MENU

Sekolah Lapangan Ketahanan Ekologis Dan Ekonomi Di Hulu DAS Meureubo Digelar

3 menit membaca View : 110
Admin
Berita - 13 Jun 2026

A1news.co.id|Takengon – LIPGA kembali memfasilitasi Kegiatan Sekolah Lapangan dengan Peserta Kelompok Tani Hutan (KTH) Gayo Forest Natural Park (GFNP) Kabupaten Aceh Tengah

Sunardi Gustiawan selaku Direktur Eksekutif LIPGA mengatakan sebelum sekolah lapangan ini digelar, LIPGA dan KTH GFNP sudah melakukan pemetaan partisipatif, observasi tanah di 40 titik, lokakarya perencanaan kolaboratif yang juga melibatkan Dinas Perkebunan, Bappeda dan Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) VI.

Hasilnya, disepakati bahwa dari total luas Blok Pemanfaatan 183 hektare, 30 hektare akan difokuskan sebagai Kebun induk kopi Arabika. Sisanya akan ditanami komoditas pendukung seperti alpukat, jeruk, dan tanaman hortikultura berumur pendek.

 

Kegiatan ini dihadiri Ketua GFNP Malio Adna, Anggota GFNP diantaranya Wih Ruhdi Batin, Zam Zam Mubarak, Iskandar dan lainnya.. Kegiatan sekolah lapangan ini merupakan bagian dari rangkaian program “Pemetaan Partisipatif dan Sekolah Lapangan sebagai Fondasi Ketahanan Ekologis dan Ekonomi di Hulu DAS Meureubo”. Yang didukung pendadaan dari Nusantara Fund dan WALHI Aceh.

Zulfikar Ahmad, Aman Dio selaku narasumber pertama memaparkan dengan lugas tentang konsep “Pertanian Presisi dan Regeneratif” sebuah pendekatan yang selama ini mungkin hanya terdengar asing di telinga para petani kopi Gayo.

 

“Bertani sekarang tidak boleh asal-asalan,” tegas Zulfikar di hadapan peserta. “Kita harus tepat ukuran, tepat lokasi, tepat waktu, dan tepat jumlah. Tapi yang paling penting, tanah kita harus sehat. Kalau tanah sehat, kopi akan berbicara sendiri dengan kualitasnya.”

Ia menjelaskan bagaimana kondisi lahan KTH GFNP yang didominasi lereng curam (66,8 persen dengan kemiringan 16-25 persen) serta jenis tanah Podsolik Merah Kuning, Latosol, dan Litosol yang cenderung asam, menuntut strategi khusus.

 

Bukan dengan pupuk kimia yang mahal dan merusak, melainkan dengan konservasi tanah, rorak, teras kontur, dan pemanfaatan bahan organik lokal.

 

Narasumber Kedua Dari Teori ke Praktik : Sentuhan Ahli di Lapangan Bapak Zaini, seorang praktisi kopi, ketua yayasan coffe learning center yang juga petani berpengalaman.

 

Dengan gerakan lincah dan sesekali guyonan khas Gayo, ia menunjukkan bagaimana membuat lubang resapan (rorak) yang benar, mencampur pupuk kompos dari kotoran ternak dan daun kering, hingga cara menanam tanaman penutup tanah (cover crop) di sela-sela kopi.

 

“Ini bukan sekadar teori Pak Guru, ini yang kita tunggu-tunggu!” seru salah seorang anggota KTH sambil tertawa, ketika Pak Zaini menyampaikan manfaat dan beberapa teknik memangkas cabang kopi yang benar.

 

Para petani yang hadir terlihat antusias. Mereka tidak hanya duduk mendengar, tetapi aktif bertanya, dan saling berdiskusi. Bagi mereka, sekolah lapangan ini bukan sekadar acara pelatihan biasa. Ini adalah momen pencerahan.

 

Harapan Besar Menuju Kebun Induk 30 Hektare, semangat para petani Gayo untuk mengelola hutan lindung secara berkelanjutan sudah terasa.

 

Mereka tidak lagi ingin menjadi penonton di lahannya sendiri. Mereka ingin menjadi pelaku utama dalam menjaga “paku bumi” DAS Meureubo sekaligus menuai hasilnya untuk kesejahteraan bersama.(*)

 

 

Bagikan Disalin

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *