Dorong Energi Bersih di Momentum Kenaikan Yesus Kristus, PTPN Group Pasang PLTS di Gereja Katolik Kalbar

Kalbar – Menjelang peringatan Hari Kenaikan Yesus Kristus pada pertengahan Mei 2026, Holding Perkebunan Nusantara melalui PTPN IV PalmCo, memasang Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Atap di Gereja Katolik Santo Kristoforus Stasi Plasma, Desa Amboyo Inti, Kecamatan Ngabang, Kabupaten Landak, Kalimantan Barat.

Bantuan melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) tersebut resmi diserahterimakan pada Selasa (5/5/2026).

Bantuan diberikan sebagai upaya mendukung kebutuhan energi rumah ibadah sekaligus membantu menekan biaya operasional gereja melalui pemanfaatan energi bersih berbasis tenaga surya.

Direktur Utama Jatmiko Santosa menegaskan bahwa langkah pemasangan PLTS Atap tersebut sejalan dengan komitmen perusahaan dalam mendukung efisiensi operasional dan transisi energi nasional sebagaimana diarahkan pemerintah dalam penguatan penggunaan Energi Baru Terbarukan (EBT). Menurutnya, perusahaan perkebunan negara tidak hanya dituntut menjaga produktivitas, tetapi juga harus menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat di sekitar wilayah operasional.

“Pemerintah saat ini terus mendorong efisiensi energi dan percepatan penggunaan energi baru terbarukan di berbagai sektor. PalmCo ingin menjadi bagian dari gerakan tersebut melalui langkah konkret yang langsung dirasakan masyarakat. Bantuan PLTS di rumah ibadah ini menjadi simbol bahwa transformasi energi dapat dimulai dari lingkungan terdekat,” ujar Jatmiko Santosa dalam keterangannya.

PLTS Atap yang dipasang di Gereja Katolik Santo Kristoforus memiliki kapasitas 2.250 Wp dengan inverter 2.000 VA menggunakan sistem on-grid. Sistem ini memungkinkan energi listrik dari panel surya digunakan langsung pada siang hari, sementara kelebihan daya akan tersalurkan kembali ke jaringan PLN tanpa memerlukan baterai penyimpanan.

Melalui skema tersebut, kebutuhan listrik operasional gereja dapat ditekan secara signifikan, terutama untuk penggunaan lampu, pengeras suara, kipas angin, hingga aktivitas pelayanan umat sehari-hari. Inisiatif ini juga dinilai menjadi bentuk implementasi prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) yang kini terus diperkuat oleh PTPN IV PalmCo di seluruh wilayah operasional perusahaan.

Tidak hanya berhenti pada instalasi, PalmCo bersama mitra teknis juga memberikan pelatihan pengoperasian dan pemeliharaan dasar kepada pengurus gereja agar sistem dapat dimanfaatkan secara optimal dalam jangka panjang. Perseroan bahkan membuka peluang agar model bantuan serupa dapat direplikasi di regional lain yang memiliki kebutuhan serupa, baik untuk fasilitas ibadah maupun fasilitas sosial masyarakat.

Dengan asumsi tarif listrik rumah tangga non-subsidi golongan R1/2.200 VA sebesar Rp1.444,70 per kWh, pemanfaatan PLTS tersebut diperkirakan mampu menghasilkan penghematan energi sekitar 236 kWh per bulan. Artinya, gereja berpotensi menghemat sekitar Rp340.949 per bulan atau setara Rp4,09 juta per tahun untuk biaya listrik operasional.

Dorong Efisiensi dan Replikasi di Seluruh Regional

Pengurus Gereja Katolik Santo Kristoforus, Hunin Herdanus, menyambut positif bantuan tersebut. Ia mengatakan biaya listrik selama ini menjadi salah satu pengeluaran rutin gereja yang cukup besar, sehingga kehadiran PLTS Atap akan sangat membantu efisiensi pengeluaran operasional harian.

Apresiasi serupa disampaikan Sekretaris Desa Amboyo Inti, Junaedi, yang menilai program tersebut sangat relevan dengan kebutuhan masyarakat setempat. Ia berharap sinergi antara perusahaan dan masyarakat terus berjalan harmonis melalui berbagai program pembangunan sosial berbasis kebutuhan riil di lapangan.

Bagi PalmCo, program ini sekaligus menjadi bagian dari strategi memperluas pemanfaatan energi bersih di kawasan operasional perusahaan. Selain mendukung target keberlanjutan perusahaan, langkah tersebut juga memperkuat posisi PalmCo sebagai BUMN perkebunan yang aktif mendorong praktik bisnis berkelanjutan dan ramah lingkungan hingga tingkat komunitas.

Ke depan, perusahaan membuka peluang pengembangan program serupa pada fasilitas sosial lain seperti sekolah, klinik, hingga rumah ibadah di berbagai regional operasional PalmCo. Dengan pendekatan tersebut, manfaat transformasi energi tidak hanya dirasakan perusahaan, tetapi juga masyarakat luas secara langsung.

“Kami berharap inisiatif ini dapat memberi dampak besar bagi masyarakat dan menjadi inspirasi bahwa efisiensi energi serta penggunaan energi bersih bisa dimulai dari lingkungan sekitar. PalmCo akan terus hadir melalui program-program yang tidak hanya produktif secara bisnis, tetapi juga memberi manfaat sosial dan lingkungan secara berkelanjutan,” tutup Jatmiko.

