A1news.co.id|Takengon– Menelisik elektabilitas akademisi dalam mengedepankan idealisme dan independensi dalam keilmuan, kita tidak akan mudah menerima sikap politik yang realistis, namun akan mendengarkan dan mengamati dengan cermat, lalu mengkritik. Ini bukanlah situasi yang apriori.
Sikap akademisi terhadap politisi pragmatis harus objektif, yaitu melihat rasionalitas rencana kandidat dari sudut pandang ilmiah. Namun para akademisi seringkali tidak menjaga identitas mereka ketika merespons realpolitik.
Maksudnya, hari ini kita bisa melihat para dosen atau akademisi sendiri yang turun tangan untuk mendukung salah satu calon, ketimbang melakukan analisis perencanaan dan mendidik pemilih agar cerdas.
Kita berharap para akademisi dapat memahami posisi mereka ketika berhadapan dengan politik yang sebenarnya.
Hal ini dapat dicapai melalui objektivitas, gerakan etis, dan pengawasan yang baik terhadap isu-isu politik nyata.
Kita tidak boleh terpengaruh oleh politisi, namun kita harus mempunyai sikap politik dan kemudian menggunakan sikap ini untuk mendidik pemilih.
Peran akademisi dalam memberikan pencerahan dan pendidikan politik kepada masyarakat akan terus berlanjut.
Peran akademis tidak pernah berhenti di lingkungan kampus, selalu ada peran lain di masyarakat dan hal ini tentunya menjadi tanggung jawab sebagai akademisi.
bahwa pihak akademisi harus menjaga identitasnya, seperti independen, objektif, dan kritis. Selain itu, mahasiswa diharapkan tidak alergi terhadap kegiatan politik sebagai sebuah keniscayaan,
Namun mahasiswa harus mempelajari dan mengaktualisasikan politik yang elegan.”Kedatangan pelaku politik praktis jangan dirisaukan, tetapi harusnya dicermati apa yang mereka sampaikan, lalu kita lakukan kritik secara elegan,” ungkapnya.
Akademisi harus hadir sebagai pemberi kritik terhadap program para pelaku politik praktis. “Kampus justru harus menerima, kemudian mendengarkan apa yang sesungguhnya menjadi keinginan dia, kenapa dia ingin menjadi pemimpin.
Kenapa dia masuk kampus, apa yang diinginkan dari kampus, apakah dia hanya ingin memperoleh suara sebanyak-banyaknya ataukah menjelaskan alasannya ingin menjadi pemimpin,”(AB)






















