Politik Santun, Menang Tanpa Balas Dendam

Kota Langsa – Politik itu mirip jalanan di Kota Langsa pas saat jam sibuk. Kalau semua orang ngebut, serobot, dan bunyikan klakson buat balas dendam ke pengendara lain yang nyalip duluan, yang ada malah macet total. Semua capek, semua rugi. Tapi kalau satu-dua mulai kasih jalan, senyum, dan tetap taat lampu merah, pelan-pelan arus jadi lancar. Sampai tujuan juga bareng-bareng.

Sayangnya, banyak yang masih menganggap politik itu ring tinju. Ada dendam lama, dicari panggung buat bales. Lawan salah dikit, langsung dihajar habis-habisan di medsos. Aib pribadi diumbar, prestasi dicuekin.

Padahal kita pilih pemimpin bukan buat jadi jagoan berantem, tapi buat nyari jalan keluar masalah kita: jalan berlubang, harga beras, lapangan kerja.

Orang santun bukan berarti diem kalau dizalimi. Tapi dia pilih “gelut” di ide, bukan di caci maki. Kritik boleh pedas, tapi bumbunya data. Nyerang kebijakan, bukan nyerang keluarga. Soalnya dendam itu kayak minum racun tapi berharap orang lain yang mati. Yang habis energi kita sendiri.

Demokrasi, kasih kita hak beda pilihan. Tapi etika mengajarkan kita caranya beda tanpa berantem. Ibarat main bola, tekel boleh, tapi nggak boleh sengaja patahin kaki lawan. Kalah-menang wajar, tapi selesai peluit tetap salaman. Besok ketemu di warung kopi ya ngobrol biasa lagi. Jangan gara-gara beda bendera, beda pilihan, silaturahmi putus.

Politik santun nggak maksud semua orang jadi satu suara. Itu malah bahaya. Beda pendapat itu pupuk buat demokrasi. Yang penting, bedanya di kepala, bukan di hati. Kita bisa nggak setuju sama pilihan orang, tapi tetap nganterin kalau dia sakit. Bisa debat panas di balai desa, tapi pas rewang nikahan ya ikut angkat-angkat kursi bareng.

Balas dendam di politik itu mahal ongkosnya. Hari ini kita ketawa karena lawan jatuh, besok giliran kita yang dijegal. Lingkaran setan, nggak ada habisnya. Sementara rakyat menunggu, kapan sawah diairi, kapan anak dapat sekolah bagus, kapan warga keadilan dan penghasilan yang layak.

Jadi, politik santun itu simpel, berani tarung gagasan, tapi nggak kehilangan kemanusiaan. Menang boleh, tapi jangan bikin orang lain hancur lebur. Kalah pun nggak apa, asal harga diri dan hubungan tetangga tetap utuh terjaga.

Politik santun juga harus dimulai dari masyarakatnya. Kita perlu belajar membedakan antara lawan politik dan musuh. Dalam demokrasi, lawan politik adalah pihak yang memiliki gagasan berbeda, bukan orang yang harus dibenci. Hari ini seseorang bisa menjadi lawan dalam sebuah kontestasi, tetapi besok ia bisa menjadi mitra dalam membangun daerah dan bangsa.

Karena itu, menjaga hubungan baik setelah kompetisi berakhir merupakan bentuk kedewasaan politik yang sangat penting.

Pada akhirnya, demokrasi yang kuat tidak dibangun oleh kemenangan satu kelompok atas kelompok lain.

Demokrasi tumbuh ketika semua pihak bersedia menghormati aturan, menghargai perbedaan, dan menempatkan kepentingan masyarakat di atas kepentingan pribadi maupun kelompok. Politik yang dipenuhi dendam hanya akan melahirkan siklus konflik yang tidak pernah selesai. Sebaliknya, politik santun akan membuka jalan bagi dialog, kerja sama, dan kemajuan bersama.

Bangsa ini membutuhkan lebih banyak teladan tentang bagaimana berpolitik dengan bermartabat. Menang tanpa merendahkan, kalah tanpa memusuhi, mengkritik tanpa menghina, dan memimpin tanpa membalas dendam. Sebab pada akhirnya, kekuasaan hanyalah titipan yang bersifat sementara, sedangkan persaudaraan dan persatuan bangsa adalah warisan yang harus dijaga selamanya.

