A1news.co.id|Takengon – Bantuan logistik yang diduga tertahan selama bulan Ramadhan terlihat menumpuk di Desa Kalasegi. Warga mempertanyakan keterlambatan distribusi bantuan yang sebelumnya rutin dibagikan.
Dugaan penimbunan bantuan logistik mencuat di Desa Kalasegi, kecamatan Bintang, Kabupaten Aceh Tengah dan memantik sorotan tajam dari masyarakat.
Bantuan yang seharusnya segera disalurkan kepada warga terdampak bencana justru diduga menumpuk tanpa distribusi selama bulan Ramadhan,
Kondisi ini memunculkan pertanyaan serius di tengah masyarakat: mengapa bantuan yang seharusnya meringankan beban warga justru tertahan?
Seorang warga Desa Kalasegi yang meminta identitasnya dirahasiakan mengungkapkan bahwa situasi ini sangat berbeda dibandingkan dengan sistem distribusi pada masa kepengurusan reje sebelumnya.
“Dulu bantuan itu dibagikan setiap dua minggu sekali kepada masyarakat. Sekarang sejak reje baru menjabat, bantuan berupa logistik itu malah di tumpuk dan baru dibagikan hanya sekali saja,” ujarnya kepada media ini, Selasa (10/3/26).
Warga tersebut juga mengungkap fakta lain yang menimbulkan tanda tanya baru. Menurutnya, lokasi penyimpanan logistik diduga dipindahkan dari tempat yang sebelumnya telah ditetapkan oleh reje lama.
Saat ini, bantuan yang datang dari berbagai pihak baik individu, organisasi, swasta, maupun pemerintah disebut-sebut tersimpan di posko dan di rumah salah satu warga yang dijadikan tempat penyimpanan.
Perubahan lokasi penyimpanan ini justru menimbulkan kecurigaan di kalangan masyarakat, apalagi hingga kini bantuan tersebut tidak kunjung didistribusikan kepada warga.
Padahal, kebutuhan masyarakat semakin meningkat menjelang Hari Raya Idul Fitri. Sebagian warga masih berupaya bangkit dari dampak bencana yang melanda beberapa bulan lalu, sehingga bantuan logistik sangat diharapkan untuk membantu memenuhi kebutuhan sehari-hari.
“Bantuan itu datang untuk membantu warga yang terdampak bencana. Tapi sekarang malah seperti ditahan dan tidak jelas kapan dibagikan,” kata warga tersebut.
Yang lebih mengejutkan, dugaan penimbunan logistik ini bukan hanya sebatas keluhan lisan. Warga mengaku memiliki bukti berupa foto dan video yang memperlihatkan tumpukan bantuan logistik yang masih tersimpan di lokasi penyimpanan.
Dokumentasi tersebut, menurut warga, menunjukkan bahwa bantuan yang datang selama ini diduga tidak segera didistribusikan sebagaimana mestinya.
Situasi ini mulai memicu keresahan di tengah masyarakat. Sejumlah warga mempertanyakan transparansi pengelolaan bantuan yang masuk selama masa kepemimpinan reje baru.
“Kalau bantuan itu terus ditumpuk tanpa dibagikan, masyarakat tentu bertanya-tanya. Jangan sampai ada dugaan penyelewengan atau bantuan tidak sampai kepada yang berhak,” ujarnya.
Warga juga menilai bahwa setiap bantuan yang datang seharusnya dikelola secara terbuka dan akuntabel, terlebih bantuan tersebut merupakan hasil kepedulian dari banyak pihak yang ingin membantu masyarakat terdampak bencana.
Karena itu, masyarakat mendesak pemerintah daerah dan pihak berwenang untuk segera turun tangan melakukan pemeriksaan langsung ke lokasi penyimpanan logistik di Desa Kalasegi.
Mereka berharap adanya pengecekan terbuka untuk memastikan bahwa bantuan tersebut benar-benar dikelola secara transparan dan segera didistribusikan kepada masyarakat yang membutuhkan.
“Kalau memang tidak ada masalah, seharusnya bantuan itu segera dibagikan. Jangan sampai niat baik para donatur malah menimbulkan persoalan baru di tengah masyarakat,” kata warga.
Kasus ini kini memunculkan sorotan terhadap kepemimpinan Reje Kampung yang baru menjabat, yang dinilai perlu memberikan penjelasan terbuka terkait dugaan penimbunan logistik serta perubahan lokasi penyimpanan bantuan.
Jika persoalan ini tidak segera dijelaskan secara transparan, masyarakat khawatir bantuan kemanusiaan yang seharusnya menjadi harapan warga justru berubah menjadi simbol buruknya pengelolaan bantuan di tingkat desa.
Di tengah tumpukan logistik yang masih tersimpan, satu pertanyaan besar kini menggema di Desa Kalasegi, Apakah bantuan tersebut sekedar terlambat dibagikan, atau ada sesuatu yang sedang disembunyikan dari masyarakat?
Saat dikonfirmasi oleh awak media, Reje Kampung Kalasegi membantah keras adanya dugaan penimbunan bantuan logistik sebagaimana yang diberitakan.
Dalam keterangannya, ia bahkan sempat menunjukkan nada keberatan terhadap pemberitaan tersebut dan menegaskan bahwa informasi yang beredar di masyarakat tidak benar.
“Itu tidak benar. Tidak ada penimbunan bantuan seperti yang diberitakan,” tegasnya saat dimintai klarifikasi oleh wartawan.
Ia juga menjelaskan bahwa terkait lokasi penyimpanan logistik, perpindahan gudang penyimpanan disebut telah dilakukan sejak masa kepemimpinan reje sebelumnya, bukan pada masa kepemimpinannya saat ini.
Menurutnya, dirinya saat ini tengah disibukkan dengan berbagai urusan penanganan pascabencana di desa, mulai dari pengurusan jadup (jaminan hidup), pembangunan hunian sementara (huntara), hingga proses relokasi warga terdampak.
“Sekarang kami sedang fokus mengurus banyak hal, seperti jadup, huntara, relokasi, dan berbagai kebutuhan masyarakat lainnya,” ujarnya.
Reje juga kembali menegaskan bahwa tudingan terkait penimbunan logistik yang ditujukan kepadanya tidak benar.
Dalam percakapan tersebut, ia juga sempat menyampaikan bahwa dirinya tengah berada dalam kondisi kelelahan karena banyaknya pekerjaan yang harus ditangani.
“Saya ini juga sedang capek mengurus semua ini,” katanya.
Ia bahkan sempat melontarkan kalimat bernada emosional yang menggambarkan tekanan yang ia rasakan saat menghadapi berbagai persoalan di desa.
Meski demikian, ia tetap menegaskan bahwa tidak ada penimbunan bantuan seperti yang dituduhkan.(*)






















