Politik Santun, Menang Tanpa Balas Dendam

Kota Langsa – Politik itu mirip jalanan di Kota Langsa pas saat jam sibuk. Kalau semua orang ngebut, serobot, dan bunyikan klakson buat balas dendam ke pengendara lain yang nyalip duluan, yang ada malah macet total. Semua capek, semua rugi. Tapi kalau satu-dua mulai kasih jalan, senyum, dan tetap taat lampu merah, pelan-pelan arus jadi lancar. Sampai tujuan juga bareng-bareng.

Sayangnya, banyak yang masih menganggap politik itu ring tinju. Ada dendam lama, dicari panggung buat bales. Lawan salah dikit, langsung dihajar habis-habisan di medsos. Aib pribadi diumbar, prestasi dicuekin.

Padahal kita pilih pemimpin bukan buat jadi jagoan berantem, tapi buat nyari jalan keluar masalah kita: jalan berlubang, harga beras, lapangan kerja.

Orang santun bukan berarti diem kalau dizalimi. Tapi dia pilih “gelut” di ide, bukan di caci maki. Kritik boleh pedas, tapi bumbunya data. Nyerang kebijakan, bukan nyerang keluarga. Soalnya dendam itu kayak minum racun tapi berharap orang lain yang mati. Yang habis energi kita sendiri.

Demokrasi, kasih kita hak beda pilihan. Tapi etika mengajarkan kita caranya beda tanpa berantem. Ibarat main bola, tekel boleh, tapi nggak boleh sengaja patahin kaki lawan. Kalah-menang wajar, tapi selesai peluit tetap salaman. Besok ketemu di warung kopi ya ngobrol biasa lagi. Jangan gara-gara beda bendera, beda pilihan, silaturahmi putus.

Politik santun nggak maksud semua orang jadi satu suara. Itu malah bahaya. Beda pendapat itu pupuk buat demokrasi. Yang penting, bedanya di kepala, bukan di hati. Kita bisa nggak setuju sama pilihan orang, tapi tetap nganterin kalau dia sakit. Bisa debat panas di balai desa, tapi pas rewang nikahan ya ikut angkat-angkat kursi bareng.

Balas dendam di politik itu mahal ongkosnya. Hari ini kita ketawa karena lawan jatuh, besok giliran kita yang dijegal. Lingkaran setan, nggak ada habisnya. Sementara rakyat menunggu, kapan sawah diairi, kapan anak dapat sekolah bagus, kapan warga keadilan dan penghasilan yang layak.

Jadi, politik santun itu simpel, berani tarung gagasan, tapi nggak kehilangan kemanusiaan. Menang boleh, tapi jangan bikin orang lain hancur lebur. Kalah pun nggak apa, asal harga diri dan hubungan tetangga tetap utuh terjaga.

Politik santun juga harus dimulai dari masyarakatnya. Kita perlu belajar membedakan antara lawan politik dan musuh. Dalam demokrasi, lawan politik adalah pihak yang memiliki gagasan berbeda, bukan orang yang harus dibenci. Hari ini seseorang bisa menjadi lawan dalam sebuah kontestasi, tetapi besok ia bisa menjadi mitra dalam membangun daerah dan bangsa.

Karena itu, menjaga hubungan baik setelah kompetisi berakhir merupakan bentuk kedewasaan politik yang sangat penting.

Pada akhirnya, demokrasi yang kuat tidak dibangun oleh kemenangan satu kelompok atas kelompok lain.

Demokrasi tumbuh ketika semua pihak bersedia menghormati aturan, menghargai perbedaan, dan menempatkan kepentingan masyarakat di atas kepentingan pribadi maupun kelompok. Politik yang dipenuhi dendam hanya akan melahirkan siklus konflik yang tidak pernah selesai. Sebaliknya, politik santun akan membuka jalan bagi dialog, kerja sama, dan kemajuan bersama.

Bangsa ini membutuhkan lebih banyak teladan tentang bagaimana berpolitik dengan bermartabat. Menang tanpa merendahkan, kalah tanpa memusuhi, mengkritik tanpa menghina, dan memimpin tanpa membalas dendam. Sebab pada akhirnya, kekuasaan hanyalah titipan yang bersifat sementara, sedangkan persaudaraan dan persatuan bangsa adalah warisan yang harus dijaga selamanya.

Politik santun bukan tanda kelemahan. Politik santun adalah tanda kedewasaan. Demokrasi yang dewasa hanya dapat lahir dari mereka yang memilih merangkul, bukan membalas memukul.

