A1news.co.id|Bireuen– Dalam rangka peringatan Hari Wetland se-dunia, Aceh Wetland Foundation (AWF) menggelar pameran produk dan situs lahan basah dibuka oleh Pj Bupati Bireuen, Aulia Sofyan, PhD di wakili Asisten III Dailami, SHut, Jumat (23/2/2024) siang, di lokasi Edukowisata Paya Nie, di Gampong (Desa) Blang Me, Kecamatan Kutablang.
Kegiatan menampilkan aneka macam produk hasil kerajinan tangan bahan baku yang bukan kayu,
Juga berbagai makanan dan minuman yang di kemas dalam kemasan, serta produk lainnya berlangsung tiga hari mulai Jumat – Minggu (23-25/2/2024) di lokasi.
Ketua Panitia Pelaksana Yusmadi Yusuf mengatakan, peringatan Hari Wetland se-dunia ini di beri tema yaitu “Lahan Basah Untuk Kesejahteraan Manusia”.
Hal ini karena kami melihat banyak produk-produk lahan basah bukan kayu bisa di manfaatkan dan dijadikan sebagai untuk meningkatkan pendapatan masyarakat.
Sajian pameran dilaksanakan ini lebih kepada memamerkan produk – produk organik dan pertanian bukan dari kayu.
“Tujuan kami untuk mempertemukan pemerintah dengan masyarakat, kami melihat isu hilirisasi ini lebih kepada produk-produk dari setiap bentang alam,” ujarnya.
Dijelaskan juga Paya Nie Kutablang Bireuen memiliki luasnya 300 hektare ini dapat di manfaatkan, apalagi ada jutaan ikan di dalamnya.
“Tapi kita belum pernah ada label ikan Paya Nie, untuk itu kami sangat membutuhkan fasilitasi dari pemerintah,” harapnya.
Dalam hal ini, kata Yusmadi. AWF bersama dengan mitra baik dari dalam dan luar negeri siap untuk bekerjasama meningkatkan peran konservasi dan pendapatan masyarakat agar dapat mengelola, memanfaatkan, melindungi lahannya.
Pj Bupati Bireuen, Aulia Sofyan diwakili Asisten II Dailami dalam sambutannya mengatakan, kami menyambut baik dilaksanakannya pameran produk dan situs lahan basah dalam rangka peringatan Hari Wetland Se-dunia 2024.
Sebagai salah satu negara memiliki ekosistem lahan basah terluas di Asia, setelah China.
“Kita menyadari pentingnya untuk mensosialisasikan nilai penting lahan basah kepada seluruh lapisan masyarakat, melalui penyelenggaraan perayaan hari lahan basah se-dunia setiap tahunnya,” sebutnya.
Diharapkan melalui kegiatan ini dapat meningkatkan kesadaran dan peran aktif masyarakat dalam melakukan upaya konservasi lahan basah, juga mempromosikan sejumlah produk dan situs lahan basah (gambut, laut, rawa).
Mendorong lahirnya regulasi yang mendukung upaya pelestarian kawasan wetland (lahan basah) dan peatland (lahan gambut) di Aceh, serta mengajak kesadaran publik untuk melestarikan wetland.
Lanjut Asisten II, manfaat langsung lahan basah dapat dirasakan antara lain, sebagai penyedia sumber pangan dan air bersih, tempat wisata rekreasi.
Ekosistem lahan basah juga memiliki peran kunci sebagai habitat satwa endemik dan dilindungi, serta menjadi jalur migrasi burung.
Selain itu, lahan basah memiliki fungsi penyimpan karbon, pengatur iklim mikro dan makro, serta memberikan perlindungan terhadap bencana alam, khususnya ekosistem mangrove di kawasan pesisir.
“Pada momentum hari lahan basah ini, saya mengajak seluruh pihak, baik individu, sektor swasta, komunitas, maupun institusi, lembaga, khususnya teman-teman media dan jurnalis untuk bersatu dalam melindungi,
Melestarikan, memulihkan ekosistem lahan basah agar kita juga tetap dapat mengambil manfaat dari jasa lingkungan di lahan basah secara berkelanjutan,” tutup Asisten II.(Red)






