Holding Perkebunan Nusantara Terus Dorong Transisi Energi dan Efisiensi, Pabrik Sawit PTPN IV PalmCo Raih PROPER Hijau

JAKARTA — Upaya penguatan praktik keberlanjutan di industri kelapa sawit kembali mendapat pengakuan. Dua unit pabrik milik PTPN IV PalmCo, Subholding PTPN III (Persero), yakni Pabrik Kelapa Sawit (PKS) Sei Mangkei dan PKS Bah Jambi, meraih peringkat Hijau dalam Program Penilaian Peringkat Kinerja Perusahaan (PROPER) periode 2024–2025 yang diselenggarakan Kementerian Lingkungan Hidup.

Penghargaan tersebut diumumkan dalam seremoni di Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta Timur, beberapa waktu lalu. Peringkat Hijau dalam PROPER menunjukkan bahwa perusahaan dinilai telah melampaui standar kepatuhan dasar pengelolaan lingkungan atau beyond compliance.

Direktur Utama PTPN IV PalmCo, Jatmiko K. Santosa, mengatakan capaian ini mencerminkan arah transformasi perusahaan yang semakin menitikberatkan pada efisiensi energi dan penurunan emisi. “Kami berupaya mengoptimalkan pemanfaatan energi terbarukan serta menekan emisi di area produksi. Ini menjadi bagian dari strategi jangka panjang perusahaan,” ujar Jatmiko kepada media, Selasa (05/05/2026).

Salah satu inovasi diterapkan di PKS Sei Mangkei yang berlokasi di Kawasan Ekonomi Khusus Sei Mangkei, Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara. Pabrik ini mengoperasikan fasilitas methane capture yang menangkap gas metana dari limbah cair kelapa sawit (POME) untuk diolah menjadi energi melalui Pembangkit Listrik Tenaga Biogas (PLTBg). Pemanfaatan ini dinilai mampu mengurangi emisi gas rumah kaca sekaligus meningkatkan efisiensi energi internal pabrik.

Sementara itu, PKS Bah Jambi melakukan sejumlah langkah efisiensi operasional, antara lain konversi pompa air berbahan bakar solar menjadi pompa listrik. Berdasarkan data perusahaan, langkah ini menurunkan konsumsi solar secara signifikan, dari 3.695 liter pada 2023 menjadi 2.364,7 liter pada 2024. Selain itu, otomatisasi pada tangki air panas juga diterapkan untuk meningkatkan efisiensi proses produksi.

Dalam pengelolaan limbah padat, kedua pabrik memanfaatkan serat kelapa sawit sebagai bahan bakar untuk pembangkit listrik dan produksi uap. Adapun limbah tandan kosong (jangkos) dimanfaatkan sebagai pupuk organik. Khusus di Bah Jambi, limbah tersebut juga dimanfaatkan bersama masyarakat sekitar sebagai media tanam jamur.

Direktur Strategy & Sustainability PTPN IV PalmCo, Ugun Untaryo, mengatakan perusahaan menargetkan peningkatan kinerja lingkungan di seluruh unit operasional. Saat ini, manajemen menetapkan standar minimal peringkat Biru untuk seluruh pabrik dan kebun. “Kami mendorong lebih banyak unit untuk naik ke peringkat Hijau pada periode berikutnya, bahkan dalam jangka panjang menuju PROPER Emas,” kata Ugun.

Berdasarkan data Rapor Final PROPER 2024–2025, sejumlah unit usaha lainnya di lingkungan PTPN IV PalmCo telah memenuhi standar kepatuhan lingkungan dan meraih peringkat Biru.

Capaian ini menjadi bagian dari upaya industri sawit nasional untuk menjawab tantangan keberlanjutan, di tengah tuntutan global terhadap praktik produksi yang lebih ramah lingkungan.

Holding Perkebunan Nusantara Terus Perkuat Daya Saing Global, Ekspor Kopi Ijen PalmCo Tembus AS dan Inggris 

BONDOWOSO — Kinerja ekspor kopi Indonesia pada awal 2026 menunjukkan tren positif. Salah satunya ditunjukkan oleh pengiriman kopi Arabika dari kawasan Ijen, Bondowoso, Jawa Timur, yang berhasil menembus pasar Amerika Serikat dan Inggris.

Melalui PTPN IV PalmCo, salah satu subholding PTPN III (Persero), tercatat lebih dari 50 ton kopi Arabika yang diproduksi Java Coffee Estate (JCE) diekspor ke dua negara tersebut dalam pengiriman awal tahun ini. Inggris menjadi tujuan utama dengan volume sekitar 36 ton, disusul Amerika Serikat sebesar 19,2 ton.

Secara nilai, ekspor ke Inggris tercatat mencapai lebih dari 280.000 dollar AS, sementara ke Amerika Serikat sekitar 151.000 dollar AS. Total nilai transaksi dari kedua pasar tersebut melampaui Rp 7 miliar.

Direktur Utama PTPN IV PalmCo Jatmiko K. Santosa mengatakan, capaian ini menjadi indikator meningkatnya daya saing kopi Jawa di pasar internasional, khususnya pada segmen specialty coffee.

“Permintaan dari negara-negara maju menunjukkan bahwa kualitas kopi Arabika dari Ijen mampu memenuhi standar yang ketat, baik dari sisi rasa maupun konsistensi,”terang Jatmiko saat dihubungi dari Jakarta, Kamis (16/4/2026).

Menurut dia, perusahaan kini tidak hanya berorientasi pada peningkatan volume ekspor, tetapi juga membangun ekosistem bisnis kopi yang berkelanjutan dan bernilai tambah.

Upaya tersebut, lanjut Jatmiko, juga sejalan dengan penguatan identitas Bondowoso sebagai salah satu sentra kopi unggulan nasional. Pemerintah daerah setempat bahkan telah lama mengusung branding “Bondowoso Republik Kopi untuk memperluas pengakuan di pasar global.