Politik santun bukan tanda kelemahan. Politik santun adalah tanda kedewasaan. Demokrasi yang dewasa hanya dapat lahir dari mereka yang memilih merangkul, bukan membalas memukul.

Karena ujung-ujungnya, setelah baliho diturunin dan panggung dibongkar, kita tetap hidup bertetangga. Anak kita main bareng, kita kondangan ke rumah yang sama. Jangan sampai gara-gara 5 tahun sekali, kita musuhan seumur hidup.

Mau pilih siapa itu hak. Tapi cara kita berpolitik nunjukin siapa kita sebenarnya. Pilih jadi bensin, atau pilih jadi air. Dendam itu bensin: sekali percik, kebakar semua. Santun itu air: bisa padamin api, bisa juga numbuhin padi, untuk kehidupan bersama.

Gimana, masih kah mau balas dendam Politik.?

Opini, Selasa, 2 Juni 2026. Penulis; Taufiqurrahman, S.Hi, Ketua Bawaslu Kota Langsa, Mantan Wartawan Cnn Indonesia.

Ide Inspirasi: Hamil Bawa Berkah, Jurus Jitu Usir Kemiskinan!

Banda Aceh – Bagaimana jika kehamilan seseorang bisa jadi jalan rezeki buat tetangga kita yang kesulitan?. Inilah ide sederhana namun penuh makna: “Kambing Berkah”.

Bayangkan, setiap ada ibu hamil yang baru diketahui melalui Posyandu, perangkat desa segera mendata dan membeli dua ekor kambing muda senilai Rp 1 juta tiap ekornya. Kambing ini lalu dipercayakan kepada keluarga miskin di desa untuk dipelihara hingga ibu tersebut melahirkan.

Tenang, kandangnya desa yang siapkan di balai desa dari Dana Desa, sehingga tidak memberatkan keluarga miskin.

Mengapa harus di Balai Desa atau tempat lain milik desa?, adalah agar setiap penduduk lain juga berkesempatan membantu memberi pakan (meskipun kambing tersebut sudah diserahkan tanggung jawab pemeliharaan dan penggemukannya kepada keluarga miskin), fungsi ini untuk menguatkan rasa tanggung jawab sosial dan kepedulian bersama.

Setelah bayi lahir, kambing-kambing tersebut dijual sebagai hewan aqiqah. Kalau awalnya harga beli kambing hanya Rp 1 juta, setelah dipelihara beberapa bulan bisa dijual Rp 3 juta.

Artinya, keluarga miskin mendapatkan tambahan penghasilan sebesar Rp 2 juta per kelahiran! Modal awal dikembalikan lagi ke desa untuk menjadi modal berjalan selanjutnya.

Tidak berhenti di situ, jika bayi yang lahir perempuan, satu kambing tersisa bisa dialihkan untuk acara sunatan atau qurban di Idul Adha nanti.

Nah, perangkat desa harus kreatif mendata juga warga yang berencana mengadakan hajatan sunatan atau yang ingin berkurban di tahun tersebut, sehingga kambing selalu tersedia dan keluarga miskin terus mendapat manfaat.

Mari bayangkan, dalam setahun, setiap keluarga miskin bisa merawat minimal 6 ekor kambing setiap tahun, baik untuk keperluan aqiqah, qurban atau hajatan sunat.

Setiap desa yang rutin menjalankan program ini akan membantu keluarga miskin mendapat tambahan pendapatan setidaknya Rp. 12 juta setahun, hal ini tentu akan sangat membantu keluarga miskin mendapat aktivitas produktif tambahan di luar aktivitas utamanya.

Sekarang kalikan dengan jumlah desa di Aceh, betapa besar dampaknya terhadap pengurangan angka kemiskinan di Aceh!. Ide ini sangat sederhana, ringan, dan bisa langsung diterapkan.

Hanya butuh komitmen, kreativitas perangkat desa dalam pendataan, dan pemanfaatan Dana Desa secara bijak. Desa-desa akan makmur, tradisi seperti aqiqah, sunatan, dan qurban juga semakin hidup.

Ayo bergerak sekarang! mulai dari desa anda sendiri. Karena perubahan besar dimulai dari ide sederhana yang dijalankan dengan hati.

Penulis: Safuadi Harun, Pengamat Ekonomi dan Pembangunan Aceh.