A1news.co.id|Palembang– Potensi kopi di Sumatera Selatan dinilai sangat besar dan berpeluang menjadi salah satu komoditas unggulan nasional.
Perbaikan menyeluruh dari hulu ke hilir terus didorong, mulai dari produksi di tingkat petani, pascapanen, hingga pengolahan dan pemasaran, dilaksanakan di kambang iwak.
“Menurut Dewan Kopi Sumsel, pembenahan harus dimulai dari aktivitas produksi di lapangan, mulai dari pemeliharaan, pemanenan, hingga pengolahan di hilir. “Semua rantai produksi ini harus kita benahi agar memberikan nilai tambah yang lebih besar bagi petani,sabtu (22/11/2025).
“yang diwawancarai oleh awak media Sumsel memiliki potensi kopi yang sangat besar, bahkan menjadi salah satu yang terbesar di Indonesia. Dengan luas lahan sekitar 268 ribu hektare dan produksi mencapai 500 ribu ton per tahun, nilai ekonominya diperkirakan mencapai Rp15 triliun jika mengacu pada harga rata-rata Rp70 ribu per kilogram. Angka ini disebut-sebut sudah mendekati nilai komoditas kelapa sawit yang memiliki luas lahan jauh lebih besar, sekitar 1,3 juta hektare.
“Beberapa daerah penghasil kopi terbesar di Sumsel antara lain Muara Enim sekitar 89 ribu hektare, disusul Empat Lawang sekitar 68 ribu hektare, kemudian Lahat, serta Pagar Alam yang meskipun memiliki luas lahan terkecil, namun dinilai memiliki SDM dan tata kelola budidaya yang lebih baik. Pagar Alam saat ini bahkan memiliki branding kopi yang cukup kuat.
“Dewan Kopi juga menyoroti adanya perbedaan persepsi di masyarakat mengenai “brand” dan “merek”. Brand disebut sebagai identitas tunggal yang melekat di benak konsumen, sementara merek bisa banyak dan berbeda-beda. “Contohnya di Aceh, meski ada beberapa kabupaten penghasil kopi, yang dikenal konsumen tetap satu: Kopi Gayo. Itulah kekuatan brand,” jelasnya.
“Karena itu, Sumsel dinilai perlu menentukan satu brand kopi yang kuat, mudah diingat, dan melekat di pikiran konsumen. Namun, brand yang kuat harus diikuti oleh kualitas rasa kopi yang konsisten dan unggul.
“Selain branding, perbaikan data juga menjadi perhatian. Hingga kini Sumsel belum memiliki database petani kopi yang lengkap, termasuk data petani arabika. “Tanpa data yang kuat, perencanaan sering tidak tepat. Kami sedang menyiapkan platform database, namun ini tidak bisa dikerjakan sendiri. Perlu kolaborasi dengan pemerintah daerah,” katanya.
“Dewan Kopi Sumsel menegaskan komitmennya untuk terus mendukung pemerintah dalam pengembangan kopi daerah. “Kami siap berkolaborasi dengan siapa pun demi kemajuan kopi Sumatera Selatan.(Wahyudi)




















