Aceh Tamiang – Kepala Sub Bagian Kesekretariatan dan Hubungan Masyarakat PT Perkebunan Nusantara (PTPN) IV Regional 6 menjadi salah satu narasumber dalam kuliah umum di Yayasan Islam Aceh Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Kabupaten Aceh Tamiang.
Kuliah Umum dilaksanakan di Aula Terbuka STAI-AT di Jalan Medan – Banda Aceh, KM 138, Desa Tanah Terban, Kecamatan Karang Baru, Kabupaten Aceh Tamiang, Rabu (19/02/2025).
Dalam rangka pembukaan perkuliahan semester genap tahun akademik 2024/2025 STAI menggelar Kuliah Umum dengan judul “Kepemimpinan, Motivasi dan Komunikasi Efektif dalam Penerapan Etika Profesi” dengan tema “Intelektual, Komparatif dan Berkarakter Islam”.
Dipandu oleh moderator yang kondang Dosen Prodi Hukum Pidana STAI Aceh Tamiang, Lukmanul Hakim, SH,I, MH,I dengan narasumber oleh Kepala Bea Cukai Langsa, Sulaiman, SE, M.Si, Kasubbag kesekretariatan dan Humas PTPN IV Regional 6, Muhammad Febriansyah, ST, MM.
Kabag Humas PTPN IV Regional 6, Muhammad Febriansyah, ST, MM, sebelum masuk materi pokok menyampaikan profil karir di PTPN Group dan Demografi PTN IV Regional 6.
“Pembahasan Kuliah Umum lebih diskusi tentang Komunikasi Publik, Komunikasi Massa, Komunikasi Krisis dan Penanganan Media,” ujar Kabag Humas.
Komunikasi Publik menurut Dennis Dijkzeul adalah kegiatan komunikasi yang ditujukan kepada khalayak sasaran untuk memberikan informasi, meningkatkan kepedulian dan mempengaruhi sikap atau perilaku khalayak sasaran.
“Komunikasi publik harus memiliki dua keterampilan; berbicara dan menulis dan memiliki unsur; Informasi, Komunikator, Media, Komunikan, alat ukur, sedangkan sifat komunikasi publik; konsisten, formal dan berorientasi pada tujuan,” ucap Febri sapaan keseharian Kabag Humas PTPN IV Regional 6.
Komunikasi Massa yaitu, setiap bentuk komunikasi yang menyampaikan pernyataan secara terbuka melalui media penyebaran secara tidak langsung dan satu arah kepada masyarakat yang tersebar.
“Adapun fungsinya; Menghibur, meyakinkan, menganugerahkan status, membius, menciptakan rasa kebersatuan, privatisasi. Artinya; pengawasan, penafsiran, pertalian, penyebaran nilai dan hiburan,” papar Febri secara detail yang disambut antusias para penonton.
Sementara Komunikasi Krisis adalah dialog yang terjadi antara perusahaan, instansi, lembaga, serta masyarakat selama dan setelah krisis terjadi, hingga pengumpulan. pengolahan dan penyebaran informasi yang diperlukan untuk mengatasi krisis.
“Untuk memberikan penjelasan, klarifikasi, atau konfirmasi versi lembaga, Instansi atau perusahaan terhadap krisis yang terjadi minimal 40 menit, maksimal 12 jam dengan menggunakan prinsip dasar; respon segera, pesan terbuka dan jujur atau transparan,” terang Febri secara lugas.
Elemen krisis komunikasi komprehensif dari; komunikasi publik, juru bicara, keadaan, pusat media dan informasi, terbuka, fakta dan data.
“Penting yang kita lakukan saat krisis terjadi, seperti; memahami situasi, bentuk tim krisis, tunjuk juru bicara, jujur dan transparan,” tutur Febri di depan para peserta Kuliah Umum.
Sedangkan Media Handling, bagian penting dari pekerjaan kehumasan dengan tujuan melayani, menangani, atau mengatasi media harus utama, baik media cetak maupun elektronik, serta mengelola media internal seperti; situs web dan media sosial.
“Dengan perlu memperhatikan dan memahami dunia media, cara kerja, agenda setting dan framing, serta memiliki keterampilan berbicara seperti; menjawab wartawan, melakukan jumpa pers, membina hubungan baik dengan media, serta keterampilan menulis yaitu; membuat rilis, mengelola website, membuat konten media sosia,” tegas Febri.
Bekal penting, cara kerja dan cara berpikir media, pengaturan agenda dan framing, sudut, jangka waktu, tips penanganan media; tenang dan profesional, hindari kata-kata off the record, rekam percakapan atau foto, kumpulkan data sebanyak-banyaknya, ungkapkan Febriansyah dalam mengakhiri materinya.






















