
A1news.co.id|Takengon – ICMI Orda Aceh Tengah Bekerjasama dengan IAIN Takengon, UGP dan DLHK Aceh Tengah mengadakan Acara Seminar International dengan Tema “Disaster Mitigation and Environmental Resilience in Aceh and Sumatra” Mitigasi Bencana dan Ketahanan Lingkungan di Aceh dan Sumatera dalam rangka Peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia.

Acara berlangsung selama 2 hari mulai tanggal 5 – 6 Juni 2026 bertempat di Aula Seminar IAIN Takengon dilaksanakan secara daring.

Acara Seminar dibuka oleh Bapak Bupati Aceh Tengah Drs. Haili Yoga, M.Si dan dihadiri oleh Wakil DPRK Aceh Tengah Ibu Susilawati, Kepala SKPD Aceh Tengah, Rektor UGP, Rektor IAIN Takengon, Kepala Baitul Mal Aceh Tengah, Ketua Yayasan Gajah Putih, Akademisi dari IAIN Takengon, UGP, STIHMAT, Universitas Mahakarya Takengon, Universitas Al Walsyiah Takengon.
Adapun Keynote Speaker (Narasumber) sebanyak 28 narasumber terdiri dari UNESCO, Universitas Sriwijawa Palembang, International Association of Econimic and Businees and Business and Teknologi MARA Francis, Universitas Negeri Padang (UNP), USU, Universitas Teknologi Malaysia (UTM), UIN Ar Raniry, Yayasan Lauser International (YLI).
IAIN Takengon, University of Bahrain, Direktur Yayasan Sukma Bangsa, BPBD Aceh Tengah, PUPR Aceh Tengah, Dinas Perdagangan Bener Meriah, Universitas Iskandar Muda Banda Aceh, DLHK Aceh Tengah, Sekolah Tinggi Ilmu Kehutanan Pante Kulu Banda Aceh, Universitas Syiah Kuala.
Ketua Umum ICMI Orda Aceh Tengah Dr. Edy Putra Kelana, S.IP, M.Si, M,Pd menyampaikan acara ini juga dirangkai dengan pembersihan Danau Lut Tawar dan penanaman pohon di pinggir Danau Laut Tawar.
Dan juga pembuatan pupuk dari Encek Gondok yang dilakukan oleh Dinas Lingkuhan Hidup Kabupaten Aceh Tengah, ICMI Orda Aceh Tengah dan Masyarakat Desa Keramat Mupakat.
Rekomendasi dari para narasumber menekankan mitigasi bencana tidak dapat dipisahkan dari upaya menjaga ketahanan lingkungan.
Kerusakan hutan, sedimentasi sungai, tata ruang yang kurang terkendali, dan rendahnya kesadaran terhadap pelestarian lingkungan turun memperbesa risiko terjadinya bencana hidrometereologi, Ungkap Dr Edy.
Oleh karena itu, diperlukan langkah strategis yang melibatkan berbagai pihak dalam membangun sistem penguranagn risiko bencana yang adaptif dan relevan.
Dalam menghadapi tantangan tersebut, kolaborasi antara akademisi, peneliti, pemerintah, praktisi, organisasi masyarakat, dan komunitas internasional menjadi sangat penting untuk merumuskan strategi mitigasi bencana.
Pendekatan yang berbasis lingkungan hidup, ketahanan masyarakat, serta teknologi diharapkan mampu berperan dalam mengurangi dampak bencana sekaligus menjaga keberlanjutan ekosistem di Aceh dan Sumatera, Ucap Ketua ICMI Aceh Tengah

Tidak ada komentar