Karena ujung-ujungnya, setelah baliho diturunin dan panggung dibongkar, kita tetap hidup bertetangga. Anak kita main bareng, kita kondangan ke rumah yang sama. Jangan sampai gara-gara 5 tahun sekali, kita musuhan seumur hidup.

Mau pilih siapa itu hak. Tapi cara kita berpolitik nunjukin siapa kita sebenarnya. Pilih jadi bensin, atau pilih jadi air. Dendam itu bensin: sekali percik, kebakar semua. Santun itu air: bisa padamin api, bisa juga numbuhin padi, untuk kehidupan bersama.

Gimana, masih kah mau balas dendam Politik.?

Opini, Selasa, 2 Juni 2026. Penulis; Taufiqurrahman, S.Hi, Ketua Bawaslu Kota Langsa, Mantan Wartawan Cnn Indonesia.

Karakter Kuat Seorang wartawan Sudut Pandang Wanita Mengaguminya

INSPIRASI ,a1news.co.id – Di tengah riuhnya malam sebuah kafe, di antara tawa dan dentingan sendok, terkuaklah sebuah rahasia yang menjadi dambaan banyak wanita. Bukan tentang kekayaan atau status sosial, melainkan tentang kekuatan karakter yang terpancar dari sebuah profesi: Jurnalisme.

Khanza (samaran ) seorang gadis berusia 27 tahun dengan tatapan penuh semangat, berbagi impiannya kepada kawan-kawannya, yang malam itu asyik menikmati hidangan santap malam.

“Profesi jurnalisme itu menuntut kualitas mental dan emosional yang luar biasa. Itulah yang membuat seorang wartawan memancarkan pesona yang tak tertandingi,” ujar Khanza, sorot matanya menerawang seolah membayangkan sosok ideal tersebut.

  • 1. Intelektualitas & Kecerdasan: Wawasan Tanpa Batas

Menurut Khanza, daya tarik utama seorang wartawan adalah intelektualitasnya. Mereka selalu berada di garis depan informasi, membuat wawasan mereka menjadi luas dan mendalam.

“Mereka adalah teman diskusi yang hebat,” jelas Khanza sambil menggerakkan tangannya penuh antusias. “Mereka mampu menganalisis masalah kompleks, dari politik global hingga isu sosial lokal, dan menyajikannya dengan cara yang mudah dipahami. Rasanya, dunia ada dalam genggaman setiap kali berbicara dengan mereka.”

  • 2. Keberanian dan “Tahan Banting” (Grit): Pelopor Tanpa Rasa Takut

Khanza melanjutkan, menyoroti sifat yang paling menantang dari profesi ini—dan justru menjadikannya sangat memikat: Keberanian dan ketangguhan.”Wartawan adalah pelopor yang tidak takut pada bahaya atau ketidaknyamanan.

Tugas mereka adalah menggali informasi dari berbagai macam orang, dari presiden hingga rakyat jelata. Mereka menghadapi tekanan, ancaman, bahkan bahaya fisik, tapi tetap ‘tahan banting’ demi kebenaran. Pria dengan keberanian seperti itu, siapa yang tidak kagum?”

  • 3. Integritas dan Kejujuran: Fondasi Hubungan Sejati

Namun, di antara semua poin profesional tersebut, Khanza menutup penjelasannya dengan kualitas yang paling ia anggap krusial dalam sebuah hubungan: Integritas dan Kejujuran.

“Mereka adalah sosok yang menjunjung tinggi prinsip kejujuran. Dalam hubungan, kejujuran adalah hal utama. Mereka tidak akan menipu karena profesi mereka menuntut integritas yang sangat tinggi. Kebenaran adalah mata uang mereka,” tegas Khanza, meyakinkan kedua temannya.

  • Sebuah Gumaman Harapan

Obrolan hangat itu berakhir dengan sebuah refleksi ringan. Salah satu teman Khanza yang berhijab, yang sedari tadi merekam candaan mereka, bergumam sambil tersenyum, seolah baru saja menemukan pencerahan:

Hmm…m…saya juga pengen dong punya pendamping hidup seorang suami jurnalis.”

” Kisah Khanza dan teman-temannya membuktikan, bahwa pesona sejati tidak hanya terletak pada penampilan atau harta, melainkan pada karakter kuat yang terbentuk dari dedikasi pada kebenaran, keberanian, dan kecerdasan. Seorang wartawan, dalam konteks ini, menjadi simbol dari pria idaman yang karakternya telah teruji oleh kerasnya medan tugas.***

By; Endang Suryana 

Dayung Lebih kuat Karena Jalan Tidak Selalu Datar

INSPIRASI ,a1news.co.id – perumpamaan yang sangat kuat dan inspiratif mengenai perjuangan hidup!

