A1news.co.id|Bener Meriah – Perjalanan panjang itu dimulai dari Banda Aceh. Waktu seakan berjalan lambat ketika roda kendaraan kami terus berputar selama kurang lebih 14 jam, menembus jalur yang tak sepenuhnya ramah.
Di beberapa titik, longsoran tanah masih menyisakan luka. Jalan amblas memaksa kendaraan melambat, sementara padatnya arus lalu lintas semakin menambah letih perjalanan.
Gerimis turun pelan syahdu, namun menyimpan cerita pilu di baliknya.
Sepanjang perjalanan, pandangan saya tak lepas dari setiap sudut jalan yang kami lalui.
Dalam diam, imajinasi membawa saya kembali ke saat bencana itu terjadi. Bagaimana kepanikan menyelimuti warga?
Ke mana mereka berlari mencari tempat teraman?
Dalam situasi genting seperti itu, hati manusia pasti dipenuhi kekhalutan, bingung, takut, dan berharap keselamatan datang lebih cepat dari bahaya.
Di tengah keterbatasan tersebut, pemandangan yang menghangatkan hati justru hadir dari puluhan Anggota TNI terlihat berjibaku membangun jembatan darurat.
Dengan semangat tanpa henti, mereka memastikan jalur tetap bisa dilalui. Hal tersebut mengingatkanku bahwa di tengah bencana, jiwa kemanusiaan selalu menemukan jalannya sendiri.
Setibanya di Bener Meriah, lelah kami seakan terbayar oleh panorama yang tersaji. Gunung Burni Telong berdiri gagah, indah, sekaligus menyimpan kewaspadaan.
Gunung berapi itu baru saja dinyatakan berstatus Siaga III. Mendengar kabar tersebut, tak ada yang bisa kami lakukan selain memanjatkan doa semoga situasi tetap aman dan Bener Meriah beserta daerah sekitarnya selalu dalam lindungan Allah SWT.
Selain kabar aktivitas gunung, hawa dingin juga menyambut kami. Suhu rendah langsung menusuk kulit kami, para relawan PMI DKI Jakarta yang datang untuk melaksanakan operasi kemanusiaan merespons bencana banjir dan longsor di Bener Meriah.
Saat berbicara, uap tipis keluar dari mulut tanda dingin benar-benar nyata. Ketika saya melirik ponsel, suhu menunjukkan angka 14 derajat Celsius.
Selain itu, pengalaman ke kamar mandi pun menjadi cerita tersendiri. Baru menyentuh air, tubuh langsung menggigil.
Airnya terasa seperti es, membuat siapa pun yang tak terbiasa harus menarik napas dalam-dalam sebelum menggunakannya.
Namun demikian, hawa dingin, lelah, dan perjalanan panjang ini bukanlah sebuah penghalang. Semua terbayar oleh satu tujuan, yakni hadir untuk Kemanusiaan.
Di tanah Gayo yang dingin dan indah ini, kami belajar bahwa kepedulian selalu lebih hangat daripada suhu apa pun.(*)






