Di sisi lain, peningkatan kinerja ekspor tidak lepas dari pembenahan di sektor hulu. Manajer Java Coffee Estate Hastudy Yunarko menjelaskan, perusahaan tengah menjalankan program peremajaan tanaman atau replanting untuk menjaga produktivitas kebun.

“Sebagian tanaman sudah memasuki usia tidak produktif, sehingga perlu diganti dengan bibit unggul yang tersertifikasi. Ini penting untuk menjaga kualitas sekaligus meningkatkan hasil panen ke depan,” kata Hastudy saat ditemui di kawasan Ijen.

Ia menambahkan, program tersebut tidak hanya berfokus pada peningkatan produksi, tetapi juga menjaga karakter rasa khas kopi Arabika Ijen-Bondowoso yang selama ini diminati pasar Eropa dan Amerika.

Selain peremajaan tanaman, perusahaan juga melakukan pembenahan praktik budidaya melalui penerapan *Good Agricultural Practices* (GAP), serta memperkuat sistem ketertelusuran produk (*traceability*). Hal ini menjadi tuntutan utama pasar global, terutama untuk segmen kopi premium.

“Pembeli saat ini tidak hanya melihat kualitas rasa, tetapi juga aspek keberlanjutan dan transparansi proses produksi,” ujarnya.

Modernisasi juga dilakukan pada tahap pascapanen, termasuk pengolahan dan penyimpanan biji kopi, guna menjaga mutu sebelum dikirim ke pasar ekspor.

Hastudy menilai, pengiriman ke Inggris dan Amerika Serikat pada awal tahun ini menjadi langkah awal untuk memperluas penetrasi pasar. Dengan dukungan program replanting dan optimalisasi kebun, perusahaan optimistis dapat meningkatkan volume ekspor ke berbagai negara tujuan lain sepanjang 2026.

“Kami melihat peluang pasar masih terbuka lebar, terutama untuk kopi dengan kualitas premium dan karakter rasa yang kuat,” kata dia.

Disaksikan Mentan, Holding Perkebunan Nusantara Perkuat Hilirisasi Energi Lewat Kolaborasi PalmCo–ITS

SURABAYA — Holding Perkebunan Nusantara melalui subholding PTPN IV PalmCo terus memperkuat pengembangan energi terbarukan berbasis kelapa sawit. Komitmen tersebut diwujudkan melalui penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) dengan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya dalam pengembangan inovasi biogasoline atau bensin sawit (Benwit).

Penandatanganan MoU dilakukan oleh Direktur Utama PTPN IV PalmCo, Jatmiko K. Santosa, bersama Rektor ITS, Bambang Pramujati, di Surabaya, Minggu (19/4/2026). Kegiatan ini turut disaksikan oleh Menteri Pertanian RI, Andi Amran Sulaiman, sebagai bentuk dukungan pemerintah terhadap penguatan ketahanan energi nasional.

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengapresiasi kolaborasi antara dunia industri dan akademisi tersebut. Menurutnya, sinergi tersebut menjadi kunci dalam mendorong transformasi sektor energi berbasis komoditas nasional, khususnya kelapa sawit.

“Hari ini kita tekan MoU untuk Benwit. Kita mulai dari industri skala kecil dulu, kalau ini berhasil, langsung kita buka skala besar. Saya minta Pak Rektor dan Pak Dekan untuk kawal ini dengan baik agar kita tidak lagi tergantung pada bahan bakar fosil. Ini adalah langkah nyata menuju ketahanan energi nasional,” tegasnya.

Direktur Utama PTPN IV PalmCo, Jatmiko K. Santosa, menyampaikan bahwa kerja sama ini merupakan bagian dari upaya perusahaan dalam mendukung agenda hilirisasi sekaligus transformasi bisnis yang terintegrasi dari hulu ke hilir.

“Sinergi dengan ITS adalah langkah konkret PalmCo dalam mengintegrasikan riset teknologi ke dalam skala industri. Fokus kami selain meningkatkan produktivitas adalah membangun ekosistem bisnis sawit yang berkelanjutan. Dengan dukungan riset ITS, kami optimistis mampu mengakselerasi implementasi energi bersih, termasuk pengembangan biogasoline yang sangat dinantikan pasar,” ujar Jatmiko.

Kerja sama ini mencakup berbagai ruang lingkup strategis, mulai dari pengembangan energi terbarukan, penerapan teknologi inovatif, hingga pembangunan ekosistem perkebunan berbasis prinsip zero waste.

Rektor ITS, Bambang Pramujati, menegaskan pentingnya hilirisasi hasil riset agar memberikan manfaat nyata bagi industri dan masyarakat.

“Kami di ITS terus mendorong agar hasil riset kampus memiliki dampak nyata. Kerja sama dengan PTPN IV PalmCo ini menjadi jembatan penting agar inovasi seperti bensin sawit (Benwit) dapat diterapkan dalam skala masif. Inisiatif ini memungkinkan pemanfaatan bahan mentah menjadi energi alternatif bernilai tambah tinggi yang mendukung ketahanan energi nasional,” tegas Bambang.

Dari sisi teknis, pengembangan biogasoline diproyeksikan menjadi solusi dalam menghadapi fluktuasi harga energi global. Ketua Tim Peneliti ITS, Dr. Eng. Hosta Ardhyananta, menjelaskan bahwa inovasi yang dikembangkan berfokus pada efisiensi konversi minyak sawit menjadi bahan bakar yang kompatibel dengan mesin kendaraan saat ini.

“Fokus inovasi kami adalah mengonversi minyak mentah kelapa sawit menjadi produk biogasoline atau bensin sawit yang kompetitif. Sebagai produk gasoline dari sumber bio yang terbarukan yakni kelapa sawit, riset ini sangat sejalan dengan target global dalam SDGs. Harapannya, melalui hilirisasi ketergantungan kita terhadap bahan bakar fosil dapat terus ditekan secara bertahap,” jelas Hosta.