Anda bertanya tentang hal spesifik mengenai cara mempertahankan semangat saat ‘mendaki’ (saat menghadapi tantangan besar).

Mengambil inspirasi dari perumpamaan Anda tentang “Mendayung Lebih Cepat” dan “Keteguhan Hati & Semangat,” berikut adalah beberapa cara spesifik untuk menjaga semangat tetap menyala selama “pendakian” atau masa sulit:

🌟 Strategi Mempertahankan Semangat Saat “Mendaki”

1. Memanfaatkan Kekuatan Tujuan (Tali Penarik)

* Visualisasikan “Puncak” (The End Goal): Ingatkan diri Anda mengapa Anda memulai pendakian ini. Semangat sering luntur ketika kita kehilangan pandangan akan hasil akhir. Bayangkan perasaan dan manfaat setelah berhasil mencapai puncak atau melewati “petang.”* Perkuat ‘Why’ Anda: Tuliskan alasan terdalam (nilai, impian, orang yang Anda cintai) yang membuat perjuangan ini sepadan. Saat lelah, baca kembali ‘why’ ini—ini adalah jangkar emosional Anda.

2. Strategi “Dayung Kecil” (Mengelola Energi)

* Rayakan “Dayungan” Kecil (Small Wins): Jangan menunggu puncak untuk merasa bangga. Rayakan selesainya tujuan kecil harian yang Anda sebutkan. Pengakuan terhadap kemajuan kecil adalah bahan bakar semangat yang instan dan berkelanjutan.

* Jeda dan Isi Ulang (Istirahat yang Disiplin): Mendayung kencang tidak berarti tanpa istirahat. Atur waktu jeda yang berkualitas (misalnya, teknik Pomodoro, istirahat sejenak). Istirahat yang terencana akan mengembalikan energi agar Anda bisa mendayung lebih efektif, bukan berhenti total karena kelelahan.

* Fokus pada Satu Dayungan: Saat kesulitan datang bertubi-tubi, terapkan fokus penuh hanya pada tugas kecil yang ada di depan Anda saat ini, seperti yang Anda sarankan. Hindari memikirkan seluruh sisa pendakian.

3. Mengoptimalkan Lingkungan Emosional

* Pilih “Awak Kapal” yang Tepat (Dukungan Sosial): Berinteraksi dengan orang-orang yang juga memiliki semangat atau yang bisa memberikan dorongan positif. Semangat itu menular—jauhkan diri dari energi negatif yang bisa ‘membocorkan’ perahu Anda.

* Ubah Perspektif Rintangan: Daripada melihat rintangan sebagai hukuman, lihatlah sebagai latihan ketahanan yang spesifik dan wajib dilewati. Ini bukan tentang betapa sulitnya, tapi tentang betapa kuatnya Anda harus menjadi.

* “Jurnal Dayung”: Catat tantangan yang sudah Anda taklukkan di masa lalu. Saat semangat turun, buka jurnal itu untuk mengingatkan diri sendiri: “Saya sudah pernah melewati yang lebih sulit, dan saya bisa melewatinya lagi.” Ini adalah bukti nyata Keteguhan Hati Anda.

Intinya, mempertahankan semangat saat “mendaki” adalah kombinasi antara disiplin aksi harian (Mendayung Lebih Kencang) dan disiplin mental (Keteguhan Hati) yang terus-menerus diingat. (Endang.s/Ai)

“Tenggelam Ditengah Kesadaran, Ego Menghapus Masa Depan”

A1news.co.id|Takengon – “Sombong dan ego bukanlah tanda kekuatan atau kemuliaan. Ia hanya topeng bagi kelemahan dan ketakutan.

 

Orang cerdas tahu cara merendah, karena mereka tak perlu membuktikan apa-apa, justru kebodohanlah yang merasa perlu bersuara paling keras untuk dianggap hebat.”

 

Ada satu kisah yang terlalu sering terulang di sudut-sudut gelap kehidupan masyarakat di Aceh Tengah.

 

Kisah tentang seseorang yang menolak untuk diselamatkan, bukan karena tidak mampu, tapi karena terlalu tinggi hati untuk mengakui bahwa ia sedang tenggelam.

 

Ia adalah pengguna narkoba. Dulu dikenal sebagai pemuda cerdas di lingkungannya. Ia punya harapan besar untuk meraih masa depan, bahkan menjadi kebanggaan keluarga dan banyak orang.

 

Namun hari ini, ia adalah sosok yang hancur oleh pilihannya sendiri, bukan karena tak ada yang menolong. Bukan karena tak ada jalan keluar.

