A1news.co.id|Nagan Raya – Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Nagan Raya menyoroti kemandekan dan vakumnya peran BADKO HMI Aceh periode 2024-2026 dalam satu tahun terakhir.
Menurut mereka, organisasi sebesar HMI tidak boleh hanya hidup dari nama dan sejarah perjuangan, tetapi harus hadir nyata di tengah dinamika sosial, politik, dan keumatan Aceh.
Ketua Umum HMI Cabang Nagan Raya, Muhammad Agus Rifa’i, menyebut bahwa sudah lebih dari satu tahun BADKO Aceh seakan mati suri dalam menjalankan fungsinya sebagai pusat koordinasi antar cabang. BADKO seharusnya menjadi garda penggerak, bukan sekadar simbol organisasi.
Tapi yang kita lihat hari ini, peran itu nyaris hilang. Tidak ada arah gerak, tidak ada suara tegas dari tingkat provinsi dalam merespons isu-isu besar yang menyangkut rakyat dan umat, tegas Agus.
Ia menilai bahwa kondisi tersebut telah membuat HMI kehilangan wibawa di mata publik Aceh. Banyak cabang yang kini berjalan sendiri-sendiri tanpa arahan yang jelas dari tingkat Badan Koordinasi.
Padahal, BADKO memiliki tanggung jawab moral dan organisatoris untuk menjaga kesinambungan gerakan HMI agar tetap satu nafas perjuangan.
Ketika BADKO diam, maka suara mahasiswa Islam Aceh ikut hilang. Padahal banyak persoalan mendesak di daerah ini mulai dari kemiskinan, kerusakan lingkungan, tambang ilegal, hingga lemahnya komitmen pemerintah terhadap keadilan sosial. Di mana peran BADKO dalam semua ini? tambahnya.
HMI Cabang Nagan Raya menegaskan bahwa kebangkitan pergerakan HMI di Aceh harus dimulai dari evaluasi total terhadap kepemimpinan BADKO.
Mereka menyerukan agar pengurus di tingkat provinsi kembali ke khittah perjuangan HMI: memperjuangkan keislaman, keindonesiaan, dan keadilan sosial.
Organisasi ini lahir untuk melahirkan pemimpin dan pembaharu, bukan untuk diam menunggu momentum. Jika BADKO tidak segera bangkit, maka sejarah akan mencatat bahwa generasi ini gagal menjaga marwah HMI di Aceh, tutup Agus.(*)






















