Holding Perkebunan Nusantara Gelar Pra Workshop Percepatan Penyelesaian Tindak Lanjut Audit di KPBN

JAKARTA – Holding Perkebunan Nusantara PTPN III (Persero) menyelenggarakan Pra Workshop Penyelesaian Tindak Lanjut Rekomendasi Audit Internal dan Eksternal yang berlangsung di PT Kharisma Pemasaran Bersama Nusantara (KPBN) pada 3–5 Juni 2026. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya memperkuat tata kelola perusahaan serta mempercepat penyelesaian rekomendasi hasil audit di lingkungan PTPN Group.

Pra workshop yang dilaksanakan secara hybrid tersebut diikuti oleh perwakilan Satuan Pengawasan Intern (SPI) dan unit kerja terkait dari berbagai entitas PTPN Group. Kegiatan ini merupakan tindak lanjut atas hasil Monitoring dan Evaluasi Tindak Lanjut Temuan Audit Internal dan Eksternal yang bertujuan mendorong percepatan penyelesaian rekomendasi hasil audit secara terukur dan berkelanjutan.

Selama tiga hari pelaksanaan, para peserta melakukan pembahasan terhadap tindak lanjut hasil temuan Audit SPI Holding, hasil reviu tata kelola investasi dan pemasaran, serta hasil pemeriksaan Badan Pemeriksa Keuangan Republik Indonesia (BPK RI).

Kegiatan ini juga menjadi forum koordinasi dan konsolidasi antarentitas dalam mengidentifikasi berbagai kendala yang dihadapi, menyelaraskan tanggung jawab pelaksanaan tindak lanjut, serta merumuskan langkah-langkah strategis untuk mempercepat penyelesaian rekomendasi audit.

Melalui pelaksanaan pra workshop ini, Holding Perkebunan Nusantara berharap penyelesaian tindak lanjut rekomendasi audit internal maupun eksternal dapat berjalan lebih efektif dan tepat waktu. Upaya tersebut diharapkan mampu mendukung penguatan tata kelola perusahaan yang baik (Good Corporate Governance/GCG), meningkatkan efektivitas sistem pengendalian internal, serta menciptakan nilai berkelanjutan bagi seluruh entitas PTPN Group.

Sebagai bagian dari transformasi berkelanjutan yang dijalankan perusahaan, penguatan fungsi pengawasan dan percepatan penyelesaian rekomendasi audit menjadi elemen penting dalam mendukung peningkatan kinerja, transparansi, akuntabilitas, serta keberlanjutan bisnis Holding Perkebunan Nusantara di masa mendatang.

Holding Perkebunan Nusantara Tebar Manfaat Idul Adha, 1.713 Hewan Kurban PalmCo Disalurkan ke Berbagai Daerah

JAKARTA – Menjelang Hari Raya Idul Adha 1447 Hijriah, karyawan muslim PT Perkebunan Nusantara IV PalmCo, Subholding Perkebunan Nusantara PTPN III (Persero), menyiapkan sedikitnya 1.713 ekor hewan kurban yang akan disalurkan kepada masyarakat di sekitar wilayah operasional perusahaan di berbagai daerah.

Jumlah tersebut terdiri dari 1.483 ekor sapi dan 230 ekor kambing atau domba. Hewan kurban itu tersebar di tujuh regional operasional perusahaan yang mencakup wilayah Sumatera hingga Kalimantan.

Direktur Utama PT Perkebunan Nusantara IV PalmCo, Jatmiko K Santosa mengatakan, pengadaan hewan kurban mayoritas berasal dari partisipasi sukarela para karyawan muslim di lingkungan perusahaan. Tradisi tahunan itu, menurut dia, menjadi bagian dari budaya gotong royong yang terus dipertahankan di tengah aktivitas bisnis perusahaan.

“Pembiayaan hewan kurban ini sebagian besar berasal dari urunan mandiri karyawan di berbagai unit kerja. Ini menunjukkan semangat kebersamaan dan kepedulian sosial yang tumbuh di lingkungan perusahaan,” ujar Jatmiko dalam keterangan tertulis, Rabu (20/5/2026).

Ia menambahkan, pelaksanaan kurban tidak semata dimaknai sebagai kegiatan seremonial keagamaan, melainkan juga upaya memperkuat hubungan sosial antara perusahaan dan masyarakat sekitar perkebunan.

Menurut Jatmiko, distribusi daging kurban tahun ini juga diarahkan untuk membantu masyarakat yang terdampak banjir di sejumlah wilayah Sumatera. Penyaluran dilakukan antara lain di kawasan sekitar Batang Toru hingga beberapa daerah di Aceh yang dalam beberapa waktu terakhir mengalami bencana banjir. “Kami ingin kehadiran perusahaan dapat dirasakan langsung manfaatnya oleh masyarakat, terutama bagi mereka yang sedang menghadapi kondisi sulit,” kata dia.