 

Tapi karena egonya terlalu besar untuk mengakui kesalahan, dan sombongnya terlalu tinggi untuk menerima uluran tangan.

 

Sombong, dalam kasus ini, bukan hanya soal membusungkan dada.

Sombong adalah saat seseorang tahu dia salah, tapi tetap berjalan di arah yang sama karena gengsi untuk kembali ke jalan terang.

 

Ego adalah saat seseorang memilih kehancuran, daripada mengakui bahwa ia butuh bantuan dan itu bukanlah keberanian.

 

Itu adalah kebodohan yang menyamar sebagai keteguhan.

Sementara ia terus hidup dalam keterpurukan, bagai tenggelam dalam lumpur,semakin ia bergerak, semakin ia terperosok dalam.

 

Keluarga pun ikut runtuh harapannya. Ibu, ayah, istri, dan anak hanya bisa termenung, menatap masa depan yang semakin buram.

 

Ibu yang tak lagi bisa tidur nyenyak, Ayah yang menua lebih cepat karena menahan malu dan cibiran.

 

Anak yang kehilangan harapan, menanggung beban dari jalan hidup yang tidak mereka pilih, satu orang jatuh, satu keluarga ikut hancur.

 

Semua itu terjadi karena satu keputusan yang dipegang erat, menolak berubah.

 

Lantas, apa yang membuat seseorang begitu keras kepala mempertahankan kehancuran? Jawabannya hanya satu adalah ego.

 

Ego adalah racun yang bahkan lebih mematikan dari narkoba itu sendiri. Ia membutakan, memekakkan, dan menutup hati dari kebaikan.

 

Ia membuat orang merasa benar, meski jelas-jelas salah. Ia membuat orang merasa hebat, padahal sebenarnya sedang berada di ambang kehancuran.

 

Kita hidup di zaman di mana mengakui kesalahan dianggap kelemahan. Padahal, hanya orang kuat yang sanggup mengaku salah dan mau memperbaikinya.

 

Kecerdasan bukan diukur dari seberapa keras seseorang membantah nasihat, atau seberapa piawai ia memutar balik kata. Tapi dari seberapa cepat ia kembali ke jalan yang benar saat sadar bahwa dirinya tersesat.

 

Orang yang benar-benar cerdas akan menjauh dari narkoba. Bukan hanya karena sadar bahayanya, tapi karena ia tahu bahwa hidup jauh lebih berharga daripada rasa tinggi sesaat yang berujung penyesalan seumur hidup.

 

Tidak ada kebanggaan dalam kehancuran, tidak ada kehebatan dalam menolak pertolongan dan tidak ada kecerdasan dalam mempertahankan kebodohan.

 

Kepada siapa pun yang masih bergumul dalam jerat narkoba:

Masih ada kesempatan untuk kembali,  “Turunkan Ego, Akui Salahmu, dan Pilihlah Jalan Hidup”.

 

Raihlah masa depan yang bersinar, jangan biarkan kesombongan membuatmu kehilangan segalanya,termasuk mereka yang paling mencintaimu.

 

Penulis : Ketua GANN Aceh Tengah Yusra Effendi

Ide Inspirasi: Hamil Bawa Berkah, Jurus Jitu Usir Kemiskinan!

Banda Aceh – Bagaimana jika kehamilan seseorang bisa jadi jalan rezeki buat tetangga kita yang kesulitan?. Inilah ide sederhana namun penuh makna: “Kambing Berkah”.

Bayangkan, setiap ada ibu hamil yang baru diketahui melalui Posyandu, perangkat desa segera mendata dan membeli dua ekor kambing muda senilai Rp 1 juta tiap ekornya. Kambing ini lalu dipercayakan kepada keluarga miskin di desa untuk dipelihara hingga ibu tersebut melahirkan.

Tenang, kandangnya desa yang siapkan di balai desa dari Dana Desa, sehingga tidak memberatkan keluarga miskin.

Mengapa harus di Balai Desa atau tempat lain milik desa?, adalah agar setiap penduduk lain juga berkesempatan membantu memberi pakan (meskipun kambing tersebut sudah diserahkan tanggung jawab pemeliharaan dan penggemukannya kepada keluarga miskin), fungsi ini untuk menguatkan rasa tanggung jawab sosial dan kepedulian bersama.

Setelah bayi lahir, kambing-kambing tersebut dijual sebagai hewan aqiqah. Kalau awalnya harga beli kambing hanya Rp 1 juta, setelah dipelihara beberapa bulan bisa dijual Rp 3 juta.

Artinya, keluarga miskin mendapatkan tambahan penghasilan sebesar Rp 2 juta per kelahiran! Modal awal dikembalikan lagi ke desa untuk menjadi modal berjalan selanjutnya.

