A1news.co.id|Takengon — Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Takengon-Bener Meriah mengecam keras aksi mogok kerja tenaga kesehatan di RSUD Datu Beru.
HMI menilai gerakan ini bukanlah murni perjuangan kesejahteraan, melainkan sabotase terstruktur yang ditunggangi aktor intelektual haus jabatan.
Ketua Umum HMI Cabang Takengon-BM, Afdhalal Gifari, menegaskan bahwa mogok kerja di fasilitas vital adalah bentuk pengkhianatan terhadap sumpah profesi.
“Kami mencium aroma ‘Operasi Senyap’. Hak nakes dijadikan senjata politik oleh oknum internal untuk menggoyang kursi Direktur. Ini menjijikkan karena nyawa rakyat kecil dijadikan sandera demi ambisi kursi kekuasaan,” tegas Afdhalal.
Poin Tegas HMI:
Provokasi Busuk: HMI menduga kuat ada “biang kerok” di dalam manajemen yang sengaja memicu chaos demi menjatuhkan kredibilitas pimpinan RSUD.
Kejahatan Birokrasi: Menahan pelayanan publik saat anggaran tersedia adalah bentuk kesengajaan yang mengarah pada tindak pidana penelantaran pasien.
Ultimatum: HMI tidak akan membiarkan rakyat menjadi tumbal pertarungan elit. Jika pelayanan tidak segera dinormalisasi, HMI akan menggalang massa untuk mengevaluasi paksa birokrasi yang gagal.
“Jangan bermain api dengan nyawa manusia! Jika elit hanya sibuk sikut-sikutan sementara pasien terlantar, HMI pastikan kalian tidak akan pernah duduk tenang di kursi jabatan itu,” tutup Afdhalal dengan nada menantang.(*)






















