• Latest
  • Trending
  • All
  • News
  • Business
  • Politics
  • Science
  • World
  • Lifestyle
  • Tech
Reje Kampung Tingkem Benyer Diduga Diskriminatif, Pemutusan Air Bersih Dinilai Tidak Adil

Reje Kampung Tingkem Benyer Diduga Diskriminatif, Pemutusan Air Bersih Dinilai Tidak Adil

1 Maret 2026
Saifullah Lanjut Pimpin ISEI Cabang Langsa

Saifullah Lanjut Pimpin ISEI Cabang Langsa

1 Maret 2026
Polsek Bunut Laksanakan Minggu Kasih, Jaga Toleransi Antar Umat Beragama

Polsek Bunut Laksanakan Minggu Kasih, Jaga Toleransi Antar Umat Beragama

1 Maret 2026
Polsek Kerumutan Gelar Minggu Kasih di GPIB Eben Haezer, Tegakkan Toleransi Beragama

Polsek Kerumutan Gelar Minggu Kasih di GPIB Eben Haezer, Tegakkan Toleransi Beragama

1 Maret 2026
Polsek Teluk Meranti Gelar Minggu Kasih, Imbau Remaja Tidak Nongkrong Malam Hari

Polsek Teluk Meranti Gelar Minggu Kasih, Imbau Remaja Tidak Nongkrong Malam Hari

1 Maret 2026
Polsek Pangkalan Lesung Gelar Minggu Kasih, Bahas Hoaks dan Keamanan Perkebunan Sawit

Polsek Pangkalan Lesung Gelar Minggu Kasih, Bahas Hoaks dan Keamanan Perkebunan Sawit

1 Maret 2026
Polsek Langgam Laksanakan Patroli Antisipasi C3, Pastikan Keamanan Wilayah

Polsek Langgam Laksanakan Patroli Antisipasi C3, Pastikan Keamanan Wilayah

1 Maret 2026
Polsek Kuala Kampar Gelar Minggu Kasih, Bahas Hoaks dan Kenakalan Remaja

Polsek Kuala Kampar Gelar Minggu Kasih, Bahas Hoaks dan Kenakalan Remaja

1 Maret 2026
Minggu Kasih di HKBP Parsaoran, Polsek Pangkalan Kuras Sampaikan Pesan Karhutla dan Anti-Narkoba

Minggu Kasih di HKBP Parsaoran, Polsek Pangkalan Kuras Sampaikan Pesan Karhutla dan Anti-Narkoba

1 Maret 2026
Polsek Ukui Laksanakan Patroli Pengamanan Ibadah Gereja, Ciptakan Situasi Aman dan Kondusif

Polsek Ukui Laksanakan Patroli Pengamanan Ibadah Gereja, Ciptakan Situasi Aman dan Kondusif

1 Maret 2026
Polsek Pangkalan Kerinci Gelar Ibadah Minggu Kasih di GBI Maharaja

Polsek Pangkalan Kerinci Gelar Ibadah Minggu Kasih di GBI Maharaja

1 Maret 2026
Isu Intervensi Perkuat Perlawanan, AMMB Siap Bongkar Fakta Di Bener Meriah

Isu Intervensi Perkuat Perlawanan, AMMB Siap Bongkar Fakta Di Bener Meriah

1 Maret 2026
Perduli Bencana, Kepala Kantor Imigrasi Takengon Serahkan Bantuan Sumur Bor 

Perduli Bencana, Kepala Kantor Imigrasi Takengon Serahkan Bantuan Sumur Bor 

28 Februari 2026
  • Home
    • Home – Layout 1
    • Home – Layout 3
    • Home – Layout 2
    • Home – Layout 4
    • Home – Layout 5
  • Redaksi
  • Berita
  • Daerah
  • Kemenkumham
  • Kesehatan
  • Nasional
  • Olahraga
  • Opini
  • Peristiwa
  • Politik
Minggu, Maret 1, 2026
  • Login
  • Home
    • Home – Layout 1
    • Home – Layout 3
    • Home – Layout 2
    • Home – Layout 4
    • Home – Layout 5
  • Redaksi
  • Berita
  • Daerah
  • Kemenkumham
  • Kesehatan
  • Nasional
  • Olahraga
  • Opini
  • Peristiwa
  • Politik
Aceh Investigasi News
No Result
View All Result
Aceh Investigasi News
No Result
View All Result
  • Home
  • Redaksi
  • Berita
  • Daerah
  • Kemenkumham
  • Kesehatan
  • Nasional
  • Olahraga
  • Opini
  • Peristiwa
  • Politik
Home Berita