Dekan Fakultas Teknologi Industri dan Rekayasa Sistem (FTIRS) ITS, Juwari, turut memastikan pengawalan riset dilakukan secara berkelanjutan bersama tim ITS dan Kementerian Pertanian guna menjamin kesiapan teknologi untuk tahap industrialisasi.

Kerja sama yang direncanakan berlangsung selama lima tahun ini akan ditindaklanjuti melalui pembentukan tim kerja bersama untuk memastikan implementasi teknologi berjalan efektif di lapangan.

Hadapi Gejolak Energi Global, Holding Perkebunan Nusantara Andalkan PLTBg PalmCo

JAKARTA – Ketidakpastian harga energi fosil akibat dinamika geopolitik global mendorong pelaku industri mencari strategi alternatif demi menjaga stabilitas operasional. Di sektor perkebunan, langkah antisipatif tersebut telah menunjukkan hasil melalui pemanfaatan energi baru terbarukan berbasis limbah kelapa sawit.

Salah satunya dilakukan oleh PTPN IV PalmCo, Subholding PT Perkebunan Nusantara III (Persero), yang mengoptimalkan pemanfaatan limbah cair kelapa sawit (Palm Oil Mill Effluent atau POME) sebagai sumber energi. Melalui inovasi tersebut, perusahaan mengoperasikan pembangkit listrik tenaga biogas (PLTBg) guna menekan ketergantungan terhadap bahan bakar fosil sekaligus meningkatkan efisiensi operasional.

Direktur Utama PTPN IV PalmCo, Jatmiko K. Santosa, mengatakan bahwa inisiatif tersebut bukan merupakan respons jangka pendek terhadap lonjakan harga energi, melainkan bagian dari strategi jangka panjang perusahaan.

“Gejolak harga energi fosil dunia saat ini justru membuktikan bahwa pengembangan energi terbarukan yang kami lakukan adalah langkah tepat. PLTBg membantu kami mengurangi ketergantungan terhadap solar, sekaligus menjaga efisiensi biaya operasional,” ujar Jatmiko dalam keterangan tertulis, Rabu (15/4/2026).

Saat ini, PalmCo mengoperasikan dua fasilitas pembangkit listrik berbahan baku limbah cair sawit, yakni PLTBg Terantam dan PLTBg Tandun. Keduanya menggunakan teknologi covered lagoon untuk mengolah limbah cair menjadi biogas yang kemudian dikonversi menjadi listrik. Energi yang dihasilkan dimanfaatkan secara langsung untuk mendukung operasional Pabrik Kelapa Sawit (PKS) PPIS Tandun serta mengurangi penggunaan bahan bakar fosil.

Berdasarkan data perusahaan, pemanfaatan energi biogas tersebut telah menggantikan penggunaan genset berbahan bakar solar secara signifikan. Dalam periode 2023 hingga 2025, konsumsi solar berhasil ditekan hingga lebih dari 2,6 juta liter.

Efisiensi tersebut berdampak langsung terhadap kinerja keuangan perusahaan. PalmCo mencatat penghematan biaya energi mencapai sekitar Rp39,5 miliar dalam tiga tahun terakhir.

Direktur Strategy & Sustainability PalmCo, Ugun Untaryo, menilai pemanfaatan POME sebagai sumber energi juga mencerminkan penerapan prinsip keberlanjutan di industri sawit.

“Ini bukan sekadar efisiensi, tetapi bagian dari ekonomi sirkular. Limbah cair yang sebelumnya menjadi tantangan lingkungan kini kami olah menjadi sumber energi yang bernilai,” kata Ugun.

Ia menjelaskan, pada tahun lalu kedua fasilitas PLTBg tersebut mampu mengolah lebih dari 293.000 meter kubik limbah cair. Dari proses tersebut dihasilkan jutaan meter kubik gas metana yang dimanfaatkan sebagai energi sekaligus mencegah pelepasan emisi gas rumah kaca ke atmosfer.

Langkah ini dinilai sejalan dengan upaya global dalam menekan emisi dan mempercepat transisi energi. Pemanfaatan limbah sebagai sumber listrik tidak hanya menjaga efisiensi operasional, tetapi juga memperkuat ketahanan energi sektor industri.

Sebagai bagian dari Holding Perkebunan Nusantara, PTPN IV PalmCo terus mendorong pengembangan energi berbasis limbah sebagai strategi keberlanjutan sekaligus peningkatan daya saing industri perkebunan nasional.

Dengan capaian tersebut, model pengelolaan energi berbasis limbah yang dikembangkan PalmCo berpotensi menjadi rujukan bagi industri perkebunan dalam menghadapi dinamika energi global secara berkelanjutan.

Holding Perkebunan Nusantara Perkuat Tata Kelola melalui Implementasi ICoFR di PTPN IV PalmCo

Jakarta — PT Perkebunan Nusantara IV (PTPN IV) PalmCo salah satu entitas Holding Perkebunan Nusantara PTPN III (Persero) terus memperkuat transformasi tata kelola perusahaan. Sepanjang tahun 2025, perusahaan mengimplementasikan secara penuh sistem Internal Control over Financial Reporting (ICoFR) guna memastikan keandalan laporan keuangan sekaligus memperkuat manajemen risiko korporasi.

Direktur Utama PTPN IV PalmCo Jatmiko K. Santosa mengatakan bahwa penerapan ICoFR secara menyeluruh merupakan langkah penting dalam membangun budaya pengendalian internal yang kuat di seluruh lini organisasi.

“Setiap angka dalam laporan keuangan harus mencerminkan proses bisnis yang benar-benar terkendali, transparan, dan dapat dipertanggungjawabkan. Jadi bukan sekadar pencatatan administratif,” ujar Jatmiko dalam keterangan tertulis, Rabu (11/3/2026).