Jumlah hewan kurban yang terkumpul tahun ini tercatat meningkat dibandingkan Idul Adha tahun sebelumnya. Perusahaan memperkirakan angka tersebut masih dapat bertambah karena proses pendataan partisipasi dari sejumlah unit kerja masih berlangsung hingga mendekati hari raya.

Peningkatan jumlah hewan kurban itu dinilai mencerminkan tingginya antusiasme karyawan untuk terlibat dalam kegiatan sosial keagamaan. Selain menjadi momentum ibadah, kurban juga dipandang sebagai sarana memperkuat solidaritas sosial di kawasan operasional perusahaan perkebunan yang tersebar di berbagai daerah.

Holding Perkebunan Nusantara Terus Dorong Transisi Energi dan Efisiensi, Pabrik Sawit PTPN IV PalmCo Raih PROPER Hijau

JAKARTA — Upaya penguatan praktik keberlanjutan di industri kelapa sawit kembali mendapat pengakuan. Dua unit pabrik milik PTPN IV PalmCo, Subholding PTPN III (Persero), yakni Pabrik Kelapa Sawit (PKS) Sei Mangkei dan PKS Bah Jambi, meraih peringkat Hijau dalam Program Penilaian Peringkat Kinerja Perusahaan (PROPER) periode 2024–2025 yang diselenggarakan Kementerian Lingkungan Hidup.

Penghargaan tersebut diumumkan dalam seremoni di Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta Timur, beberapa waktu lalu. Peringkat Hijau dalam PROPER menunjukkan bahwa perusahaan dinilai telah melampaui standar kepatuhan dasar pengelolaan lingkungan atau beyond compliance.

Direktur Utama PTPN IV PalmCo, Jatmiko K. Santosa, mengatakan capaian ini mencerminkan arah transformasi perusahaan yang semakin menitikberatkan pada efisiensi energi dan penurunan emisi. “Kami berupaya mengoptimalkan pemanfaatan energi terbarukan serta menekan emisi di area produksi. Ini menjadi bagian dari strategi jangka panjang perusahaan,” ujar Jatmiko kepada media, Selasa (05/05/2026).

Salah satu inovasi diterapkan di PKS Sei Mangkei yang berlokasi di Kawasan Ekonomi Khusus Sei Mangkei, Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara. Pabrik ini mengoperasikan fasilitas methane capture yang menangkap gas metana dari limbah cair kelapa sawit (POME) untuk diolah menjadi energi melalui Pembangkit Listrik Tenaga Biogas (PLTBg). Pemanfaatan ini dinilai mampu mengurangi emisi gas rumah kaca sekaligus meningkatkan efisiensi energi internal pabrik.

Sementara itu, PKS Bah Jambi melakukan sejumlah langkah efisiensi operasional, antara lain konversi pompa air berbahan bakar solar menjadi pompa listrik. Berdasarkan data perusahaan, langkah ini menurunkan konsumsi solar secara signifikan, dari 3.695 liter pada 2023 menjadi 2.364,7 liter pada 2024. Selain itu, otomatisasi pada tangki air panas juga diterapkan untuk meningkatkan efisiensi proses produksi.

Dalam pengelolaan limbah padat, kedua pabrik memanfaatkan serat kelapa sawit sebagai bahan bakar untuk pembangkit listrik dan produksi uap. Adapun limbah tandan kosong (jangkos) dimanfaatkan sebagai pupuk organik. Khusus di Bah Jambi, limbah tersebut juga dimanfaatkan bersama masyarakat sekitar sebagai media tanam jamur.

Direktur Strategy & Sustainability PTPN IV PalmCo, Ugun Untaryo, mengatakan perusahaan menargetkan peningkatan kinerja lingkungan di seluruh unit operasional. Saat ini, manajemen menetapkan standar minimal peringkat Biru untuk seluruh pabrik dan kebun. “Kami mendorong lebih banyak unit untuk naik ke peringkat Hijau pada periode berikutnya, bahkan dalam jangka panjang menuju PROPER Emas,” kata Ugun.

Berdasarkan data Rapor Final PROPER 2024–2025, sejumlah unit usaha lainnya di lingkungan PTPN IV PalmCo telah memenuhi standar kepatuhan lingkungan dan meraih peringkat Biru.

Capaian ini menjadi bagian dari upaya industri sawit nasional untuk menjawab tantangan keberlanjutan, di tengah tuntutan global terhadap praktik produksi yang lebih ramah lingkungan.

Dari Kereta hingga Sepeda, Karyawan PalmCo Dukung Kampanye Bebas Emisi Holding Perkebunan Nusantara

JAKARTA – Isu penghematan energi kembali menjadi perhatian di tengah pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Pemerintah mendorong efisiensi konsumsi bahan bakar minyak (BBM), penggunaan transportasi publik, serta perubahan pola mobilitas masyarakat sebagai bagian dari upaya menjaga ketahanan energi nasional.

