A1news.co.id|Takengon– Supir bus UGP bantah keras bus bantuan Pemda Provinsi Aceh dan Kabupaten Aceh Tengah untuk Universitas Gajah Putih (UGP) di jadikan bisnis pribadi yang beredar di beberapa media online dan media sosial.
Supir Bus berinisal PD menceritakan dasar mobil tersebut kepada awak media, sejak Desember tahun 2022 di ambil oleh pak ian kemudian di panggil saya untuk mengurus mobil tersebut.
Pertama saya ambil bus tersebut hidup pun sudah susah dan gak mau hidup asap putih sudah keluar dari knalpot dan yang satu saya antar ke bengkel gak ada saya minta uang dari kampus asal bagus antar ke kampus.
Kemudian ambil bus yang kedua, keadaannya seperti itu juga, sampai sampai ada ayam dan tikus besar di dalamnya, tidak ada minta biaya apapun dari kampus.
Habis itu, jalan mobil beli ban tipis hutang di bengkel, dapat dikit dari mobil bayarkan hutang ke bengkel, jalan mobil habis tapak rem, hasil tidak ada, untuk setoran pun gak ada apalagi untuk gaji, habis habis untuk mobil ini pun.

Kemudian, surat habis 8 juta untuk satu unit, waktu itu minta kampus gak ada, terpaksa saya cari, saya bantu, karena pak ian percaya sama saya, saya pun percaya sama pak ian, Cetus PD.
Tidak ada kami bisniskan mobil ini dan hasil dari mobil ini tidak ada kami buat makan, gak ada itu, ini contoh turun tangki, buka mozel dan stel klep, biaya darimana, terpaksa kami cari biayanya.

Waktu itu ban botak di kasih ke kami dan pelak ban bukan bawaan mobil ini lagi, dan kalo soal ini mobil aku lebih tau karena aku dasar yang bawa mobil ini,

Maunya yang buat berita jumpa ama kami lagi, biar puas dianya, pikir enak ngurus mobil ini, waktu kayak gini ngomong, waktu dalam gudang mobil satu pun gak ada ngomong yang buat berita.
Dan sampai saat kami, sedikitpun tidak ada hasil dari mobil tersebut kasih sama pak ian dan untuk mobil dulu yang penting, dan ini pun sedang kejar mikirin surat mobil satu lagi, ada gak pemikiran mereka terhadap mobil ini, Ujarnya.
Dulu ambil mobil di tarik dulu pakai mobil ku baru mau hidup sekarang sudah bagus mau di bawa, kayak gini kami mikirin baterai lagi, kayak mana kami mau mikirin setoran.
Sedangkan baterai 1 buah 1.300.000, dua buah 2.600.000, dari mana uangnya, dari kampus mana ada uangnya, mobil pun jarang jalan, kadang setahun ber parkir disitu, kadang ada 1 trep, kadang 2 trep.
Kalo hasil nya ada tapi habis buat betulin mobil dua ini, kami selaku supir keluhan kami setiap kami pergi tidak ada kami nikmatin, yang ada gaji kami habis habis untuk mobil ini.
Jadi sekali lagi yang di beritakan itu tidak benar dan hanya memutarkan balikkan fakta dan kalian pikir enak ngurus mobil tua dan waktu di ambil pun sudah jadi barang rongsokan, Tegas PD.






