Program tersebut diterapkan di seluruh unit kerja perusahaan, mulai dari operasional kebun dan pabrik hingga fungsi pengawasan internal. Dalam pelaksanaannya, perusahaan juga melibatkan auditor eksternal untuk memastikan sistem pengendalian internal berjalan secara efektif.

Menurut Jatmiko, penguatan sistem pengendalian internal tidak hanya dilakukan untuk memenuhi kewajiban regulasi. Di tengah dinamika industri serta meningkatnya tuntutan transparansi terhadap badan usaha milik negara, sistem pengendalian yang kuat menjadi kebutuhan strategis bagi perusahaan.

“Kepercayaan pemangku kepentingan sangat ditentukan oleh kualitas tata kelola. Karena itu, transformasi ini diarahkan agar perusahaan tidak hanya unggul dalam operasional, tetapi juga kokoh dari sisi manajemen risiko dan akuntabilitas,” katanya.

Mencakup Seluruh Proses Keuangan

Dalam implementasinya, sistem ICoFR di PTPN IV mencakup berbagai proses yang berpengaruh langsung terhadap laporan keuangan, mulai dari pendapatan, produksi, pengadaan, pengelolaan aset, hingga proses penutupan laporan keuangan.

Perusahaan terlebih dahulu mengidentifikasi akun-akun yang memiliki pengaruh signifikan terhadap neraca dan laporan laba rugi. Berdasarkan identifikasi tersebut, berbagai mekanisme kontrol dirancang untuk memastikan setiap transaksi tercatat secara akurat dan dapat ditelusuri.

Implementasi sistem dijalankan melalui sejumlah tahapan, mulai dari perancangan kontrol, penerapan dan pemantauan berkelanjutan, evaluasi efektivitas, hingga perbaikan apabila ditemukan kelemahan dalam sistem.

Pada tahap evaluasi, perusahaan melakukan pengujian terhadap desain kontrol serta pelaksanaannya dalam kegiatan operasional sehari-hari. Langkah ini dilakukan untuk memastikan bahwa mekanisme pengawasan tidak hanya kuat secara konsep, tetapi juga efektif dalam praktik.

Dalam penerapannya, perusahaan memetakan dua potensi risiko utama yang dapat memengaruhi kualitas laporan keuangan, yaitu risiko salah saji dan risiko kecurangan (fraud).

Salah saji dapat terjadi akibat kesalahan perhitungan, klasifikasi akun yang tidak tepat, maupun proses peninjauan yang kurang memadai. Sementara itu, risiko fraud umumnya berkaitan dengan tekanan atau peluang yang memungkinkan terjadinya manipulasi data keuangan.

Untuk memitigasi risiko tersebut, perusahaan menerapkan sejumlah mekanisme pengendalian, antara lain verifikasi berlapis terhadap pencatatan transaksi, pembatasan akses terhadap sistem keuangan, serta proses rekonsiliasi rutin terhadap rekening perusahaan.

Seluruh proses bisnis dan mekanisme pengendalian tersebut juga didokumentasikan secara sistematis sehingga dapat ditelusuri dalam proses audit. Penguatan sistem pengendalian internal ini diharapkan dapat meningkatkan kualitas pengambilan keputusan di tingkat manajemen.

Dengan laporan keuangan yang lebih andal dan bebas dari salah saji material, manajemen memiliki dasar yang lebih kuat dalam merumuskan strategi bisnis, mengelola biaya, hingga mengoptimalkan pengelolaan aset di berbagai wilayah operasional perusahaan.

Ke depan, PTPN IV PalmCo berencana terus memperkuat budaya evaluasi mandiri atas sistem pengendalian internal, memperbarui peta risiko secara berkala, serta meningkatkan kapasitas sumber daya manusia melalui program pelatihan berkelanjutan.

Langkah tersebut diharapkan membuat pengendalian internal tidak hanya menjadi program kepatuhan, tetapi juga menjadi bagian dari budaya kerja perusahaan.

Bagi PTPN IV PalmCo, implementasi penuh ICoFR menjadi salah satu fondasi penting dalam agenda transformasi jangka panjang perusahaan guna memperkuat tata kelola serta meningkatkan kepercayaan investor, regulator, dan masyarakat terhadap kinerja korporasi.

Mentan Soroti Harga Minyak Goreng, Holding Perkebunan Nusantara Jaga Pasokan dan Harga MinyaKita Selama Ramadhan

Jakarta – Memasuki pertengahan bulan suci Ramadhan dan menjelang Hari Raya Idulfitri, pemenuhan kebutuhan pokok dengan harga terjangkau menjadi prioritas utama.

Merespons tingginya harga minyak goreng rakyat di pasaran yang sempat menembus angka Rp19.000 per liter, Holding Perkebunan Nusantara PTPN III (Persero) melalui Subholding PTPN IV PalmCo terus mengawal ketersediaan pasokan dan harga jual di tingkat distributor agar program stabilisasi harga pemerintah berjalan optimal.

Sebelumnya, Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menyoroti adanya anomali harga minyak goreng di pasar domestik. Dalam inspeksi mendadaknya di Pasar Kebayoran, Jakarta, beberapa waktu lalu, Mentan menemukan produk MinyaKita dipasarkan jauh di atas Harga Eceran Tertinggi (HET) Rp15.700 per liter.