Sejalan dengan semangat tersebut, Holding Perkebunan Nusantara PTPN III (Persero) melalui subholding PTPN IV PalmCo terus mendorong budaya kerja yang mendukung prinsip keberlanjutan, termasuk melalui kebiasaan sederhana yang dijalankan para karyawannya dalam aktivitas sehari-hari.

Di berbagai wilayah operasional PalmCo, sejumlah karyawan memilih menggunakan moda transportasi yang lebih ramah lingkungan untuk menuju tempat kerja, mulai dari kereta, bus, sepeda, hingga berjalan kaki.

Bagi sebagian karyawan, pilihan tersebut awalnya lahir karena alasan praktis seperti lebih hemat, lebih cepat, atau lebih sehat. Namun dalam keseharian, kebiasaan tersebut juga menjadi bagian dari kontribusi nyata dalam mendukung pengurangan konsumsi BBM dan emisi kendaraan pribadi.

Di Head Office PTPN IV PalmCo, Nabila Shifa menjadi salah satu karyawan yang memilih menggunakan transportasi umum. Setiap hari, ia menempuh perjalanan dari Depok menuju Jakarta menggunakan Commuter Line.

Sebagai warga komuter, Nabila sudah terbiasa dengan rutinitas pagi, mulai dari menuju stasiun, menunggu kereta, hingga melanjutkan perjalanan menuju kantor.

“Awalnya saya menggunakan Commuter Line karena lebih praktis dari Depok ke Jakarta. Tetapi lama-kelamaan saya merasa ini juga menjadi cara sederhana untuk ikut mengurangi penggunaan kendaraan pribadi,” ujar Nabila.

Menurutnya, penggunaan transportasi umum membuat perjalanan lebih terukur dan efisien. “Dengan Commuter Line, saya bisa memperkirakan waktu perjalanan. Biayanya juga lebih efisien. Bagi saya, ini bukan hanya soal berangkat kerja, tetapi juga soal membangun kebiasaan yang lebih bertanggung jawab terhadap energi dan lingkungan,” katanya.

Pilihan serupa juga dilakukan Christovanly, karyawan PTPN IV PalmCo Head Office yang menggunakan TransJakarta sebagai moda transportasi menuju kantor. “TransJakarta sangat membantu mobilitas saya. Selain lebih hemat, saya juga merasa ikut berkontribusi dalam mengurangi kepadatan lalu lintas dan konsumsi BBM,” ujar Christovanly.

Ia menilai perubahan kebiasaan tidak selalu harus dilakukan melalui langkah besar. “Mungkin terlihat sederhana, hanya memilih naik bus. Tapi kalau dilakukan oleh banyak orang, dampaknya akan terasa. Kita bisa ikut mendukung efisiensi energi dari kebiasaan sehari-hari,” katanya.

Sementara itu di PTPN IV Regional III Riau, sejumlah karyawan mulai membiasakan diri menggunakan sepeda untuk berangkat ke kantor melalui Komunitas Gowes Regional III atau Go_R3.

Ketua Go_R3, Hendra, mengatakan minat karyawan untuk bersepeda terus meningkat sejak awal bulan lalu. “Sejak awal bulan lalu, kami melihat semakin banyak karyawan yang menggunakan sepeda ke kantor. Ini perkembangan yang positif karena bersepeda bukan hanya membuat tubuh lebih sehat, tetapi juga menjadi bentuk dukungan terhadap efisiensi energi,” ujar Hendra.

Menurutnya, aktivitas bersepeda juga mempererat kebersamaan antarpegawai di luar ruang kerja formal. “Kami ingin gerakan ini berkelanjutan. Kalau semakin banyak karyawan yang ikut, pesan yang disampaikan juga semakin kuat bahwa kita bisa berkontribusi terhadap penghematan energi mulai dari diri sendiri,” katanya.

Di Medan, karyawan PTPN IV Regional I Rahmad Syahputra memilih berjalan kaki menuju kantor setiap hari sebagai bagian dari kebiasaan hidup sehat. “Bagi saya berjalan kaki ke kantor itu menyenangkan. Saya memang suka olahraga, jadi aktivitas ini sekaligus menjadi cara menjaga kebugaran sebelum mulai bekerja,” ujar Rahmad.

Ia menilai berjalan kaki menjadi pilihan yang efektif selama jarak rumah dan kantor masih memungkinkan. “Kalau jaraknya masih bisa ditempuh dengan berjalan kaki, saya lebih memilih jalan. Lebih sehat, lebih sederhana, dan tentu lebih hemat energi,” katanya.

