
A1news.co.id|Aceh Utara – Di saat berbagai program pembangunan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat terus digaungkan dari berbagai podium, masih ada sudut-sudut kehidupan yang seakan luput dari perhatian.

Di sebuah rumah sederhana yang nyaris roboh di Dusun Lhok Jaloh, Gampong Buket Rumia, Kecamatan Idi Cut, Kabupaten Aceh Timur, seorang ibu bernama Marlina berjuang mempertahankan hidup bersama dua anaknya.

Rumah yang ditempati mereka jauh dari kata layak. Dinding kayu yang lapuk dimakan usia, bagian bangunan yang rusak, serta atap yang tidak lagi mampu memberikan perlindungan sempurna menjadi pemandangan sehari-hari yang harus mereka hadapi.
Setiap kali hujan turun, Marlina tidak hanya menghadapi rembesan air yang masuk ke dalam rumah, tetapi juga rasa cemas yang terus menghantui tentang keselamatan kedua anaknya.
Di balik wajah tegar seorang ibu, tersimpan kegelisahan yang sulit diungkapkan dengan kata-kata. Sebagai orang tua tunggal, Marlina harus berjuang sendiri memenuhi kebutuhan hidup keluarga di tengah keterbatasan ekonomi yang menghimpit.
Bagi sebagian orang, rumah itu mungkin hanya bangunan tua yang menunggu waktu untuk ambruk. Namun bagi Marlina dan kedua anaknya, rumah tersebut adalah segalanya. Di sanalah mereka berteduh dari panas dan hujan, beristirahat setelah menjalani hari yang berat, sekaligus menyimpan harapan-harapan kecil tentang masa depan yang lebih baik.
Kondisi memprihatinkan itu mendapat perhatian dari Zubir Almas, Wakil Penasehat Grup Aceh Bersatu (GAB), yang mengaku terenyuh setelah melihat langsung kehidupan yang dijalani keluarga tersebut.
“Saat saya melihat kondisi rumah dan kehidupan mereka secara langsung, hati saya benar-benar tersentuh. Di tengah berbagai program bantuan yang terus disampaikan, masih ada saudara kita yang hidup dalam kondisi seperti ini. Kami berharap ada perhatian dari pemerintah, lembaga sosial, maupun para dermawan yang memiliki kepedulian,” ujar Zubir.
Kisah Marlina menjadi potret nyata bahwa di balik angka-angka pembangunan yang sering dipaparkan, masih terdapat masyarakat yang hidup dalam ketidakpastian.
Ketika berbagai capaian pembangunan dirayakan, seorang ibu di pelosok Aceh Timur masih harus memikirkan apakah rumahnya mampu bertahan menghadapi hujan berikutnya.
Malam-malam yang bagi sebagian keluarga terasa hangat dan nyaman, bagi Marlina sering kali menjadi waktu yang dipenuhi kekhawatiran.
Ia hanya bisa memeluk kedua anaknya erat-erat sembari berdoa agar rumah yang mereka tempati tetap berdiri hingga esok hari.
Tidak ada yang berlebihan dari harapan Marlina. Ia tidak meminta kemewahan. Ia hanya mendambakan sebuah rumah yang aman, tempat anak-anaknya dapat tumbuh tanpa dihantui rasa takut setiap kali angin kencang berhembus atau hujan deras mengguyur.
Di tengah derasnya arus pembangunan, kisah ini menjadi pengingat bahwa masih ada tangisan yang tidak terdengar, masih ada penderitaan yang belum tersentuh, dan masih ada rakyat kecil yang menunggu uluran tangan.
Kini, Marlina hanya menggantungkan harapan kepada kepedulian sesama. Sebab bagi seorang ibu yang hidup dalam keterbatasan, bantuan bukan sekadar angka dalam laporan atau program di atas kertas.
Bantuan adalah kesempatan untuk bertahan hidup, menjaga keselamatan anak-anaknya, dan mempertahankan harapan bahwa masa depan yang lebih baik masih mungkin datang.
Di rumah yang nyaris roboh itu, seorang ibu terus berjuang. Dan di sana pula, tersimpan sebuah pertanyaan yang menggugah nurani banyak orang: apakah jeritan rakyat kecil telah benar-benar sampai kepada mereka yang memiliki kewenangan untuk mendengar dan bertindak?.(RF)

Tidak ada komentar