Mentan dengan tegas menyatakan bahwa minyak goreng tidak boleh mahal apalagi langka. Ia menilai kenaikan harga di tengah masyarakat ini sebagai sebuah ironi, mengingat mekanisme supply and demand komoditas sawit global berjalan normal. Terlebih, data Badan Pusat Statistik (BPS) mengonfirmasi posisi strategis Indonesia sebagai produsen terbesar dunia, di mana nilai ekspor CPO dan produk turunannya sepanjang Januari–Desember 2025 mencapai US$24,42 miliar, meningkat 21,83% dari tahun sebelumnya.

Sejalan dengan arahan Menteri Pertanian untuk menertibkan rantai distribusi dan mengendalikan harga di tingkat hulu-tengah, PTPN IV PalmCo mengambil langkah yang berkelanjutan. Direktur Utama PTPN IV PalmCo, Jatmiko K. Santosa, menegaskan komitmen perusahaan sebagai perpanjangan tangan pemerintah dalam menjaga kedaulatan pangan, terutama pada momen krusial pertengahan Ramadhan hingga Lebaran nanti.

“Sebagai BUMN yang bergerak di industri perkebunan sawit, kami memiliki tanggung jawab baik moral maupun strategis untuk memastikan masyarakat bisa menjalani ibadah puasa hingga menyambut Idulfitri dengan tenang, tanpa terbebani lonjakan harga minyak goreng. Menindaklanjuti ketegasan Bapak Mentan, kami di PTPN IV PalmCo konsisten menerapkan harga jual yang sangat rasional di tingkat hulu untuk memutus mata rantai anomali harga tersebut,” ujar Jatmiko.

Jatmiko mengungkapkan, PT Industri Nabati Lestari (INL) yang merupakan Anak Perusahaan PTPN IV PalmCo, memproduksi minyak goreng program pemerintah “MinyaKita” dengan harga jual tetap terjaga di angka Rp13.439 per liter.

“Perlu dipahami bahwa harga Rp13.439 per liter ini adalah harga jual kepada customer atau mitra distributor secara B2B (Business to Business), bukan harga jual langsung ke konsumen akhir di pasar. Dengan memberikan margin yang cukup luas di tingkat hulu, kami berharap distributor menyalurkannya ke pedagang eceran dengan harga yang sehat. Tujuannya satu, agar saat tiba di tangan masyarakat, harganya tetap mematuhi HET Rp15.700 per liter sebagaimana instruksi pemerintah,” jelas Jatmiko.

Pacu Kapasitas Produksi Jelang Puncak Konsumsi

Selain memastikan kepatuhan harga di tingkat distributor, PTPN IV PalmCo juga terus memacu produksi harian agar ketersediaan barang di lapangan aman jelang puncak konsumsi Lebaran.

Jatmiko memaparkan, pada sektor hulu, produksi Crude Palm Oil (CPO) perusahaan ditargetkan terus meningkat lebih dari 10,5% menjadi sekitar 225.940 ton pada bulan April 2026. Sementara di sektor hilir, PT Industri Nabati Lestari (INL) juga telah menggenjot kapasitas produksinya secara maksimal di pertengahan bulan puasa ini.

Target produksi minyak goreng ritel oleh INL terus dipacu hingga menyentuh angka sekitar 4,2 juta liter pada bulan Maret ini, dan akan kembali ditingkatkan sebesar 7,6% menjadi lebih dari 4,55 juta liter pada bulan April 2026 mendatang.

“Seluruh kapasitas produksi pabrik kami saat ini didedikasikan dan difokuskan penuh untuk MinyaKita. Kami bahkan mengambil kebijakan untuk menunda sementara produksi beberapa merek komersial internal perusahaan. Langkah ini semata-mata agar jalur distribusi dan kapasitas pabrik secara penuh menopang ketersediaan MinyaKita di tengah masyarakat hingga Hari Raya Idulfitri,” tutup Jatmiko.

Melalui kolaborasi antara pengawasan Kementerian Pertanian di lapangan dan komitmen pasokan dari BUMN seperti PTPN IV PalmCo, diharapkan anomali harga minyak goreng tidak lagi terjadi, sehingga masyarakat dapat menjangkau kebutuhan pokok dengan harga yang wajar dan merayakan Lebaran dengan suka cita.

Aksi Bersih Lingkungan PalmCo, Wujud Komitmen Holding Perkebunan Nusantara Menuju Indonesia Asri

Medan – PTPN IV PalmCo, subholding dari Holding Perkebunan Nusantara menggelar Aksi Bersih Lingkungan Tempat Bekerja secara serentak di kawasan Region Office Regional 1 dan Regional 2, Kota Medan, Sumatera Utara. Kegiatan ini merupakan respons atas arahan Presiden RI Prabowo Subianto terkait penguatan budaya lingkungan bersih secara nasional.

Di tengah aktivitas operasional perusahaan, ratusan insan perusahaan turun langsung ke lapangan sebagai bentuk komitmen menjaga kelestarian lingkungan dan meneguhkan prinsip keberlanjutan. Bagi PalmCo, kegiatan ini bukan sekadar simbolik, melainkan pernyataan sikap bahwa keberlanjutan dimulai dari langkah nyata di lingkungan kerja.

Sebagai Badan Usaha Milik Negara (BUMN), PTPN IV PalmCo menegaskan perannya dalam mendukung visi “Indonesia Asri” (Aman, Sehat, Resik, dan Indah). Komitmen tersebut tidak hanya tercermin dalam kinerja bisnis, tetapi juga dalam upaya menjaga kebersihan dan kelestarian lingkungan sebagai fondasi keberlanjutan industri perkebunan.

Direktur Utama PTPN IV PalmCo, Jatmiko K. Santosa, turut terlibat langsung dalam aksi bersih-bersih dengan menyusuri area sungai di sekitar lingkungan kantor untuk memungut sampah anorganik. Ia menyoroti masih rendahnya kesadaran sebagian masyarakat dalam menjaga ekosistem perairan.