Hal serupa juga dilakukan Hery Kusdiyanto, karyawan PTPN IV Regional VII Lampung yang rutin berjalan kaki menuju kantor. “Menurut saya berjalan kaki itu lebih hemat. Tidak perlu biaya transportasi, tidak menggunakan BBM, dan badan juga terasa lebih segar,” ujar Hery.

Menurutnya, kebiasaan sederhana tersebut dapat memberikan manfaat nyata bagi kesehatan maupun lingkungan. “Kalau bisa dimulai dari diri sendiri, kenapa tidak? Hal kecil seperti berjalan kaki ternyata memberi manfaat untuk kesehatan dan lingkungan,” katanya.

Berbagai kebiasaan yang dijalankan para karyawan PalmCo tersebut menunjukkan bahwa upaya efisiensi energi dapat dimulai dari langkah-langkah sederhana dalam kehidupan sehari-hari. Mulai dari penggunaan transportasi publik, bersepeda, hingga berjalan kaki, seluruhnya menjadi bagian dari budaya kerja yang mendukung prinsip keberlanjutan dan pengurangan emisi.

Melalui semangat tersebut, Holding Perkebunan Nusantara bersama PTPN IV PalmCo terus mendorong terciptanya lingkungan kerja yang lebih adaptif, sehat, dan berorientasi pada keberlanjutan, sejalan dengan komitmen perusahaan dalam mendukung agenda transisi energi nasional dan pembangunan rendah emisi.

PT Perkebunan Nusantara III (Persero) Dorong Ketahanan Pangan dan Energi melalui Program Pengembangan dan Hilirisasi Ubi Kayu

Jakarta, 20 April 2026 – PT Perkebunan Nusantara III (Persero) terus memperkuat perannya sebagai BUMN strategis dalam mendukung agenda pemerintah yaitu program ketahanan pangan dan energi nasional.

Salah satu langkah konkret yang tengah dipersiapkan adalah pelaksanaan program pengembangan dan hilirisasi komoditas ubi kayu.

Program ini dirancang sebagai model pengembangan terintegrasi dari hulu hingga hilir. Pada sisi on farm, PTPN III (Persero) akan fokus pada optimalisasi lahan, penanaman dan peningkatan produktivitas, serta pengembangan varietas unggul ubi kayu yang adaptif dan memiliki produktivitas tinggi.

Sementara pada sisi off farm, penguatan hilirisasi dilakukan melalui pengembangan industri pengolahan bioetanol melalui kolaborasi operasional dengan mitra pada fasilitas pabrik bioetanol di Lampung.

Denaldy Mulino Mauna, Direktur Utama PTPN III (Persero) dalam sambutannya di acara kick off program hilirisasi di Kantor Holding Jakarta menyampaikan bahwa program ini merupakan langkah strategis perusahaan dalam membangun ekosistem agroindustri masa depan yang terintegrasi, produktif, dan berkelanjutan.

Menurutnya, ubi kayu bukan hanya komoditas pertanian, tetapi memiliki potensi besar sebagai penggerak ekonomi daerah sekaligus penopang kebutuhan nasional di sektor pangan dan energi.

“Kami melihat ubi kayu sebagai komoditas strategis dengan potensi besar untuk pendukung ketahanan energi dan pangan nasional. Karena itu, pengembangannya tidak cukup hanya berhenti pada budidaya, tetapi harus dibangun secara menyeluruh dari hulu sampai hilir. Kami ingin memastikan bahwa peningkatan produksi di tingkat kebun berjalan seiring dengan kesiapan industri pengolahan, sehingga tercipta rantai nilai yang kuat, efisien dan berkelanjutan.” ujar beliau.

Sebagai bentuk komitmen perusahaan, pada tanggal 14–15 April 2026, Direktur Utama PTPN III (Persero) bersama jajaran terkait, melakukan rangkaian pertemuan strategis dengan berbagai pemangku kepentingan di Provinsi Lampung untuk memastikan implementasi.

Pertemuan tersebut melibatkan Gubernur Lampung, masyarakat petani yang tergabung dalam Perkumpulan Petani ubi Kayu Indonesia (PPUKI), serta mitra operasional PT Medco Ethanol Lampung hingga kalangan akademisi di Universitas Lampung.

Sinergi dengan Pemerintah Provinsi Lampung diarahkan untuk memperkuat dukungan kebijakan daerah, percepatan ekosistem investasi, serta pemberdayaan masyarakat di sekitar wilayah pengembangan.

Sementara dialog dengan pelaku usaha dan asosiasi petani diharapkan memperkuat rantai pasok bahan baku serta menciptakan pola kemitraan yang saling menguntungkan antara perusahaan dan petani.

Di bidang riset dan inovasi, kerja sama dengan Universitas Lampung yang akan didampingi oleh PT Riset Perkebunan Nusantara menjadi bagian penting dalam pengembangan varietas unggul serta penerapan teknologi budidaya modern, termasuk uji coba teknik peningkatan produktivitas dengan metode Mukibat.