Tidak berhenti di situ, jika bayi yang lahir perempuan, satu kambing tersisa bisa dialihkan untuk acara sunatan atau qurban di Idul Adha nanti.

Nah, perangkat desa harus kreatif mendata juga warga yang berencana mengadakan hajatan sunatan atau yang ingin berkurban di tahun tersebut, sehingga kambing selalu tersedia dan keluarga miskin terus mendapat manfaat.

Mari bayangkan, dalam setahun, setiap keluarga miskin bisa merawat minimal 6 ekor kambing setiap tahun, baik untuk keperluan aqiqah, qurban atau hajatan sunat.

Setiap desa yang rutin menjalankan program ini akan membantu keluarga miskin mendapat tambahan pendapatan setidaknya Rp. 12 juta setahun, hal ini tentu akan sangat membantu keluarga miskin mendapat aktivitas produktif tambahan di luar aktivitas utamanya.

Sekarang kalikan dengan jumlah desa di Aceh, betapa besar dampaknya terhadap pengurangan angka kemiskinan di Aceh!. Ide ini sangat sederhana, ringan, dan bisa langsung diterapkan.

Hanya butuh komitmen, kreativitas perangkat desa dalam pendataan, dan pemanfaatan Dana Desa secara bijak. Desa-desa akan makmur, tradisi seperti aqiqah, sunatan, dan qurban juga semakin hidup.

Ayo bergerak sekarang! mulai dari desa anda sendiri. Karena perubahan besar dimulai dari ide sederhana yang dijalankan dengan hati.

Penulis: Safuadi Harun, Pengamat Ekonomi dan Pembangunan Aceh.

Kepala Kanwil DJBC Aceh: Membuka Jalan Baru, Transformasi Pembangunan Aceh Menuju Kemandirian

Banda Aceh – Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (Kanwil DJBC) Aceh mengatakan, membuka jalan baru dan menjadi transformasi pembangunan Aceh menuju kemandirian, Jum’at (21/02/2024).

Aceh berpeluang menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru di Indonesia dengan meninggalkan pola lama dan mengadopsi strategi inovatif berbasis produktivitas dan investasi.

Selama ini Aceh masih bergantung pada belanja pemerintah dan dana transfer dari pusat, yang menyebabkan stagnasi ekonomi. Namun, dengan potensi besar yang dimilikinya di sektor pertanian, perikanan, industri berbasis sumber daya alam, serta pariwisata, Aceh memiliki peluang besar untuk berkembang jika strategi pembangunan yang diterapkan lebih dinamis dan inovatif.

Pakar ekonomi dan pembangunan Aceh, Safuadi, ST., M.Sc., Ph.D, yang juga merupakan Kepala Kantor Wilayah Bea dan Cukai Aceh, menekankan pentingnya reformasi kebijakan guna mendorong investasi swasta, memperkuat daya saing sumber daya manusia, serta memperbaiki iklim usaha. Reformasi birokrasi yang pro-investasi dan pembangunan infrastruktur strategis menjadi kunci dalam mewujudkan transformasi ekonomi Aceh. Langkah ini tidak hanya mengurangi ketergantungan ekonomi terhadap dana transfer pusat, tetapi juga menjadikan Aceh sebagai pemain utama dalam perekonomian nasional dan global.

Menggeser Fokus ke Arah Kemajuan

Salah satu strategi utama yang disarankan adalah penerapan teori distraksi, yakni mengalihkan perhatian dari ketergantungan pada dana otonomi khusus ke solusi nyata yang lebih produktif. Sebagai contoh, energi dapat difokuskan pada pembangunan ekosistem bisnis yang lebih sehat melalui pengembangan zona ekonomi khusus, digitalisasi layanan publik, serta promosi ekspor produk unggulan seperti kopi Gayo dan hasil perikanan.

Inovasi dan Produktivitas sebagai Pilar Kemajuan

Transformasi ekonomi Aceh tidak bisa hanya sekadar wacana, tetapi harus diwujudkan melalui langkah konkret. Pendidikan dan pelatihan berbasis teknologi serta kewirausahaan menjadi aspek krusial agar generasi muda Aceh siap bersaing dalam industri kreatif dan digital. Pemerintah juga perlu memberikan kemudahan dalam berusaha dengan menghapus regulasi yang menghambat, mempercepat perizinan, serta memberikan insentif bagi industri bernilai tambah tinggi.

