bukan hanya sekedar masuk,
Mereka di titipkan pada posisi pembina mempunyai peran dalam membantu demi kemajuan dan keberlangsungan ugp serta menjadi donatur dalam perkembangan UGP ke depan,
Unsur Pemda masuk sebagai perwakilan dari masyarakat karena memang UGP milik masyarakat.
Mustaqim, menurut analisa kami sebagai alumni yang peduli terhadap Universitas Gajah Putih tidak ada “agenda kegiatan terselubung di balik aksi pencaplokan UGP” yang di sangkakan oleh Presiden Gayo Leader’s Club, Gilang Ken Tawar di media,
Dan malah saya yang curiga terhadap mereka, karna mereka menganggap unsur Pemda lah yang caplok UGP.
Saya kok malah curiga merekalah yang bersikukuh seperti tidak inggin melepaskan UGP dan ingin menguasai UGP sepenuhnya,
Karna hasil musyawarah yang telah beberapa kali di lakukan oleh pembina yayasan sudah mencapai titik jenuh,
Sehingga beberapa pembina yayasan sepakat mengembalikan yayasan UGP kepada Pemda Aceh tengah,
Dan pada saat musyawarah terakhir yang di lakukan di DPRK Aceh tengah semua sudah sepakat ketua pembina digantikan dan dimasukkan unsur Pemda di dalam pembina yayasan UGP.
Dari hasil yang sudah di sepakati itu malah timbul statement baru yang keluarkan oleh ketua pembina yayasan yang lama bahwa mereka tidak mengakui dan menghambat hasil kepekatan untuk masuknya unsur Pemda kedalam pembina dan mempertahan kan dirinya sebagai pembina yayasan.
Ada apa sebenarnya saya curiga ada oknum oknum yang mengendalikan bapak Mustafa Ali.
Karena saat diruang rapat dia mengatakan iya saat telah kembali kekediamanya dia berubah lagi, Seperti ada udang dibalik batu.
Dan Malah kami melihat yayasan versi lama membuat kegaduhan dengan menyusun pengurus dan pengawas yayasan secara tergesa gesa tanpa kesepakatan dan musyawarah kepada pembina lain,
Yang mana kita ketahui bersama hanya 2 pembina yang hadir dalam melakukan musyawarah penyusunan pengurus dan pengawas yayasan pada saat itu. Apakah ini SAH??
Secara analisa saya bahwa orang yang hari ini gotot tidak ingin masuk unsur Pemda dan menjelekan Pemda nampaknya ingin berkuasa dan menguasai UGP, mungkin dugaan saya mudah mudahan ini tidak benar.
Karna Upaya yang dilakukan oleh beberapa pembina yang ingin memasukan unsur Pemda sudah tepat, demi kemajuan, perkembangan dan penegerian Gajah putih, Pungkasnya.(BA)






