Pendekatan berbasis ilmu pengetahuan ini diharapkan mampu meningkatkan hasil panen secara berkelanjutan.

Pengembangan pabrik bioetanol di Lampung juga diproyeksikan memberikan multiplier effect yang luas, mulai dari penyerapan tenaga kerja, tumbuhnya ekonomi wilayah, meningkatnya nilai tambah hasil pertanian, hingga terbentuknya ekosistem industri hijau berbasis sumber daya lokal.

Melalui program ini, PTPN III (Persero) menegaskan komitmennya untuk terus menjadi motor penggerak pembangunan sektor agroindustri nasional, menghadirkan manfaat ekonomi bagi masyarakat, sekaligus mendukung target besar Indonesia dalam mewujudkan ketahanan pangan dan energi yang berkelanjutan sesuai dengan Astacita Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia.

Tentang PT Perkebunan Nusantara III (Persero)

PT Perkebunan Nusantara III (Persero) merupakan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang berfokus pada pengelolaan sumber daya perkebunan secara berkelanjutan.

Melalui Rencana Jangka Panjang Perusahaan (RJPP) 2025-2029, PTPN Group berkomitmen meningkatkan nilai bagi pemegang saham serta memperkuat kontribusi terhadap pembangunan ekonomi nasional.

Perusahaan secara aktif mendukung program strategis Pemerintah dalam ketahanan pangan dan energi dengan memacu produktivitas serta kapasitas produksi dalam negeri.

Hal ini diwujudkan melalui penerapan budidaya berbasis teknologi (precision farming), perencanaan berbasis data, percepatan hilirisasi komoditas terintegrasi, serta jalinan kemitraan solid bersama petani plasma.

Hadapi Gejolak Energi Global, Holding Perkebunan Nusantara Andalkan PLTBg PalmCo

JAKARTA – Ketidakpastian harga energi fosil akibat dinamika geopolitik global mendorong pelaku industri mencari strategi alternatif demi menjaga stabilitas operasional. Di sektor perkebunan, langkah antisipatif tersebut telah menunjukkan hasil melalui pemanfaatan energi baru terbarukan berbasis limbah kelapa sawit.

Salah satunya dilakukan oleh PTPN IV PalmCo, Subholding PT Perkebunan Nusantara III (Persero), yang mengoptimalkan pemanfaatan limbah cair kelapa sawit (Palm Oil Mill Effluent atau POME) sebagai sumber energi. Melalui inovasi tersebut, perusahaan mengoperasikan pembangkit listrik tenaga biogas (PLTBg) guna menekan ketergantungan terhadap bahan bakar fosil sekaligus meningkatkan efisiensi operasional.

Direktur Utama PTPN IV PalmCo, Jatmiko K. Santosa, mengatakan bahwa inisiatif tersebut bukan merupakan respons jangka pendek terhadap lonjakan harga energi, melainkan bagian dari strategi jangka panjang perusahaan.

“Gejolak harga energi fosil dunia saat ini justru membuktikan bahwa pengembangan energi terbarukan yang kami lakukan adalah langkah tepat. PLTBg membantu kami mengurangi ketergantungan terhadap solar, sekaligus menjaga efisiensi biaya operasional,” ujar Jatmiko dalam keterangan tertulis, Rabu (15/4/2026).

Saat ini, PalmCo mengoperasikan dua fasilitas pembangkit listrik berbahan baku limbah cair sawit, yakni PLTBg Terantam dan PLTBg Tandun. Keduanya menggunakan teknologi covered lagoon untuk mengolah limbah cair menjadi biogas yang kemudian dikonversi menjadi listrik. Energi yang dihasilkan dimanfaatkan secara langsung untuk mendukung operasional Pabrik Kelapa Sawit (PKS) PPIS Tandun serta mengurangi penggunaan bahan bakar fosil.

Berdasarkan data perusahaan, pemanfaatan energi biogas tersebut telah menggantikan penggunaan genset berbahan bakar solar secara signifikan. Dalam periode 2023 hingga 2025, konsumsi solar berhasil ditekan hingga lebih dari 2,6 juta liter.

Efisiensi tersebut berdampak langsung terhadap kinerja keuangan perusahaan. PalmCo mencatat penghematan biaya energi mencapai sekitar Rp39,5 miliar dalam tiga tahun terakhir.

Direktur Strategy & Sustainability PalmCo, Ugun Untaryo, menilai pemanfaatan POME sebagai sumber energi juga mencerminkan penerapan prinsip keberlanjutan di industri sawit.

“Ini bukan sekadar efisiensi, tetapi bagian dari ekonomi sirkular. Limbah cair yang sebelumnya menjadi tantangan lingkungan kini kami olah menjadi sumber energi yang bernilai,” kata Ugun.