Reje Kampung Tingkem Benyer Diduga Diskriminatif, Pemutusan Air Bersih Dinilai Tidak Adil

by Admin
1 Maret 2026
in Berita
0
Reje Kampung Tingkem Benyer Diduga Diskriminatif, Pemutusan Air Bersih Dinilai Tidak Adil
503
SHARES
1.4k
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

A1news.co.id|Bener Meriah – Kebijakan pemutusan aliran air bersih di Kampung Tingkem Benyer, Kecamatan Bukit, Kabupaten Bener Meriah, menuai sorotan.

 

Sejumlah warga menilai tindakan tersebut tidak adil dan terkesan diskriminatif, karena dilakukan tanpa mekanisme yang transparan dan tanpa pemberitahuan yang jelas kepada seluruh masyarakat.

 

Polemik ini bermula dari pengelolaan sarana air bersih yang dibangun menggunakan Dana Desa Tahun 2020. Sejak awal, warga mengaku sudah dibebani biaya pemasangan sambungan ke rumah sebesar Rp1.500.000 bagi yang baru pindah ke desa tingkem benyer.

 

Selain itu, iuran bulanan yang semula Rp5.000 meningkat menjadi Rp10.000, dan terakhir menjadi Rp20.000 per bulan. Kenaikan tersebut disebut tidak melalui musyawarah terbuka dengan warga.

 

Warga juga mempertanyakan kejelasan pengelolaan, karena tanggung jawab air bersih disebut-sebut diserahkan kepada Ketua Petue Kampung oleh Reje Kampung.

 

Namun hingga kini, tidak ada kejelasan tertulis mengenai dasar penunjukan, mekanisme kerja, maupun laporan keuangan yang dapat diakses publik.

 

Persoalan memuncak ketika sejumlah rumah warga diputus aliran airnya dengan alasan tidak mengikuti gotong royong pascabencana hidrometeorologi.

 

Warga yang terdampak mengaku tidak pernah menerima pemberitahuan resmi mengenai jadwal kegiatan tersebut.

 

“Air itu kebutuhan pokok. Kami tidak pernah diberi tahu soal gotong royong, tiba-tiba air diputus,” ujar salah satu warga.

 

Warga menilai, menjadikan partisipasi gotong royong sebagai syarat akses air bersih adalah kebijakan yang tidak proporsional. Terlebih, air bersih merupakan kebutuhan dasar masyarakat yang seharusnya tidak dijadikan alat sanksi sosial.

 

Selain itu, warga juga menyoroti seringnya kerusakan pipa distribusi air. Pipa disebut beberapa kali pecah bahkan terbakar secara misterius.

 

Setiap terjadi kerusakan, pengurus kembali meminta iuran tambahan untuk pembelian pipa baru. Sebagian masyarakat menduga harga iuran tidak sesuai dengan harga material di lapangan.

 

Ketika pengurus kembali meminta iuran pembelian pipa, sebagian warga memilih membeli pipa secara mandiri dan memasangnya sendiri.

 

Pipa tersebut berfungsi normal. Namun beberapa hari kemudian, aliran air kembali dihentikan oleh Reje dan Petue dengan alasan warga tidak ikut gotong royong.

 

Kondisi ini memicu tudingan adanya perlakuan tidak adil dalam penerapan kebijakan.

 

Warga menilai, sanksi pemutusan air hanya diberlakukan kepada sebagian masyarakat, sehingga memunculkan kesan diskriminatif dalam pelayanan fasilitas umum yang bersumber dari Dana Desa.