Sektor unggulan seperti perikanan tangkap dan budidaya, industri pengolahan hasil pertanian, serta pariwisata berbasis budaya dan alam harus mendapatkan dukungan penuh. Infrastruktur pendukung seperti bandara ekspor, jaringan logistik efisien, serta kawasan industri berbasis teknologi harus segera diwujudkan agar Aceh dapat bersaing di tingkat nasional maupun internasional.

Mengatasi Tantangan Kemiskinan, Ketergantungan, dan Resistensi terhadap Perubahan

Tantangan utama yang dihadapi Aceh dalam pembangunan ekonomi adalah kemiskinan, ketergantungan ekonomi, dan resistensi terhadap perubahan. Untuk mengatasi hal ini, strategi berbasis pemberdayaan ekonomi yang berkelanjutan perlu dikembangkan, seperti akses permodalan berbasis syariah bagi UMKM, penguatan rantai nilai pertanian dan perikanan, serta pelatihan keterampilan sesuai kebutuhan pasar global.

Selain itu, pemerintah harus mengurangi ketergantungan terhadap dana transfer dengan memperkuat sektor-sektor yang dapat meningkatkan pendapatan asli daerah. Fokus pada investasi dan ekspor menjadi prioritas, termasuk mengembangkan industri hilir dari komoditas unggulan Aceh.

Sementara itu, dalam menghadapi resistensi terhadap perubahan, pemerintah perlu melakukan sosialisasi efektif kepada masyarakat dan pemangku kepentingan mengenai manfaat transformasi ekonomi ini. Penyediaan jaring pengaman sosial bagi kelompok terdampak juga menjadi langkah penting dalam memastikan keberlanjutan perubahan.

Dengan strategi yang tepat, Aceh tidak hanya akan keluar dari stagnasi ekonomi yang telah berlangsung lama, tetapi juga mampu menjelma menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru di Indonesia dan bersaing di tingkat global.

Pegawai Yang Berjiwa Patriot Suka Membantu Orang Yang Lemah

A1news.co.id|Langsa– Di saat di jumpai awak media di salah satu warkop di sekitaran kota Langsa, beliau menyampaikan ,selama ini diri nya suka membatu masyarakat yang lemah dan peduli kepada masyarakat yang teraniaya oleh pihak pemerintah. Kamis( 22/08/2024)

 

Zulfadli S.Sos.MM. adalah seorang ASN yang jujur dan peduli kepada masyarakat yang teraniaya dan itu di buktikan dengan beliau ciptakan sebuah lembaga yang bergerak untuk membantu masyarakat, sekitar pukul ,09.45wib , di sebuah warkop.

 

Beliau sadar betul, dimana masyarakat Kota Langsa selama ini banyak mengeluh atas beberapa masalah baik itu dari segi pelayanan maupun bantuan dari pemerintah yang mereka tidak mendapatinya sementara nama masyarakat tersebut tertera di pusat.

 

Tetapi bantuan tidak ada dapat di miliki tentu ini membuat saudara zulfadli yang disapa zol heng merasa geram melihat kondisi rakyat kota Langsa yang terkesan di jadikan sebuah objek permainan.

 

Dari oknum pejabat yang ada di pemerintah. Maka disitulah beliau terjun dan turun langsung untuk membantu masyarakat yang perlu bantuannya.

 

Beliau pun tidak pernah meminta upah dari hasil kerjanya hanya saja beliau berpesan kepada masyarakat yang mau meminta jasanya.

 

Beliau mengharapkan biaya surat tolong di tanggung oleh yang menerima laporan itu dan satu lagi setiap beliau berkerja beliau mengharapkan kopi Nescafe serta rokok surya 2 batang buat beliau bisa fokus di dalam bekerja untuk mengonsep beberapa surat buat dilayangkan si setiap instansi yang di perlukan.

 

Beliau di dalam bekerja di dalam pemerintah kota Langsa beliau selalu dizalimi oleh para-para oknum pejabat di kota Langsa terkadang di takut-takuti serta di benci atas sok nya beliau menjadi pahlawan kesiangan terhadap warga masyarakat susah.

 

Sebenarnya beliau sangat besar jasanya terhadap indonesia dan pemerintah aceh.

 

Beliau pernah meminta kepada bapak sutiyoso selaku kepala BIN di masa Presiden Susilo bambang yudiyono (SBY) terhadap mantan separatis GAM “Din minimi” yang pernah bergejolak lagi pasca setelah damai di aceh.

 

Tujuan beliau untuk menyuratkan hal itu kepada Badan Intelijen Negara agar saudara din minimi dapat di kita rangkul kembali untuk di jadikan warga negara yang baik di NKRI karena menurut beliau kitalah yang dapat melakukan itu kepada warga yang kurang memahami seluk beluk aturan di negara ini.

