
A1news.co.id|Opini– Dalam sebuah kerajaan yang berselimut dingin, hiduplah seorang raja yang sangat takut pada bayangannya sendiri. Sifatnya selaras dengan cuaca daerah itu—dingin, tertutup, dan penuh ketakutan.

Ketakutannya begitu besar sehingga ia menghindari bertemu dengan panglima, penasihat, bahkan rakyatnya. Raja hanya mau berjumpa dengan mereka dalam acara resmi atau secara mendadak.

Setiap kali melihat bayangannya, ia diliputi kegelisahan, seakan-akan bayangan itu adalah ancaman yang tak dapat dikendalikan. Hal ini semakin membuatnya terasing.
Panglima yang setia dan rakyat yang merindukan kehadiran pemimpin di tengah mereka merasa semakin diabaikan.
Alih-alih meminta nasihat dari panglimanya atau mendengarkan keluhan rakyatnya, sang raja memilih bersembunyi di balik tembok istananya, terperangkap dalam ketakutan yang ia ciptakan sendiri.
Ketakutannya terhadap bayangannya adalah simbol dari ketidakmampuannya menghadapi realitas dan tanggung jawabnya sebagai pemimpin.
Seorang pemimpin seharusnya memiliki keberanian untuk menghadapi masalah, termasuk ketakutan dalam dirinya sendiri.
Bayangan yang selalu dihindari raja ini merupakan metafora dari tanggung jawab yang tak dapat diabaikan, bayangan itu muncul karena adanya cahaya, dan cahaya tersebut adalah harapan rakyat.
Jika raja terus-menerus menghindar, ia tidak hanya mengecewakan dirinya sendiri, tetapi juga seluruh rakyat yang menggantungkan nasib pada kebijaksanaannya.
Sebagai seorang pemimpin, penting bagi raja, dan siapa pun yang memegang kekuasaan, untuk tidak terperangkap dalam ketakutan diri. Pemimpin sejati mampu keluar dari bayangan ketakutannya dan berdiri tegak menghadapi kenyataan.
Jika tidak, ia akan kehilangan kepercayaan panglimanya dan kasih sayang rakyatnya. Kepemimpinan sejati muncul ketika seseorang berani menghadapi bukan hanya ancaman dari luar, tetapi juga bayangan ketakutan yang ada di dalam dirinya.
Penulis : Afdhalal Gifari Ketua HMI Aceh Tengah – Bener Meriah

Tidak ada komentar