A1news.co.id|Palembang – Dibalik narasi idealisme yang sering didengungkan, Pengurus Wilayah Pelajar Islam Indonesia (PW PII) Sumatera Selatan kini harus menghadapi realitas pahit. Sosok berinisial SW, yang secara struktural dipercaya mengelola napas finansial organisasi sebagai Bendahara Umum, justru terjebak dalam pusaran pinjaman online (pinjol).
Kejadian ini memicu pertanyaan mendasar, bagaimana mungkin seseorang yang tak mampu mengelola keuangan pribadi, diberi mandat menjaga harta organisasi?
Sangat sulit memisahkan antara persoalan pribadi dan jabatan strategis yang melekat pada SW. Sebagai bendahara, ia memiliki akses dan kendali atas aliran dana organisasi. Bagaimana mungkin seorang bendahara umum organisasi bisa terjebak dalam skema pinjaman yang dikenal menjerat dan tidak sehat?
Keterlibatan SW dalam jeratan pinjol bukan sekadar “musibah finansial”, melainkan kegagalan integritas yang fatal bagi seorang pemegang otoritas keuangan. Dalam organisasi kader seperti PII, posisi bendahara adalah titik sentral kepercayaan. Namun, tindakan SW mencerminkan perilaku konsumtif dan ketidakmampuan berpikir panjang karakteristik yang berbanding terbalik dengan kriteria pemimpin yang amanah.
Persoalan ini juga mengungkap lubang besar dalam sistem kaderisasi. PII yang selama ini dikenal sebagai laboratorium kepemimpinan, kini justru menghadapi paradoks di level pimpinan puncaknya. Jika seorang pimpinan wilayah saja bisa kehilangan kontrol atas literasi keuangan pribadinya, hal ini mencerminkan lemahnya skrining moral dan kompetensi di internal organisasi.
Jika PW PII Sumsel tidak segera mengambil tindakan pembersihan total, maka citra organisasi akan terus melekat pada sosok bendahara yang “cacat” secara integritas.(Haris’s team)






