 

Dan bukan itu saja perjuangan beliau. Beliau perna berbuat untuk mengusulkan melalui surat kepada menteri kesehatan saudari ibu siti fadilah selaku menteri kesehatan di masa kepresidenan bapak SBY.

 

Beliau meminta agar seluruh honorer yang ada di indonesia bisa di bantu untuk diangkat menjadi pegawai negri sipil dan banyak lagi yang pernah di buatnya khususnya untuk warga Langsa dan hal ini pun di ketahui oleh beberapa orang aja soalnya beliau jarang menonjolkan kemampuannya kepada publik atas jasa-jasanya selama ini.

 

Kenapa berita ini di turunkan karena beliau sudah tidak tahan lagi di mana selama ini nasibnya selalu dizalimi di kota Langsa. (Hen)

Awan Dan Pribahasa Politik November, “Kule Kuring Si Patute Jengkat, Hana Kati Kule Rewat Mubungei Diri”

A1news.co.id| Feature – Pribahasa inilah yang terdengar dari ungkapan laki-laki 58 tersebut awan biasa orang sekitar menyapa,ama orang terdekat memanggil nya(pentalun,tutur) di gayo dia sepuh,tetapi penduduk kampung.

 

Setempat mempredikati nya sebagai sesepuh yang alim lagi bijaksana dua hal istimewa ini lah yang bertahta dalam perangai awan tersebut di lengkapi ungkapan Pribahasa atau permisalan yang membuat nya semakin menguatkan karismanya sebagai sosok yang bijak bertindak dan bertutur kata.

 

Ketika di mintai penulis tanggapan nya tentang situasi politik jelang Pemilukada mendatang sehingga awan pun menuangkan pengalaman dalam uraian Pribahasa Gayo tersebut.

 

Di sela pembicaraan nya, Awan kembali mengulangi pribahasa Gayo sudah di ucapkan

“Kule si Patute jengkat Hana Kati Kule Gewat mubungei diri” melambangkan karakter Pemimpin yang akan hadir memimpin Bener meriah mendatang dengan karakter baik nya ada pula pemimpin mendatang berkarakter buruk jadi iktikad atau tujuan nya memimpin hanya sekedar menginginkan kekuasaan lalu mempermudah nya dalam meraup keuntungan pribadi tanpa memperdulikan daerah ini jelas awan.

!kenapa awan menyebut” kule”harimau”

Awan menjawab”
Maksud dari Harimau atau kule lambang penguasa rimba Ara kule gewat”ada harimau gewat”Ara kule Kuring”ada harimau belang”

Ada pemimpin yang akan hadir sesuai karakternya asli di sertai kebaikan nya proporsional ada juga yang pemimpin Bener Meriah mendatang “berperage” lagu kera”berperangai seperti kera” setelah mendapat jabatan dia akan lupa dengan apa yang di janji kan kepada masyarakat lewat visi dan misi nya ia lalai.

Menurut awan semua ungkapan tersebut satu narasi perbandingan yang akan timbul di masyarakat luas terutama di kalangan tokoh yang mengerti dan paham serta sudah banyak belajar dari pengalaman nya di masa itu dan kini ungkap awan.

 

Sebagai referensi lain dari karya Penulis Senior Fauzan Azima tiga karakter manusia dengan sikap hewaniah nya.

 

1. Manusia berkarakter licik sipat hewaniah nya adalah ular’ apabila di kaitkan dengan situasi politik saat ini justru orang-orang seperti ini akan memanfaatkan situasi demi kepentingan pribadi nya demi kepuasan egonya
2. Manusia berkarakter kuda titisan sipat hewaniah nya keras
3. Sedangkan manusia berkarakter tidak punya malu titisan sipat hewaniah nya seperti anjing.

 

Apabila di kait kan dengan situasi Politik Benar adanya Setiap manusia akan menjumpai karakter pemimpin nya sesuai kondisi masyarakat nya.(Red)

 

Ujung Pintu Rime Gayo Bener Meriah Kamis, 22 Agustus 2024.

Political Observer” At The End Of Time, Lack Of Sense Of Nationalism For Candidates Who Will Come In The 2024 – 2029 Period

A1news.co.id|Langsa-The diminishing sense of nationalism among candidates in the 2024 – 2029 period is like many leaders at the end of the era who feel they can lead the provincial/regional and regional levels, even though they have not been able to develop human resources at the regional level. / province, especially for the individual himself. Wednesday (21/08/2024)

 

Observing the politics that are visible to candidates who will run for governor of their respective provinces or regions. at 13.45 WIB.