“Teman-teman Planters di manapun Anda berada, mari kita bangun kesadaran bersama untuk tidak membuang sampah sembarangan. Jaga selalu kebersihan. Sayangnya, pagi ini kita masih melihat realita bahwa banyak saudara-saudara kita yang membuang sampah langsung ke badan sungai. Mulai dari tumpukan sampah rumah tangga, plastik, sampai sepatu pun dibuang ke sungai. Sayang sekali melihatnya,” ungkap Jatmiko K. Santosa di sela-sela aksi bersih-bersihnya.

Ia menegaskan bahwa gerakan tersebut merupakan panggilan moral yang berdampak langsung terhadap etos kerja insan perkebunan. “Kita coba bersihkan sebisanya hari ini. Semua berawal dari lingkungan yang bersih, sehingga hati dan pikiran kita pun ikut bersih, jernih, dan penuh semangat untuk berkarya. Mudah-mudahan dengan lingkungan yang bersih, kita jadi lebih nyaman melihatnya, dan ini menginspirasi masyarakat sekitar untuk melakukan hal yang sama,” tegasnya.

Menuju Ekosistem BUMN Berkelanjutan

Direktur Strategy & Sustainability PTPN IV PalmCo, Ugun Untaryo, menambahkan bahwa kegiatan ini memiliki makna strategis dalam membangun budaya perusahaan berbasis keberlanjutan. Turun langsung ke lapangan memberikan perspektif nyata tentang kondisi lingkungan sekitar serta memperkuat kesadaran bahwa prinsip sustainability harus diwujudkan dalam tindakan sehari-hari.

Menurutnya, kerja bakti juga menjadi momentum mempererat soliditas tim. Dalam suasana kolaboratif, sekat jabatan melebur dan tercipta energi kebersamaan yang mendukung budaya kerja positif. Aktivitas fisik yang dilakukan turut menjadi pengingat pentingnya menjaga kesehatan di tengah mobilitas kerja yang tinggi.

Aksi bersih lingkungan di Medan ini diharapkan tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial, melainkan menjadi agenda rutin yang diadopsi oleh seluruh unit kebun dan pabrik PTPN di berbagai wilayah Indonesia.

Sebagai bagian dari Holding Perkebunan Nusantara, PalmCo menegaskan komitmennya untuk terus memegang prinsip keberlanjutan dalam setiap aspek operasional. Dengan lingkungan kerja yang bersih, sehat, dan asri, perusahaan optimistis dapat menjaga keseimbangan ekosistem sekaligus meningkatkan kinerja secara berkelanjutan bagi generasi mendatang.

Perkuat Pengamanan Aset HGU, PTPN Group Gandeng Kejati Lintas Provinsi

Jakarta – Upaya memperkuat tata kelola dan pengamanan aset negara kian menjadi perhatian badan usaha milik negara (BUMN) sektor perkebunan. PT Perkebunan Nusantara IV PalmCo, subholding PTPN III (Persero) menggandeng sejumlah Kejaksaan Tinggi (Kejati) di Sumatera dan Kalimantan untuk memperkuat perlindungan hukum atas aset Hak Guna Usaha (HGU) yang dikelola perusahaan.

Kerja sama yang dijalankan sepanjang 2024 hingga 2026 itu mencakup pendampingan Jaksa Pengacara Negara (JPN) dalam perkara perdata dan tata usaha negara, penyusunan pendapat hukum (legal opinion), hingga langkah pemulihan aset dan penagihan kewajiban pihak ketiga.

Direktur Utama PTPN IV PalmCo Jatmiko K. Santosa mengatakan, sinergi lintas wilayah dengan institusi kejaksaan menjadi bagian dari strategi memperkuat Good Corporate Governance (GCG) sekaligus memitigasi risiko hukum di tengah kompleksitas persoalan agraria.

“Kolaborasi dengan Kejaksaan Tinggi di berbagai provinsi adalah langkah strategis untuk membangun pengawalan hukum secara menyeluruh, mulai dari pencegahan hingga penyelesaian sengketa,” ujar Jatmiko dalam keterangan tertulis, akhir pekan lalu.

Sejumlah Kejati yang telah menjalin kerja sama antara lain Kejaksaan Tinggi Sumatera Utara, Kejaksaan Tinggi Riau, Kejaksaan Tinggi Sumatera Barat, Kejaksaan Tinggi Jambi, Kejaksaan Tinggi Kalimantan Barat, Kejaksaan Tinggi Kalimantan Selatan, Kejaksaan Tinggi Kalimantan Tengah, dan Kejaksaan Tinggi Kalimantan Timur.

Jejaring ini mencakup seluruh regional operasional PalmCo. Pendekatannya dibagi dalam dua tahap. Pada tahap preventif, perusahaan meminta pendampingan sejak awal dalam setiap kebijakan strategis agar memiliki landasan hukum yang kuat. Sementara pada tahap kuratif, JPN memberikan bantuan hukum dalam proses persidangan maupun penyelesaian sengketa.

Di Kalimantan Tengah, kesepakatan kerja sama diteken pada 13 Februari 2026. Kepala Kejati Kalimantan Tengah Nurcahyo J.M. menyatakan pihaknya siap memberikan pendampingan hukum secara profesional untuk memastikan setiap langkah strategis perusahaan tetap berada dalam koridor hukum.

Adapun di Sumatera Barat, nota kesepahaman diteken pada 12 November 2024. Kepala Kejati Sumatera Barat Muhibuddin menegaskan komitmen institusinya mendukung penguatan tata kelola perusahaan agar selaras dengan prinsip kehati-hatian dan kepatuhan regulasi.

