A1news.co.id|Takengon – Setelah sekian waktu terputus akibat bencana, harapan masyarakat akhirnya terjawab. Jembatan Bailey “Totor Pelang”, penghubung vital antara Kecamatan Silih Nara dan Kecamatan Rusip Antara hingga ke wilayah Pameu, kini telah rampung dan resmi dapat dilalui. Jembatan ini menjadi urat nadi mobilitas dan perekonomian masyarakat di wilayah tersebut.
Bupati Aceh Tengah, Drs. Haili Yoga, M.Si, meninjau langsung kondisi jembatan di Jembatan Pelang, Kecamatan Silih Nara, dan memastikan bahwa akses yang sebelumnya terisolir kini telah kembali terbuka.
“Alhamdulillah, hari ini kita berada di Jembatan Pelang. Jembatan ini adalah penghubung wilayah Kecamatan Rusip Antara sampai ke Pameu. Dulu daerah ini terisolir, ada sekitar 16 desa yang terdampak. Hari ini semuanya sudah bisa dilewati. Ini adalah kerja nyata dan dirasakan langsung oleh masyarakat”, Kata Bupati disela-sela penjauaannya, Senin (19/01/2026).
Bupati menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada Menteri PUPR, Pemerintah Pusat, Pemerintah Aceh, serta seluruh pihak yang terlibat dalam percepatan pembangunan jembatan tersebut.
“Tugas Kementerian PUPR hari ini benar-benar nampak dan dirasakan masyarakat. Kolaborasi TNI, pemerintah, dan masyarakat berjalan luar biasa. Ini butuh pengorbanan tenaga dan waktu, bahkan mereka meninggalkan keluarga demi masyarakat Aceh Tengah”, ungkapnya.
Dengan berfungsinya kembali jembatan ini, aktivitas ekonomi masyarakat mulai pulih. Distribusi hasil pertanian, akses pendidikan, layanan kesehatan, hingga pergerakan warga kembali normal.
“Hari ini masyarakat bahagia, karena sudah bisa lewat. Ekonomi mulai bergerak kembali. Ini adalah harapan masyarakat sejak awal pascabencana, dan hari ini mulai terwujud”, tambah Bupati.
Bupati juga menyampaikan informasi bahwa pembangunan jembatan permanen akan segera dilaksanakan sebagai solusi jangka panjang, seiring dengan selesainya fungsi darurat jembatan Bailey.
Sementara itu, Chandra Erawan, PPK 3.2 Satker PJM 3 BPJN Aceh, menjelaskan bahwa jembatan Bailey tersebut telah dibuka secara fungsional sejak 15 Januari 2026.
“Kami berharap masyarakat dapat menjaga jembatan ini. Batas maksimum beban adalah 15 hingga 20 ton. Jangan sampai terjadi overloading agar jembatan tetap awet dan tidak terputus kembali”, jelasnya.
Menanggapi hal tersebut, Bupati Aceh Tengah menegaskan pentingnya pengawasan bersama. “Pak Reje, Pak Camat, mohon ini dijaga bersama. Jika ada kendaraan yang melebihi tonase, harus tegas. Ini jalan kita bersama. Pengawasan dari masyarakat sangat penting”, pesan Bupati.
Ia juga menambahkan bahwa apabila terdapat persoalan lahan akibat pembangunan infrastruktur, pemerintah daerah siap menyelesaikannya melalui dialog dan musyawarah bersama masyarakat.
“Kalau ada lahan yang terpakai, mari kita diskusikan dengan baik. Pemerintah pusat hadir untuk kita, adil untuk kita. Semua bisa diselesaikan dengan komunikasi”, ujarnya.
Selain pembangunan jembatan, turut dilakukan normalisasi sungai sebagai langkah mitigasi untuk mencegah terulangnya kerusakan infrastruktur akibat bencana.(*)






















