A1news.co.id|Aceh Utara – Pantun pembuka : Bunga meludi di tepi kali, Melayang harapan menanti janji.
*Hari yang ditunggu*
Sabtu, 15 Oktober 2025, pukul 10.00 WIB. Rumah keluarga Saiful diparang IX Matangkuli Matangkuli dihiasi pita putih‑merah, dan aroma melangit dari bunga melati serta kemenyan menyambut para tamu. Matahari bersinar cerah, menembus dedaunan kelapa yang bergoyang lembut, seakan memberi restu kepada dua insan yang akan mengikat janji.
Pihak Perempuan – Kisah di balibpaksian Motif Aceh
Putri Fajriblya berdiri di ruang rias, menatap bayangan dirinya dalam cermin. Pakaian Aceh yang serasi dengan asseoris kental dengan khasanah Aceh bunga jeumpa wangi diatas kepala putri Fajriebaya sutra bordir bordir melati mengalir di pinggang, menambah elegan pada sosoknya yang masih terasa seperti gadis kecil.
Penata rambut menata sanggul dengan helai-helai kelopak bungong jeumpa sementara ibu dan neneknya sibuk menyiapkan sirih dan pinang yg telah dibuat untuk tamu undangan.
Putri ingat dulu ketika kita masih berlarian di sawah, menukar kembang kelapa dengan janji‑janji manis?”_ bisik nenek, matanya berkilau.
Putri tersenyum, mengingat masa kecil yang penuh tawa. Hatinya berdegup cepat, bukan hanya karena sorotan kamera, melainkan karena satu nama yang selalu muncul dalam setiap doanya:
Saiful mengingat pertemuan pertama mereka di warung kopi desa, ketika secangkir kopi pahit menjadi saksi canggungnya hati.
Saiful kau selalu datang tepat pada waktunya, walau hujan deras atau matahari terik. Hari ini, aku menunggu langkahmu di pelaminan, bukan sekadar sebagai pengantin, tapi sebagai sahabat yang selalu mengerti.”_
Saat melangkah ke pelaminan, Putri merasakan setiap tatapan mata tamu, namun yang paling menenangkan adalah sorakan lembut dari Saiful yang berdiri di sampingnya, menatapnya dengan mata yang berkilau seperti embun pagi.
Pihak Laki – Menanti di Bawah Pelaminan
Putri dengan pakaian Aceh bagai Meukutop di atas kepala bagaikan Teuku Umar yang gagah berani baru pulang dar perang baju hitam sedang menunggu MC merpersilakan tamu wanita dan rombongan.
Setelah MC memplai wanita lalu menyuguhkan tarian ranub lampuan untuk menyambut memplai wanita dan rombongan tari Ranup lampuan ditarikan oleh ana -anak SD yang memukau penonton.menunggu di ujung karpet merah.
Tangannya sedikit bergetar, bukan karena cuaca, melainkan karena kebahagiaan yang meluncur deras. Ia mengingat kembali malam sebelum pernikahan, ketika ia dan Alya duduk di teras rumah, menatap bintang.
Putri kau selalu menjadi cahaya di setiap gelap ku. Besok, aku akan menjadi pelangi yang kau cari ketika hujan turun.”_
Suara dentingan gitar akustik mengalun, menandakan tibanya sang pengantin wanita. Putri menoleh, dan melihat melangkah perlahan, seolah waktu melambat. Dalam hatinya, ia mengucapkan janji yang tak terucapkan:
Saiful_“Aku berjanji akan selalu menjadi tempat berlabuhnya, melindungi setiap tetes air mata, dan menambah kebahagiaan di setiap hari yang kita lalui bersama.”_
Setelah mengucapkan “Saya kabul” dengan suara serak namun mantap, Saiful menatap mata putri merasakan kehangatan yang lebih dalam daripada sekadar kata-kata.
Kebersamaan di Tengah Sorak Sorai
Setelah prosesi resmi selesai, para tamu bersorak, “Selamat!” dan mengalir ke area taman untuk makan bersama.
Panggung kayu dihiasi lentera, dan di sudut, seorang penyanyi akustik membawakan lagu “Bintang di Surga”. Saiful mengangkat gelas champagne, menatap Putri dan berkata:
_kepada istriku, terima kasih telah menjadi sahabat, kekasih, dan inspirasiku. Mari kita tulis bab baru ini dengan cinta yang tak pernah usang.”_
Putri menanggapi dengan senyum, “Kita sudah menulis banyak bab, Saiful. Terima kasih sudah menunggu, dan terima kasih sudah menjadi rumah bagi hatiku.”
Mereka berdua menari perlahan diiringi alunan musik, sementara anak-anak desa berlari mengelilingi mereka, menabur bunga kelapa yang berwarna putih. Di atas meja, hidangan tradisional – nasi kuning, ayam goreng.(Kari Usman)






