 

Sementara itu, Reje Kampung Tingkem Benyer, Satria Putra, saat dikonfirmasi melalui sambungan WhatsApp membenarkan bahwa sebelumnya pengelolaan air bersih dilakukan oleh Ketua Petue Kampung hingga tiga bulan lalu. Ia juga menyatakan selama tiga bulan terakhir tidak ada pemungutan iuran.

 

“Sementara tidak ada pengurus, sudah 3 bulan tidak ada pengurus air bersih pak. Memang sebelumnya pengurus air bersih adalah ketua petue, dan untuk iuran tersebut tidak ada pak, sudah 3 bulan gratis iuran untuk masyarakat,” ujar Reje.

 

Terkait dugaan iuran pemasangan awal Rp1.500.000, Reje membantah. Ia menyebut iuran hanya dikenakan kepada rumah baru atau warga yang baru pindah, dengan nominal sekitar Rp600.000 hingga Rp800.000.

 

Reje juga membenarkan bahwa pemutusan air dilakukan karena warga tidak mengikuti gotong royong.

 

Menurutnya, pemberitahuan sudah dilakukan empat hari sebelumnya dan masyarakat telah dikumpulkan di masjid untuk membahas kegiatan tersebut.

 

“Iya benar, karena sudah diumumkan dan sudah diberitahukan kepada masyarakat 4 hari sebelum gotong royong, masyarakat juga sudah dikumpulkan di masjid guna membahas gotong royong tersebut,” pungkas Satria Putra.

 

disisi terpisah, salah satu masyarakat yang enggan disebut namanya membantah pernyataan reje terserbut.

 

warga menilai reje berbohong jika menyatakan hanya meminta iuran pemasangan bagi rumah yang baru pindah hanya sebesar 600-800 rb dan iuran perbulan juga tidak ada kata gratis selama 3 bulan trakhir.

 

“Kalau disebut hanya Rp600 sampai Rp800 ribu, itu tidak sesuai dengan yang kami alami. Kami diminta Rp1,5 juta Bukti ada sama kami dan terkait tidak ada iuran selama 3 bulan terakhir itu juga tidak benar nyatanya kami diminta melunasi sampai bulan 12 ,dalam bulan puasa pun masih bisa reje berbohong.” ucapnya  sambil tertawa kecil.

 

ia juga menambahkan sikap reje terlalu kekanak kanakan, yang tidak ikut bergotong royong juga ada banyak, dan yang lain tidak mendapat perlakuan pemutusan air bersih,  hanya beberapa saja yang di putuskan.

 

“Yang tidak ikut giting royong kan banyak, kenapa yang tidak ikut gotong royong yang lain airnya juga tidak di putuskan, kenapa hanya beberapa saja, nampaknya rejenya ada masalah pribadi kalaupun ada sebaiknya jangan di bawa bawa ke desa ini kan masih tipe ke kanak Kanakan”- pungkasnya

 

Warga berharap pemerintah kecamatan maupun inspektorat daerah turun tangan melakukan evaluasi dan audit menyeluruh terhadap pengelolaan air bersih yang bersumber dari Dana Desa.

 

Mereka meminta agar akses air bersih sebagai hak dasar masyarakat tidak lagi dijadikan alat sanksi, serta kebijakan kampung dijalankan secara adil, transparan, dan tidak diskriminatif.(Tim)

Post Views: 10
Share201Tweet126Share50
Admin

Admin

Aceh Investigasi News

Copyright © 2023 A1 News

Navigate Site

  • About
  • Advertise
  • Privacy & Policy
  • Contact

Follow Us

No Result
View All Result
  • Home
    • Home – Layout 1
    • Home – Layout 3
    • Home – Layout 2
    • Home – Layout 4
    • Home – Layout 5
  • Redaksi
  • Berita
  • Daerah
  • Kemenkumham
  • Kesehatan
  • Nasional
  • Olahraga
  • Opini
  • Peristiwa
  • Politik

Copyright © 2023 A1 News

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In