 

Conveying through the release of words, today we observe the figures of candidates in the 2024 – 2029 period, always to fool the general public who do not understand what politics is, it turns out it is for the interests of a group and those closest to them,

 

If we study the truth that a leader must prioritize the community around him, just like the community that allows the candidate to sit on a throne,

 

If we examine it further regarding the issue of a leader, he should act according to existing rules, and ensure the welfare of his community, then we are in the interests of the closest group or people around him,

 

We examine further, and we explore more deeply what a leader must do for the community, and create a vision and mission for the community, in order to increase the community’s sense of empathy for the leader.

 

We hope that leaders who will be trusted by the public will act according to the actual rules.(Hen).

Ustadz Al Fajar : Dilemparkan Ke Neraka Akibat Lisan

A1news.co.id|Takengon– Kajian Hadits setiap Subuh kali ini melanjutkan hadits yang ke 3 dari kitab 100 hadits populer untuk Hafalan yang di tulis oleh Tim Da’i di Zulfi Saudi Arabia.

 

Hadits Nabi _shallallahu alaihi wasallam_, dari Abu Hurairah _Radhiyallahu anhu_ disebutkan:

 

إِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مَا يَتَبَيَّنُ فِيْهَا، يَزِلُّ بِهَا فِي النَّارِ أَبْعَدَ مِمَّا بَيْنَ الْمَشْرِقِ

 

“Sesungguhnya seorang hamba mengucapkan suatu kata yang ia tidak memperhatikannya, tidak memikirkan kejelekannya dan tidak khawatir akan akibat/dampaknya, ternyata karenanya ia dilemparkan ke dalam neraka lebih jauh dari apa-apa yang ada di antara masyriq/timur.” (HR. Al-Bukhari no. 6477 dan Muslim no. 7406, 7407)

 

 

Al-Imam An-Nawawi rahimahullahu menasihatkan, “Sepantasnya bagi orang yang ingin mengucapkan satu kata atau satu kalimat, ia merenungkan dan memikirkan kata/kalimat tersebut dalam jiwanya sebelum mengucapkannya.

 

Bila memang tampak kemaslahatan dan kebaikannya maka ia berbicara. Bila tidak, maka sebaiknya ia menahan lisannya.” (Al-Minhaj, 18/318)

 

Al-Hafizh Ibnu Rajab Al-Hambali rahimahullahu dalam kitabnya Jami’ul ‘Ulum wal Hikam (1/339-340) menukilkan ucapan tiga sahabat yang mulia berikut ini:

 

‘Umar ibnul Khaththab radhiyallhu ‘anhu berkata, “Siapa yang banyak bicaranya akan banyak jatuhnya (dalam kesalahan). Siapa yang banyak jatuhnya, akan banyak dosanya. Dan siapa yang banyak dosanya niscaya neraka lebih pantas baginya.”

 

Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallhu ‘anhu memegang lisannya dan berkata, “Ini yang akan mengantarkan aku ke neraka.”

 

Ibnu Mas’ud radhiyallhu ‘anhu berkata, “Demi Allah yang tidak ada sesembahan yang patut diibadahi kecuali Dia! Tidak ada di muka bumi ini yang lebih pantas untuk dipenjara dalam waktu yang panjang daripada lisan.”

 

Ingatlah saudaraku, firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

 

مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ

 

“Tidak ada satu ucapan pun yang diucapkannya melainkan di dekatnya ada malaikat pengawas yang selalu hadir.” (Qaf: 18)

 

Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullahu menukilkan perkataan Ibnu Abbas radhiyallhu ‘anhuma tentang ayat di atas, “Malaikat itu mencatat setiap apa yang diucapkannya berupa kebaikan ataupun kejelekan.” (Tafsir Al-Qur`anil ‘Azhim, 7/308)

 

Ingatlah, semuanya tercatat dan tersimpan dalam catatan amalmu. Maka berbahagialah engkau bila catatan amalmu dipenuhi dengan kebaikan, ucapan yang baik dan amal shalih. Tentunya janji Allah Subhanahu wa Ta’ala berupa surga kan menanti…

 

Sebaliknya celaka engkau bila catatan amalmu dipenuhi ucapan kosong, sia-sia lagi mengandung dosa dan amal yang buruk. Tentunya ancaman neraka menanti…

 

Bila demikian keadaannya ke mana engkau hendak menuju, ke surga ataukah ke neraka? Tentu tanpa ragu engkau ingin menjadi penghuni surga. Maka, jangan biarkan lisanmu menggelincirkan mu ke dalam jurang kebinasaan yang tiada bertepi.(EL)

 

 

KAjian Rutin Ba’da Subuh Markaz Dakwah Al-Ghuroba’ Takengon