Ia menjelaskan, pada tahun lalu kedua fasilitas PLTBg tersebut mampu mengolah lebih dari 293.000 meter kubik limbah cair. Dari proses tersebut dihasilkan jutaan meter kubik gas metana yang dimanfaatkan sebagai energi sekaligus mencegah pelepasan emisi gas rumah kaca ke atmosfer.

Langkah ini dinilai sejalan dengan upaya global dalam menekan emisi dan mempercepat transisi energi. Pemanfaatan limbah sebagai sumber listrik tidak hanya menjaga efisiensi operasional, tetapi juga memperkuat ketahanan energi sektor industri.

Sebagai bagian dari Holding Perkebunan Nusantara, PTPN IV PalmCo terus mendorong pengembangan energi berbasis limbah sebagai strategi keberlanjutan sekaligus peningkatan daya saing industri perkebunan nasional.

Dengan capaian tersebut, model pengelolaan energi berbasis limbah yang dikembangkan PalmCo berpotensi menjadi rujukan bagi industri perkebunan dalam menghadapi dinamika energi global secara berkelanjutan.

Holding Perkebunan Nusantara Dorong Kinerja Kopi PalmCo Tetap Solid di Tengah Tekanan Cuaca

JAKARTA — PT Perkebunan Nusantara IV PalmCo yang merupakan bagian dari Holding Perkebunan Nusantara mencatatkan kinerja positif pada segmen komoditas kopi di tengah tantangan anomali iklim pada awal 2026. Tingginya curah hujan yang memengaruhi ritme produksi tidak menghalangi perusahaan untuk tetap membukukan laba pada triwulan I 2026.

Subholding PTPN III (Persero) tersebut mencatat laba sebelum pajak dari komoditas kopi sebesar Rp3,43 miliar pada triwulan I 2026. Capaian ini diraih di tengah keputusan manajemen untuk menunda panen raya guna menjaga kualitas biji kopi.

Direktur Utama PTPN IV PalmCo, Jatmiko K. Santosa, mengatakan peningkatan kinerja terutama ditopang oleh lonjakan penjualan yang signifikan pada awal tahun.

“Penjualan meningkat cukup tinggi. Di saat yang sama, kami tetap menjaga arus kas operasional agar tetap sehat,” ujar Jatmiko, Selasa (7/4/2026).

Data perusahaan menunjukkan penjualan bersih kopi hampir berlipat ganda secara tahunan. Pada triwulan I 2025, penjualan tercatat Rp10,94 miliar, sementara pada periode yang sama tahun ini meningkat menjadi Rp21,78 miliar.

Kendati demikian, peningkatan penjualan tidak sepenuhnya diikuti lonjakan laba operasional. EBITDA tercatat sebesar Rp3,70 miliar per Maret 2026, sedikit menurun dibandingkan Rp3,82 miliar pada periode yang sama tahun lalu. Meski demikian, perusahaan menilai kemampuan menghasilkan kas masih relatif terjaga.

Panen Diundur, Mutu Dijaga

Di balik capaian finansial tersebut, perusahaan menghadapi tantangan di sisi hulu. Curah hujan tinggi menyebabkan berkurangnya intensitas penyinaran matahari yang dibutuhkan tanaman kopi untuk proses fotosintesis dan pematangan buah.

Akibatnya, buah kopi atau cherry berkembang lebih lambat dari biasanya. Kondisi ini terjadi di sejumlah wilayah operasional utama.

Di kawasan Java Coffee Estate (JCE) di lereng Dataran Ijen, Jawa Timur, misalnya, curah hujan mencapai 120 milimeter dengan 21 hari hujan sepanjang triwulan pertama. Sementara itu, di wilayah Jambi, tercatat curah hujan 57 milimeter dengan 10 hari hujan.

Manajer KSO Java Coffee Estate, Hastudy Yunarko, menjelaskan bahwa kondisi tersebut membuat perusahaan harus mengambil langkah antisipatif.

“Kalau panen dipaksakan saat buah belum matang sempurna, kualitas seduhan kopi akan turun. Itu berisiko terhadap standar mutu produk,” kata Hastudy.

Karena itu, manajemen memutuskan untuk menggeser jadwal panen raya ke Mei 2026 sesuai dengan potensi kematangan kopi cherry merah secara alami. Langkah ini dinilai memberi waktu tambahan bagi buah kopi untuk mencapai tingkat kematangan optimal.

Menurut Hastudy, keputusan tersebut merupakan bagian dari strategi menjaga kualitas di tengah tekanan faktor cuaca. “Kami memilih menunggu agar kualitas tetap terjaga saat produk masuk ke pasar,” ujarnya.

