A1news.co.id|Subulussalam– ” Ibu… mohon sampaikan pada pak Pj. Walikota Subulussalam Azhari, S.Ag M.Si dalam waktu dekat akan ada kunjungan Dinas Pendidikan dan Perizinan Satu Pintu Aceh melakukan visitasi terkait izin pendirian dan Izin operasional Sekolah Luar Biasa ( SLB ) Arroyan.
Semua persyaratan administrasi berkas sudah kami upload ke aplikasi sesuai arahan DPMPTSP Aceh, hanya tinggal 1 (satu) hal yang kami khawatirkan mengganjal lolosnya SLB Arroyan dalam visitasi yakni lantai ruang belajar RKB 2 ruang belum di Keramik;
Anak didik kami Anak – anak Istimewa, Anak Berkebutuhan Khusus ( ABK ). Mereka belajar bukan seperti Anak – anak Normal lainnya,
Karena itu kami ruang belajar harus benar – benar layak dan dengan di Keramiknya 2 (dua) RKB ukuran 9 x 18 Meter itu para Guru Istimewa dan Siswa Istimewa SLB Arroyan dapat menjalankan Proses Kegiatan Belajar Mengajar ( PKBM ) dengan nyaman dan layak.
Insha Allah saya akan sampaikan salam Yayasan ke pak Pj. Walikota dan kami juga dari Tim Penggerak PKK akan membantu, enggak banyak, sedikit ada In sha Allah, ujar bu Pj. Walikota Subulussalam “.
Dikesempatan itu, kami juga paparkan bahwa kami dirikan Yayasan Pendidikan & Panti Arroyan yang secara khusus kami peruntukkan bagi Anak – anak ABK, Yatim, Yatim Piatu, Du’afa berlandaskan panggilan Hati Nurani.
Kami Bercita – cita tidak ada Anak yang tidak mendapatkan layanan pendidikan dengan baik, tidak ada anak yang lapar, tidak ada anak yang terlantar, semua anak yang terlahir di dunia ini memiliki hak hidup layak.
Saya Sabirin Siahaan yang dikenal berprofesi sebagai Wartawan & pegiat LSM telah merintis berdirinya yayasan ini sejak tahun 2006 lalu.
Hasil yang saya kumpul dari uang Koran/Media, dari Silaturahmi – silaturrahmi dengan para Pejabat baik Walikota/Wakil Walikota, para Kepala Dinas, Kepala Kampong, Kepala Sekolah, para Kabid SKPK, dan sumber lainnya itulah di Kumpul – kumpul mendirikan Mushalla, Asrama, meratakan dan menimbun lokasi yang dananya tidak sedikit.
Menahan selera/keinginan pribadi itu sudah hal biasa demi mewujudkan angan – angan bisa mengayomi Anak Istimewa, Yatim/Piatu, Fakir Miskin, dan Anak terlantar, hanya itu.
Tidak tertutup kemungkinan kami bisa bangun rumah bagus meski tidak megah bila hidup ini kami pandang mengutamakan kepentingan/kebutuhan pribadi, tapi kenyataannya justru terbalik, kami jual tanah, mobil, sepeda motor dan mewakafkan waktu dan kesempatan untuk itu semua.
Jadi, mohon jangan berprasangka buruk bila selama ini kami berkunjung ke tempat Bapak/Ibu Walikota/Wakil Walikota, Kadis, Kabid, dan Saudara – saudara lainnya untuk memenuhi hasrat pribadi kami sendiri.
Bukan, tapi agar terwujudnya Yayasan di negeri ini yang Benar – benar memberikan pelayanan terbaik, kendati saat ini masih jauh dari kesempurnaan.
Tempo hari saat Kasie Intel Kajari Subulussalam Delfiandi, S.H pernah menyinggung terkait kotak – kotak infak panti asuhan ada kami titip di perkantoran SKPK, ” saya lihat ada kotak panti di kantor – kantor SKPK,
Tapi saat saya goyang kok sepertinya gak ada isinya, katanya, kami jawab, itu bagian dari upaya memenuhi kebutuhan harian anak panti, dan tergantung keikhlasan,
Lantas beliau bilang, ni kami bawa oleh – oleh itu bersama Kajari beserta rombongan sekalian”, Alhamdulillah sudah kami serahkan pada yang berhak atas itu.
Tadi Ibu Pj Walikota juga bertanya hal yang mirip dengan itu, ” bagaimana anda sebagai pendiri dan ketua yayasan memenuhi kebutuhan Panti, Honor Pengurus, Operasional SLB, Honor gurunya dan lain sebagainya, kami katakan dari hasil Jalan – jalan.
Ya dari hasil menjalankan profesi Wartawan dan LSM serta kepedulian dari Kawan – kawan pejabat.
Belum ada pendapatan apa pun bersumber dari APBK, APBA, mau pun APBN selama ini. Dari hasil peras keringat, intinya.
Akhir dari perjuangan kami dirikan yayasan ini, kami ingin tidak ada ABK tidak mendapatkan pelayanan maksimal dan seutuhnya, tidak ada Anak Yatim/Piatu, Fakir, dan Terlantar tidak mendapatkan layanan pendidikan dan ke pengasuhan yang tidak maksimal.
Kami ingin semua Anak – anak itu belajar agama tanpa terbebani biaya sampai mereka mandiri melanjutkan hidup dan tidak sepenuhnya bergantung pada orang lain.
Insha Allah perjuangan untuk itu masih berjalan dan terus berlanjut sampai pada saat detak jantung kami berhenti berdenyut.(Ramona)






