Kompleksitas Sengketa Agraria

Langkah ini dinilai relevan mengingat luasnya areal HGU yang dikelola PalmCo serta kompleksitas persoalan lahan di sejumlah daerah. Sengketa agraria, tumpang tindih klaim, hingga penguasaan lahan oleh pihak ketiga menjadi tantangan yang kerap dihadapi perusahaan perkebunan negara.

Untuk memperkuat posisi hukum, perusahaan juga menyusun dokumentasi historis HGU dalam bentuk “buku putih” sebagai langkah antisipatif atas potensi klaim di masa mendatang.

Pengamat tata kelola BUMN menilai kolaborasi dengan aparat penegak hukum dapat mempercepat penyelesaian sengketa dan meminimalkan kerugian negara, sepanjang tetap dijalankan secara transparan dan akuntabel.

Bagi PalmCo, pengamanan aset tidak hanya terkait stabilitas operasional, tetapi juga keberlanjutan kontribusi terhadap perekonomian nasional. “Kami ingin memastikan setiap hektar aset negara yang kami kelola terlindungi secara hukum dan memberikan manfaat maksimal bagi masyarakat dan negara,” kata Jatmiko.

Di tengah sorotan publik terhadap tata kelola BUMN dan isu agraria, pendekatan kolaboratif lintas provinsi ini menjadi salah satu upaya memperkuat perlindungan aset negara sekaligus menjaga kesinambungan usaha di sektor perkebunan.

Holding Perkebunan Nusantara melalui PalmCo, Genjot Produksi CPO dan Minyak Goreng Jelang Ramadhan

Jakarta – Menjelang Ramadhan 1447 Hijriah, Holding Perkebunan Nusantara PTPN III (Persero) melalui subholding PTPN IV PalmCo, memastikan kesiapan pasokan minyak goreng nasional. Perusahaan menyatakan telah menyiapkan langkah dari hulu hingga hilir untuk menjaga stabilisasi harga di tengah tren peningkatan konsumsi masyarakat.

Direktur Utama PalmCo, Jatmiko K. Santosa, mengatakan lonjakan permintaan minyak goreng menjelang Ramadhan dan Idul Fitri bukanlah pola baru. Karena itu, manajemen mengklaim telah memetakan kebutuhan pasar sejak awal tahun.

“Kami memahami tren permintaan selalu meningkat jauh sebelum Ramadhan. Karena itu, skenario peningkatan produksi sudah dirancang dan dieksekusi sejak awal tahun. Stok bahan baku aman untuk memenuhi kebutuhan domestik,” ujar Jatmiko di Jakarta, pekan ini.

Data perusahaan menunjukkan, realisasi produksi Crude Palm Oil (CPO) pada Januari 2026 menembus lebih dari 200.000 ton, melampaui target bulanan yang telah ditetapkan. Untuk periode Maret hingga April, sebagai puncak konsumsi rumah tangga, PalmCo menargetkan kenaikan produksi lebih dari 10,5 persen menjadi sekitar 225.940 ton CPO pada April.

Langkah ini ditempuh untuk mengantisipasi potensi gejolak harga di pasar. Sejumlah pengamat menilai, stabilitas pasokan menjadi faktor kunci meredam kenaikan harga minyak goreng yang kerap terjadi menjelang hari besar keagamaan.

Fokus Hilir pada Minyak Kita

Di sektor hilir, strategi serupa dijalankan anak usaha PalmCo, PT Industri Nabati Lestari (INL). Perusahaan ini meningkatkan target produksi minyak goreng ritel pada Maret menjadi sekitar 4,2 juta liter dan dinaikkan lagi sekitar 7,6 persen menjadi lebih dari 4,55 juta liter pada April 2026.

Pelaksana Tugas Direktur INL Darwin Hasibuan menyebutkan, seluruh kapasitas produksi saat ini difokuskan pada merek minyak goreng program pemerintah, yakni Minyak Kita.

“Untuk sementara, produksi beberapa merek komersial internal kami ditunda. Seluruh jalur distribusi dan kapasitas produksi kami dedikasikan penuh untuk Minyak Kita agar pasokan di pasar melimpah,” katanya.

Kebijakan ini diambil untuk menjaga keterjangkauan harga di tingkat konsumen. Minyak Kita merupakan merek minyak goreng sederhana yang didistribusikan secara luas dengan harga yang telah ditetapkan pemerintah.

Sertifikasi dan Keterlacakan

Di tengah upaya peningkatan volume produksi, PalmCo menyatakan tetap menjaga standar keberlanjutan. Dari total 71 pabrik kelapa sawit yang dikelola, sebanyak 67 pabrik atau 94,36 persen telah mengantongi sertifikasi Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO). Sementara itu, 68 pabrik atau 95,77 persen telah tersertifikasi Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO).

Selain sertifikasi, perusahaan memperkuat sistem keterlacakan (traceability) bahan baku. Beberapa unit seperti PKS Rambutan, PKS Sei Mangkei, PKS Bah Jambi, dan PKS Pulu Raja dijadikan percontohan integrasi data kebun dan pabrik sehingga asal-usul tandan buah segar (TBS) dapat ditelusuri hingga ke sumbernya.

Menurut Jatmiko, transparansi rantai pasok menjadi bagian penting dalam menjaga kepercayaan publik. “Masyarakat berhak mendapatkan jaminan bukan hanya soal harga dan stok, tetapi juga kepastian bahwa minyak goreng diproduksi dari sumber yang lestari dan terlacak,” ujarnya.

Seiring mendekatnya Ramadhan, pemerintah dan pelaku industri dihadapkan pada tantangan menjaga keseimbangan antara pasokan dan stabilitas harga. Upaya PalmCo meningkatkan produksi dan memfokuskan distribusi pada minyak goreng bersubsidi menjadi salah satu langkah yang diharapkan mampu meredam potensi gejolak di pasar domestik.