Di tengah dinamika iklim yang semakin sulit diprediksi, pelaku industri perkebunan dituntut lebih adaptif. Bagi PTPN IV PalmCo, menjaga keseimbangan antara kuantitas produksi dan kualitas hasil menjadi kunci untuk mempertahankan kinerja sekaligus menjaga daya saing kopi di pasar.

Penguatan Budaya Kerja di Holding Perkebunan Nusantara, KPBN Raih Pengakuan Agro Culture 2025

Jakarta – PT Kharisma Pemasraan Bersama Nusantara (PT KPBN), yang merupakan bagian dari ekosistem Holding Perkebunan Nusantara PTPN III (Persero), meraih penghargaan sebagai Unit Kerja Terbaik III Kategori Anper Non PTPN dalam Implementasi Agro Culture Monitoring System Tahun 2025.

Penghargaan ini diberikan sebagai bentuk apresiasi atas komitmen PT KPBN dalam mengimplementasikan budaya perusahaan secara konsisten dan berkelanjutan di lingkungan kerja. Capaian tersebut mencerminkan keseriusan perusahaan dalam menanamkan nilai-nilai budaya kerja sebagai fondasi utama dalam mendukung kinerja organisasi.

Momentum tersebut ditandai dengan penyerahan piagam penghargaan yang diterima oleh perwakilan PT KPBN, didampingi oleh SEVP Business Support, Bagian SDM & Umum, serta para Change Agent PT KPBN yang selama ini berperan aktif dalam mendorong transformasi budaya perusahaan.

SEVP Business Support PT KPBN, Indaruwati Trivista Andarini, menyampaikan harapannya agar pencapaian ini tidak hanya menjadi kebanggaan, tetapi juga menjadi pemicu semangat bagi seluruh insan perusahaan untuk terus memperkuat implementasi budaya kerja.

Ia berharap nilai-nilai budaya perusahaan dapat semakin terinternalisasi dalam setiap aktivitas kerja, sehingga mampu mendorong peningkatan kinerja, produktivitas, serta menciptakan lingkungan kerja yang positif dan adaptif.

Capaian ini merupakan hasil dari sinergi dan kolaborasi seluruh insan perusahaan dalam menginternalisasi nilai-nilai budaya kerja secara berkelanjutan. Hal tersebut menjadi bukti nyata komitmen PT KPBN dalam mendukung peningkatan kinerja dan produktivitas perusahaan.

Sejalan dengan arah transformasi Holding Perkebunan Nusantara, penguatan budaya perusahaan menjadi salah satu pilar penting dalam membangun organisasi yang unggul, adaptif, dan berdaya saing.

Manajemen PT KPBN juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh karyawan yang telah berperan aktif dalam menjalankan program budaya perusahaan. Diharapkan pencapaian ini dapat menjadi motivasi untuk terus meningkatkan kualitas implementasi budaya kerja di masa mendatang.

Holding Perkebunan Nusantara Wujudkan Kepedulian Sosial melalui Program CSR PT KPBN di Kelurahan Cikini 

Jakarta — PT Kharisma Pemasaran Bersama Nusantara (KPBN) salah satu entitas dari Holding Perkebunan Nusantara PTPN III (Persero) menyalurkan bantuan Corporate Social Responsibility (CSR) berupa 100 paket sembako kepada masyarakat melalui Kelurahan Cikini, Jakarta, pada Rabu (11/03/2026).

Program ini merupakan wujud komitmen perusahaan dalam menjalankan tanggung jawab sosial sekaligus memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat di sekitar wilayah operasional.

Setiap paket sembako yang disalurkan berisi berbagai kebutuhan pokok, antara lain tepung terigu, gula, minyak goreng, kecap, mi instan, biskuit, susu kental manis, sarden, kopi, serta teh. Bantuan tersebut diharapkan dapat membantu memenuhi kebutuhan sehari-hari masyarakat, khususnya bagi warga yang membutuhkan.

Bantuan diserahkan secara simbolis kepada Lurah Cikini, Redy Firmansyah Sukma Perdana, yang didampingi oleh para penerima manfaat yang terdiri dari petugas kebersihan lingkungan serta anggota Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (PKK) Kelurahan Cikini.

Dalam sambutannya, Redy menyampaikan apresiasi atas kepedulian dan kontribusi yang diberikan oleh PT KPBN kepada masyarakat di wilayahnya. “Kami sangat mengapresiasi bantuan yang diberikan oleh PT KPBN kepada warga Kelurahan Cikini. Bantuan ini tentu sangat bermanfaat dalam membantu memenuhi kebutuhan masyarakat sehari-hari. Semoga PT KPBN senantiasa sukses dan terus menghadirkan program-program yang memberikan dampak positif bagi masyarakat,” ujarnya.

Melalui kegiatan ini, PT KPBN bersama Holding Perkebunan Nusantara menegaskan komitmennya untuk terus menghadirkan program-program sosial yang memberikan manfaat langsung bagi masyarakat serta memperkuat hubungan yang harmonis dengan lingkungan sekitar.

Ke depan, perusahaan akan terus mendorong pelaksanaan program tanggung jawab sosial yang berkelanjutan sebagai bagian dari kontribusi dalam mendukung peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Holding Perkebunan Nusantara Percepat Hilirisasi Sawit, PalmCo Siap Groundbreaking Fasilitas Baru Pasca Lebaran

Jakarta — PT Perkebunan Nusantara (PTPN) IV PalmCo, subholding dari Holding Perkebunan Nusantara PTPN III (Persero) mempercepat langkah hilirisasi industri kelapa sawit nasional pasca periode Lebaran. Perusahaan bersiap memulai pembangunan (groundbreaking) fasilitas pengolahan sawit terpadu di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Sei Mangkei, Sumatera Utara.

Direktur Utama PTPN IV PalmCo, Jatmiko K. Santosa, menyampaikan bahwa rencana pembangunan tersebut merupakan bagian dari arah strategis perusahaan yang sejalan dengan kebijakan hilirisasi nasional, termasuk arahan dari Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara).

“Program ini menjadi bagian dari ekosistem hilirisasi yang lebih luas, tidak hanya di sektor sawit, tetapi juga berbarengan lintas sektor sebagaimana diarahkan Danantara,” ujarnya kepada media, Selasa (24/03/2026).

Meski demikian, ia menegaskan bahwa pelaksanaan groundbreaking masih menunggu keputusan pemegang saham dan diproyeksikan dapat dilakukan dalam waktu dekat setelah periode Lebaran. “Secara kesiapan kami sudah matang. Tinggal menunggu keputusan pemegang saham, dan kami estimasikan bisa dilakukan pasca-Lebaran ini,” katanya.

Dalam pengembangan bisnisnya, PalmCo kini menggeser fokus dari sekadar produksi dan ekspor Crude Palm Oil (CPO) menjadi pengembangan produk turunan dengan nilai tambah tinggi. Salah satu contoh yang disampaikan adalah pengolahan tandan buah segar (TBS) menjadi produk lanjutan seperti Bio Propylene Glycol (BioPG) yang mampu meningkatkan nilai ekonomi secara signifikan. “Nilai tambah dari hilirisasi ini bisa meningkat hingga belasan kali lipat. Ini yang menjadi dorongan utama kami,” ujar Jatmiko.

Pada tahap awal, PalmCo akan membangun sejumlah fasilitas utama yang ditargetkan mulai beroperasi secara bertahap pada akhir tahun 2028. Fasilitas tersebut meliputi pabrik margarin dan shortening dengan kapasitas sekitar 40.000 ton per tahun, serta pabrik Cocoa Butter Equivalent (CBE) dan Cocoa Butter Substitute (CBS) dengan kapasitas sekitar 34.000 ton per tahun.

Selain itu, perusahaan juga akan mengembangkan fasilitas pengolahan lanjutan lainnya untuk memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok global produk berbasis sawit. Pembangunan pabrik biodiesel dengan kapasitas sekitar 450.000 ton per tahun turut direncanakan pada tahap berikutnya guna mendukung ketahanan energi nasional.

Proyek hilirisasi ini diproyeksikan memberikan dampak ekonomi yang luas, termasuk dalam penyerapan tenaga kerja. Pada fase konstruksi hingga operasional penuh, jumlah tenaga kerja yang terserap diperkirakan mencapai sekitar 2.900 orang. “Ini bukan hanya proyek industri, tetapi juga upaya menggerakkan ekonomi daerah dan menciptakan pertumbuhan yang lebih merata,” kata Jatmiko.

Selain penyerapan tenaga kerja langsung, keberadaan kawasan industri ini juga diharapkan memicu efek berganda bagi sektor lain, seperti logistik serta usaha kecil dan menengah di sekitar kawasan.

Dari sisi hulu, kehadiran fasilitas hilirisasi ini juga diharapkan memberikan kepastian pasar bagi petani sawit rakyat. PalmCo memproyeksikan bahwa pada tahun 2030 fasilitas tersebut mampu menyerap hingga 2,7 juta ton TBS per tahun, atau setara sekitar 567.000 ton CPO. “Dengan hilirisasi ini, kami ingin memastikan hasil produksi petani terserap secara berkelanjutan. Ini penting untuk menjaga stabilitas ekosistem sawit nasional,” ujarnya.

Melalui integrasi dari hulu hingga hilir serta dukungan kebijakan nasional, PTPN IV PalmCo optimistis proyek ini akan menjadi tonggak penting dalam mendorong transformasi industri kelapa sawit Indonesia menuju produk bernilai tambah tinggi, sekaligus memperkuat kontribusi Holding Perkebunan Nusantara dalam pembangunan ekonomi nasional yang berkelanjutan.